Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryMar 13, '12 9:28 AM
for everyone

Bumi : Episode 16

 

“Selamat pagi, Ra?” Mama sedang menggoreng sosis saat aku menuruni anak tangga, menyapaku, tertawa kecil, “Wah, ini rekor baru Ra bangun pagi. Jam segini malah sudah siap berangkat sekolah.”

“Pagi, Ma.” Aku menjawab pendek, menarik kursi, meletakkan tas.

“Tidur nyenyak, Ra?” Perhatian Mama kembali ke wajan, tidak menunggu jawabanku, “Hujan deras semalaman selalu bikin nyenyak tidur ya.”

Aku menghela nafas pelan, menatap punggung Mama yang asyik meneruskan menyiapkan sarapan. Sebenarnya aku tidak bisa tidur tadi malam. Siapa yang bisa tidur nyenyak setelah tiba-tiba ada sosok tinggi kurus berdiri di dalam cermin kamar kalian? Bicara panjang lebar tentang hal-hal yang tidak aku mengerti, penuh misteri.

Belum lagi si Hitam. Itu yang paling susah membuatku tidur—tidak peduli seberapa manjur suara hujan mampu meninabobokan. Bagaimana kalian akan tidur jika di atas kasur, meringkuk kucing kesayangan kalian, yang ternyata selama ini tidak terlihat oleh siapapun, yang ternyata bisa menembus cermin, dan itu belum cukup, yang ternyata juga memata-matai kalian selama enam tahun terakhir. Itu mimpi buruk yang nyata, meskipun si Hitam sebenarnya terlihat biasa-biasa saja, dia menatapku dengan bola mata bundar bercahaya, manja menempelkan badannya yang berbulu tebal ke betis, meringkuk tidur.

Setengah jam sejak sosok tinggi kurus itu pergi. Situasi ganjil di kamarku masih tersisa pekat, aku menatap si Hitam dengan kepala sesak oleh pikiran. Sikapuku jelas berbeda dengan kalau aku tahu si Hitam minggat memang karena naksir kucing tetangga. Tanganku gemetar berusaha menyentuh kepala si Hitam, kucing itu mengeong pelan, menatapku, sama persis seperti kelakuan kucing kesayanganku selama ini. Aku terdiam, lihatlah si Hitam amat nyata, sama nyatanya dengan si Putih yang sejak tadi terus tidur, tidak merasa terganggu dengan keributan, aku menggigit bibir, bagaimana mungkin si Hitam ‘mahkluk lain’? Bagaimana mungkin matanya yang indah itu ternyata mengawasiku selama ini? Bagaimana mungkin dia kucing paling aneh sedunia, bukan hanya karena tidak ada yang melihatnya, tapi boleh jadi dia juga punya rencana-rencana di kepalanya. Melaporkan kepada dunia lain?

“Loh, Ra, kok malah melamun?” Mama menumpahkan sosis matang ke piring di atas meja, “Pagi-pagi sudah melamun. Itu tidak baik untuk anak gadis.”

Aku menggeleng, tersenyum kecut.

“Papa semalam baru pulang jam sepuluh. Larut sekali.” Mama memberitahuku—yang aku juga sudah tahu, “Pekerjaan kantor Papa semakin menumpuk. Seperti biasa, sibuk berat.” Hanya itu penjelasan Mama.

Aku mengangguk.

“Mama senang, dua hari terakhir Ra selalu siap sekolah sebelum Papa berangkat. Jadi Ra tidak perlu Mama teriakin bergegas bangun.” Mama menatapku, tersenyum, tangannya masih memegang wajan kosong, “Kita semua harus mendukung Papa di masa-masa sibuknya. Mama, juga Ra, ya.”

“Iya, Mam.” Aku menjawab pendek.

“Ra mau sarapan duluan?”

“Nanti saja, Mam. Nunggu Papa turun.”

Mama mengangguk, kembali ke kompor gas, melanjutkan aktivitas masak-memasaknya.

Aku menatap lamat-lamat piring berisi sosis di hadapanku, menghembuskan nafas pelan.

Tadi malam, berkali-kali aku menatap si Hitam—aku urung mengelus bulu tebalnya, membiarkan dia meringkuk tanpa diganggu. Berkali-kali menatap cermin besar, memastikan tidak ada siapapun lagi di dalamnya yang tiba-tiba menyapa. Berkali-kali meletakkan telapak tangan di wajah, mengintip dari sela jemari, siapa tahu sosok tinggi kurus itu ada di dalam kamarku, hanya kosong, tetap tidak ada siapa-siapa. Bahkan aku yang bosan tidak bisa tidur-tidur juga, memutuskan beranjak duduk, teringat percakapan dengan sosok itu, menatap novel tebal di atas kasur. Menghela nafas. Konsentrasi, berkali-kali menyuruh novel itu menghilang—lima belas menit berlalu, novel tebal itu tetap teronggok bisu.

Akhirnya aku menarik selimut lagi, berusaha tidur. Hingga jatuh tertidur pukul dua malam. Di luar sana, hujan deras terus menyiram kota. Lampu seluruh kota terlihat kerlap-kerlip oleh tetes air. Hening. Syahdu. Hanya irama konstan dari air yang menerpa atap, jalanan, pohon.

Aku terbangun mendengar kesibukan Mama di dapur. Melihat jam di dinding, jam lima, rasanya baru sebentar sekali aku tidur. Memutuskan turun dari ranjang, memulai aktivitas pagi. Di luar hujan sudah reda, masih gelap, menyisakan halaman rumput yang basah. Si Putih mengeong riang, menyapa. Aku balas menyapa, “Pagi, Put.” Tapi tidak ada si Hitam, kucingku yang satunya itu—jika aku masih bisa menyebutnya ‘kucingku’—tidak terlihat di kamarku. Aku merapikan poni rambut yang berantakan di dahi, menatap cermin, tidak ada hal yang ganjil di dalamnya. Memeriksa kamar, si Hitam tetap tidak kelihatan. Aku menggaruk rambut, sebaiknya aku mandi dan bersiap berangkat sekolah.

“Eh, Ra? Jerawatmu sudah hilang, ya?” Seruan Mama sedikit mengagetkan.

Aku mendongak, entah sejak kapan, Mama sudah berdiri di hadapanku, tangannya memegang wajan kosong yang habis menggoreng telur dadar. Aku tadi pasti lagi-lagi melamun.

“Wah, benar-benar hilang, ya? Ra pencet? Tapi kenapa tidak ada bekasnya? Ra obatin dengan apa?” Mama tertarik ingin tahu.

“Nggak tahu, Mam. Hilang begitu saja.”

“Hilang begitu saja?” Mama tertawa antusias, “Wah, ini hebat, Ra. Hanya satu malam jerawat sebesar itu sembuh. Ra kasih obat apa, sih? Kita bisa buka klinik khusus jerawat, loh. Mahal bayarannya, nanti Mama suruh Tante-mu bantuin cari modal, dia relasinya kan luas.”

Aku tersenyum kecut menatap Mama—yang biasa berlebihan kalau sedang semangat. Andaikata Mama tahu kalau jerawatku itu memang benaran hilang begitu saja saat aku suruh menghilang, Mama boleh jadi berteriak kencang, panik. Mama tidak pernah suka cerita horor, kejadian penuh misteri, dan sejenisnya.

“Pagi, Ra, Mam.” Papa ikut bergabung, menyapa, menghentikan kalimat rencana-rencana Mama tentang klinik jerawat, “Ternyata Papa terakhir yang bergabung ke meja makan. Padahal tadi Papa sudah mandi ngebut sekali, loh.”

Aku dan Mama menoleh. Papa sudah rapi.

“Kalian sedang membicarakan apa?”

“Jerawat, Ra, Pa.” Mama tertawa.

“Ohya, Ra jerawatan lagi? Seberapa besar?” Papa ikut tertawa.

Sarapan segera berlangsung dengan trending topic: jerawatku.

Sempat diseling Papa bertanya soal mesin cuci baru yang diganti, Mama bilang sejauh ini penggantinya tidak bermasalah. Mama juga sempat bilang tentang rencana arisan keluarga minggu depan di rumah. Papa diam sejenak, mengangguk, “Semoga minggu depan Papa sudah tidak terlalu sibuk lagi di kantor, Mam, jadi bisa membantu.” Melirikku sekilas. Aku tidak ikut berkomentar, aku tahu—maksud kalimat Papa sebenarnya adalah semoga masalah mesin pencacah raksasa di pabrik sudah beres.

Lima belas menit sarapan usai, aku berpamitan dengan Mama, duduk rapi di jok belakang, Papa mengemudikan mobil melewati jalanan yang masih sepi. Baru pukul enam, itu berarti jangan-jangan aku orang pertama lagi yang tiba di sekolah.

“Bagaimana sekolahnya, Ra?” Papa bertanya, di depan sedang lampu merah.

“Seperti biasa, Pa.” Aku menjawab pendek. Menatap langit mendung, ribuan burung layang-layang terbang memenuhi atas kota, sepertinya selama ini aku mengabaikan pemandangan itu.

“Kau tidak punya sesuatu yang seru hendak diceritakan ke Papa, Ra.” Papa menoleh, mengedipkan mata, timer lampu merah masih lama, “Selain soal jerawat?”

“Eh, tidak ada, Pa.” Aku menggeleng.

“Sungguhan tidak ada?” Papa tetap antusias.

Aku menggeleng lagi. Aku tahu, Papa sedang mencari topik pembicaraan, lantas memberikan nasehat yang nyambung dengan topik itu, menasehati putri remajanya.

Papa kembali memperhatikan ke depan, aku menatap jalanan dari balik jendela. Teringat percakapan dengan sosok tinggi kurus tadi malam. Itu benar, bertahun-tahun aku mampu menyimpan rahasia itu sendirian. Tidak bocor sedikit pun, tidak tampias satu tetes pun. Aku tidak pernah membicarakannya ke Papa dan Mama. Dan mereka dengan sendirinya, terbiasa, selalu punya penjelasan sederhana setiap melihat hal ganjil di rumah kami. Aku yang tiba-tiba muncul, aku yang tiba-tiba tidak ada di sekitar mereka, bahkan tentang kucingku, mereka selalu bilang si Hitam atau si Putih, bukan si Hitam dan si Putih.

“Papa minta maaf ya, Ra.”

Eh? Minta maaf apa? Aku menoleh ke depan. Lampu merah berikutnya.

“Hari-hari ini Papa jadi jarang memperhatikan Ra, mengajak ngobrol. Tidak ada makan malam bersama. Sarapan juga serba cepat. Papa cemas boleh jadi sabtu-minggu lusa Papa juga harus lembur di kantor. Rencana weekend kita batal.”

Aku mengangguk, soal itu ternyata, “Tidak apa kok, Pa. Ra paham. Kan, demi memenangkan hati pemilik perusahaan.”

Papa ikut tertawa pelan. “Kau selalu saja pintar menjawab kalimat orang lain, Ra.”

Lampu hijau, iringan kendaraan bergerak maju.

Lima belas menit kemudian tiba di gerbang sekolah, aku mengangkat tas, membuka pintu, berseru, berpamitan. Mobil Papa hilang di kelokan jalan. Aku menatap lapangan sekolah yang lengang. Langit semakin mendung, ribuan burung layang-layang itu masih ada di atas gedung-gedung kota, terbang menari menanti hujan. Aku menghela nafas, berusaha riang melangkah masuk ke halaman sekolah, setidaknya, dengan segala kejadian aneh tadi malam, hari ini aku tidak perlu menutupi jidatku.

Jerawatku sudah hilang.

*bersambung

 


 

Bumi : Episode 17

 

Aku langsung menuju kelas X.9, memasukkan tas ke dalam laci meja. Sekolah masih lengang. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali melamun menunggu. Baiklah, aku mengeluarkan novel tebal yang sudah seminggu tidak tamat-tamat kubaca—pengarang yang satu ini novelnya semakin tebal saja, menguras uang jatah bulanan dari Mama. Teringat lagi percakapan tadi malam, aku tidak sedang patuh pada sosok tinggi kurus dalam cermin itu, aku belum tahu dia berniat baik atau buruk, tapi kalimat-kalimatnya membuatku penasaran. Apakah aku memang bisa menghilangkan novel tebal ini—dan juga benda-benda lain.

Menatap konsentrasi novel tebal beberapa detik, menghela nafas. Mengarahkan telunjukku. Bergumam pelan menyuruhnya menghilang. Sedetik. Puh, aku menghembuskan nafas, sama seperti tadi malam, novel itu tetap teronggok bisu di atas meja. Sekali lagi mengulanginya, lebih berkonsentrasi, tetap saja, jangankan hilang seluruhnya, hilang semili pun tidak. Aku melempar tatapan ke luar jendela kelas, lengang, hanya suara petugas kebersihan yang sedang menyapu lapangan dari dedaunan kering.

Berkali-kali mencoba, memperbaiki posisi duduk—kalau sampai ada yang mengintip, pasti akan aneh melihatku yang sibuk menunjuk-nunjuk buku tebal. Itu saja yang kulakukan hingga teman-teman mulai berdatangan. Menyapa. Aku mengangguk, tersenyum tipis, memasukkan kembali novel ke dalam tas. Setengah jam berlalu, sekolah ramai oleh dengung suara. Beberapa duduk di dalam kelas, berdiri di lorong, teriakan anak cowok bermain basket atau bola kaki. Lapangan basah, mereka tidak peduli. Lebih seru, lebih ramai tertawa.

“Hallo, Ra.” Seli menyapaku.

“Hallo, Sel.” Aku balas menyapa.

“Kau datang pagi lagi, ya?”

Aku mengangguk, sedang bergumam, menghitung satu, dua, tiga, dan persis di hitungan ke tujuh, Seli yang menatapku sambil memasukkan tas ke laci meja berseru, “Eh, Ra? Jerawatmu yang besar itu sudah hilang, ya?”

Aku tertawa, benar kan, tidak akan lebih dari sepuluh hitungan.

“Beneran hilang, Ra. Kok bisa sih?” Saking tertariknya Seli, dia bahkan memegang jidatku, melotot, memeriksa, untung saja tidak ada kaca pembesar, boleh jadi ikut dipakai Seli, “Wah, beneran hilang. Bersih tanpa bekas. Diobatin pakai apa, sih?”

Aku tidak menjawab, menyeringai.

“Pakai apa sih, Ra? Ayo, jangan rahasia-rahasiaan. Pasti obatnya manjur sekali. Semalaman langsung mulus?” Seli penasaran, memegang lenganku, membujuk, “Ini ngalahin treatment wajah artis-artis Korea, loh, Ra. Tokcer.”

“Nggak diapa-apain.” Aku menggeleng.

“Nggak mungkin.” Bukan Seli kalau dia mudah percaya.

“Benaran nggak diapa-apain. Aku hanya tunjuk jerawatnya, bilang ‘hilanglah’, splash, hilang jerawatnya.” Demi mendengar kebiasaan Seli yang mulai menyebut-nyebut drama afavorit Koreanya, dan setengah jam terakhir bosan menatap novel tebal di atas meja yang tidak kunjung berhasil kuhilangkan, aku jadi menjawab iseng.

“Jangan bergurau, Ra.” Seli melotot—memangnya aku anak kecil bisa dibohongi, begitu maksud ekspresi wajahnya.

Aku tertawa, “Benaran. Memang begitu. Kusuruh hilang.”

Setidaknya itu manjur, Seli masih melotot setengah menit, lantas wajahnya berubah menyerah, malas bertanya lagi, “Temani aku ke kantin, yuk. Cari cemilan.”

Aku mengangguk, bosan di kelas terus.   

Kami bergegas keluar dari kelas, menuruni anak tangga, bel masuk tidak lama lagi. Sayangnya, Seli bertabrakan dengan seseorang yang sebaliknya hendak naik.

“Lihat-lihat, dong.” Ali berseru ketus.

“Eh, Ali?” Seli mencoba tersenyum, setengah bingung—maksud wajah Seli adalah bukankah kami baru kemarin belajar bareng di rumahku, Ali terlihat rapi nan menyenangkan, kenapa pagi ini kembali terlihat acak-acakan, dan tantrum seperti balita gara-gara senggolan kecil.

“Kalau jalan makanya mata jangan ditaruh di pantat, tahu.” Ali melotot menjawab sapaan Seli, lantas berlalu, dia terlihat buru-buru menaiki anak tangga.

“Bukankah, eh?” Seli menatap punggung Ali, menoleh, menatapku. Tidak mengerti.

“Makanya, jangan tertipu dengan tampilan. Jelas-jelas anak itu biang masalah. Apanya yang gwi yeo wun. Sekali biang masalah, suka bertengkar, maka itulah sifat aslinya.” Aku mengangkat bahu, tertawa. Aku berjalan lebih dulu, menarik tangan Seli, sebentar lagi bel.

“Tapi kemarin, kan?” Seli mensejajari langkahku.

“Kemarin apa? Tampilannya kemarin itu menipu, karena dia lagi ada maunya.” Aku nyengir, menatap kasihan Seli, “Kau apes sekali, Sel.”

“Apes apanya?”

“Kau barusan dibilang Ali matanya ditaruh di pantat, kan?”

Seli melotot sebal. Aku tertawa.

***

Setidaknya hingga hampir pulang sekolah, aku (dan Seli) tidak bermasalah dengan Ali. Dia masih sering mengamatiku dari bangkunya, tapi dia tidak tertarik memperhatikan jidatku sudah bersih dari jerawat—sepertinya anak cowok selalu begitu, tidak peduli dengan hal baik dari anak cewek, lebih suka memperhatikan yang buruknya saja.

Pelajaran terakhir adalah bahasa Inggris. Mister Theo menyuruh kami mengeluarkan kertas selembar, ulangan. Aku mengangguk riang, aku menyukai pelajaran ini, tidak masalah walaupun ulangan mendadak. Mister Theo membagikan soal, empat puluh soal isian. Seli di sebelahku mengeluarkan puh pelan, mengeluh. Aku tertawa dalam hati, padahal Seli selalu mengaku fans berat Mister Theo, ternyata itu tidak cukup untuk membuatnya menyukai ulangan mendadak ini.

Yang jadi masalah adalah ketika bel pulang tinggal lima belas menit lagi, Mister Theo di depan mengingatkan selesai tidak selesai, kumpulkan jawaban kalian saat bel, aku meringis, pulpenku habis. Bergegas mengambil pulpen cadangan di dalam tas. Ada dua pulpen yang kukeluarkan. Eh, sedikit bingung kenapa ada pulpen berwarna biru. Bukankah aku tidak pernah punya pulpen seperti ini? Mungkin pulpen Papa yang tidak sengaja kutemukan di mobil atau ruang tamu, tidak apalah, yang penting bisa buat menulis, aku memutuskan menggunakannya, tidak bisa, tidak keluar tintanya.

Aku menggerutu, kenapa aku menyimpan pulpen ini di dalam tas kalau habis tintanya. Hendak menukarnya dengan pulpen cadangan yang lain, tapi gerakanku terhenti. Ada yang aneh dengan pulpen biru ini, aku memperhatikan lebih detail, menyelidik. Pulpen ini terlalu berat dan sepertinya ada sesuatu di dalam. Aku perlahan membuka pulpen itu, yang keluar bukan batang isi pulpen seperti lazimnya, tapi benda kecil, berkelotak pelan menimpa meja. Aku bergumam pelan, ini benda apa. Bentuknya mungil, ada kabel-kabel kecil. Seli di sebelahku ber-ssst menyuruhku diam, dia sudah pusing dengan soal ulangan, merasa terganggu pula dengan kesibukanku. Aku balas ber-ssst menyuruh Seli diam.

What happened, Ra?” Mister Theo menoleh ke mejaku.

Nothing happens, Sir. Jammed my pen.” Aku buru-buru menjawab, menelan ludah.

Mister Theo memastikan sejenak, kembali menatap ke arah lain.

Aku mengamati benda itu lamat-lamat, ini apa? Buat apa? Kenapa benda berkabel ini ada di dalam pulpen biru yang rusak? Setengah menit, teringat cerita Seli tentang biang masalah itu yang suka sekali membuat peralatan ‘canggih’, meledakkan laboratorium, aku berseru dalam hati. Aku tahu benda ini, setidaknya aku bisa menebak benda ini untuk apa. Dasar Ali sialan. Tentu saja dia tahu aku kehilangan si Hitam, tahu aku dan Seli mengerjakan PR kemarin sore, karena jenius amatiran itu menyelundupkan pulpen berisi alat penyadap ke dalam tasku. Dia pasti melakukannya beberapa hari lalu, setelah penasaran dengan kejadian dihukum Miss Keriting menunggu di lorong kelas.

Ternyata itu tidak spesial, aku pikir dia tahu dari manalah, dengan cara lebih canggih atau misterius. Hanya karena pulpen biru ini. Aku tersenyum lebar, teringat sesuatu, setidaknya tadi malam tasku tertinggal di ruang televisi, jadi dia tidak bisa menguping percakapanku di kamar dengan sosok dalam cermin. Tapi senyumku segera terlipat, jangan-jangan kemarin sore dia ke rumah, berpakaian rapi, menipu Mama dan Seli, untuk menyelundupkan alat pengintai. Aku menyibak poni di dahi, nanti setiba di rumah akan aku periksa setiap pojok ruangan. Awas saja, tidak akan kubiarkan lagi.

Bel pulang berbunyi nyaring, memutus pikiranku.

Collect your answer paper, now.” Mister Theo berseru tegas.

Aku mengeluh, menyesal telah menghabiskan waktu berhargaku untuk pulpen biru rusak. Bergegas menyelesaikan soal yang tersisa. Teman-teman sekelas lainnya juga ikut bergegas, terutama Seli, dia terlihat panik, menulis secepat tangannya bisa. Sudah seperti cabai keriting bentuk tulisannya.

“Come on, time’s up, students.”

***bersambung


 

Bumi : Episode 18

 

Lapangan sekolah dipenuhi oleh anak-anak yang pulang dari sekolah. Juga lorong kelas, anak tangga. Dengung lebah mengisi langit-langit. Sementara itu, di langit sesungguhnya, gumpalan awan tebal mengisi setiap pojokan. Musim penghujan, pemandangan biasa. Aku bergegas mengejar si biang masalah di antara keramaian, sedikit menyikut teman yang lain.

“Hei! Tunggu sebentar.” Aku meneriaki orang yang kukejar, kerumunan yang hendak menuruni anak tangga membuatku terhambat.

“Hei, Ali! Tunggu.” Aku meneriakkan namanya.

Ali menoleh sekilas, tidak tertarik melihatku mengejarnya, tetap berjalan santai.

Aku berhasil mengejarnya, menutup jalan di depannya, “Nih, hadiah buat kau.” Aku nyengir, menyerahkan pulpen biru.

Demi menatap pulpen biru yang kusodorkan ke depan wajahnya, si jenius itu termangu. Aku nyengir, tebakanku tadi saat mengerjakan ulangan bahasa Inggris benar, kurang lebih beginilah ekspresi khas orang tertangkap tangan. Benda ini memang milik si biang masalah.

“Brilian sekali, kau mematai-mataiku selama ini. Tapi lain kali jangan gunakan pulpen bodoh seperti ini, gampang ketahuan. Lakukan dengan lebih cerdas.” Aku sengaja meniru intonasi dan cara bicara Miss Keriting—satu-satunya guru yang cuek mengusir si jenius ini.

Ali menelan ludah, patah-patah menerima pulpen itu. Cengengesan. Sepertinya itu adalah ekspresi terbaik rasa bersalah yang dia miliki.

Aku menatap galak, “Nah, sebaiknya kau tahu, jenius, rumahku bukan laboratorium fisika tempat kau bebas bereksperimen, meledakkan apalah, menyelidiki entalah. Sore ini aku akan memeriksa seluruh rumah, kau pasti juga meletakkan sesuatu setelah kemarin jual muka ke Mama dan Seli. Awas saja kalau aku menemukannya.”

Aku meninggalkan Ali yang entahlah mau bilang apa. Bergabung dengan kerumunan anak-anak yang hendak menuruni anak tangga. Seli menunggu di lapangan, kami selalu pulang bareng. Dia bertanya kenapa aku lama sekali keluar dari kelasnya. Aku mengangkat bahu, menunjuk langit mendung, lebih baik bergegas mencari angkutan umum yang kosong.

***

Setiba di rumah, Mama terlihat repot mengangkat jemuran. Gerimis turun saat aku turun dari angkot. Mama menyuruhku membantu, aku mengangguk. Tanpa meletakkan tas sekolah, bantu menggendong sebagian tumpukan pakaian, meletakkannya ke ruang depan. Masih lembab, Mama bilang biar dijemur lagi di halaman belakang yang semi tertutup.

“Hallo, Put.” Aku menyapa kucingku yang riang menyambutku di ruang tengah. Kepalanya menyundul-nyundul ke betis. Bulu tebalnya terasa hangat.

“Kau sudah makan siang?” Aku bertanya.

Si Putih mengeong pelan, manja ku usap-usap kepalanya.

Aku teringat sesuatu, menoleh sekitar. Baru saja aku bertanya dalam hati, kemana kucing satunya itu pergi sejak tadi pagi, si Hitam justeru terlihat berjalan pelan menuruni anak tangga. Mata bundarnya menatapku. Aku tidak tahu persis, apakah karena kejadian tadi malam, kali ini aku merasa si Hitam sedang menatapku tajam, bukan tatapan antusias menyambutku pulang seperti enam tahun terakhir. Aku merasa kucing itu tidak sekadar kucing lagi. Dia mengawasiku. Dan lihatlah, si Hitam anggun santai duduk di anak tangga terakhir, kepalanya mendongak, tidak loncat menyambutku seperti biasanya. 

“Kau lihat si Hitam di sana, Put?” Aku berbisik pada kucingku.

Si Putih balas mengeong pelan.

“Kau hari ini bermain dengannya, tidak?” Aku berbisik lagi.

Si Putih tetap mengeong seperti biasa. Aku menghela nafas, seandainya aku tahu bahasa kucing aku bisa bertanya pada si Putih, apakah si Hitam sungguhan tidak terlihat. Apakah si Putih selama ini sebenarnya hanya bermain sendirian. Apakah si Putih berteman dengan si Hitam?

“Loh kenapa belum berganti seragam, Ra? Ayo, bergegas, seragam kau itu kan juga lembab terkena gerimis. Nanti masuk angin.” Mama yang menggendong sisa jemuran menegurku.

“Iya, Mam.” Aku mengangguk, “Kita ke kamar yuk, Put.” Berbisik ke kucingku, lantas beranjak menaiki anak tangga, melewati si Hitam yang tetap tidak bergerak dari duduknya, hanya melihatku.

Kecuali merasa ganjil karena terus diperhatikan si Hitam, sisa hariku berjalan normal. Aku berganti seragam, makan siang, membantu Mama mencuci piring dan peralatan dapur. Lantas bebas sepanjang sore.

“Kau sebenarnya mencari apa sih, Ra?” Mama yang sedang menyetrika bingung melihatku mondar-mandir satu jam kemudian.

“Ada yang hilang, Ra?” Mama yang sudah pindah merapikan keping DVD di ruang televisi bertanya untuk kesekian kalinya.

Aku mengangkat bahu, “Pulpenku hilang, Ma.”

“Pulpen? Segitunya dicari? Kan bisa beli lagi?”

Aku nyengir. Namanya juga alasan ngasal, mana sempat kupikirkan baik-baik. Tapi setidaknya Mama tidak bertanya lagi, membiarkanku yang terus mengacak-ngacak rumah. Dua jam tidak kunjung lelah. Aku akhirnya menghembuskan nafas sebal. Puh, tidak ada sesuatu yang ganjil. Si Jenius itu boleh jadi tidak sempat memasang sesuatu, atau dia kali ini memang jenius sekali, meletakkan alat penyadap yang tidak bisa ditemukan. Satu jam lagi berlalu sia-sia, aku menghempaskan badan di kursi kamarku, juga tidak menemukan apapun.

Jam bebasku habis sia-sia. Padahal aku sudah membayangkan menemukan alat penyadap yang besok bisa kulemparkan ke Ali. Aku bergegas mandi sore setelah diingatkan Mama. Lampu jalanan mulai menyala, matahari beranjak tenggelam. Gerimis tetap begitu-begitu saja, tidak menderas, tidak juga reda.

“Papa pulang malam lagi ya, Mam?” Aku bertanya, makan malam, ditemani Mama.

“Iya. Tadi siang Papa sudah menelepon. Boleh jadi lebih malam dari kemarin. Pekerjaan Papa di kantor semakin menumpuk.” Mama menghela nafas prihatin.

Aku sedikit menyesal bertanya soal Papa, seharusnya aku bisa mencari topik percakapan yang lebih baik, bukan bilang apa saja yang terlintas di kepalaku. Asal komen.

“Minggu depan, pas arisan, semua keluarga datang ya, Mam?” Aku kali ini sengaja memilih topik yang pasti membuat Mama lebih tertarik, lebih riang. 

Mama tersenyum, mengangguk, “Iya, Tantemu bahkan mau menginap semalam.”

“Ohya?” Aku berseru riang—tuh, kan, bahkan aku sendiri ikut semangat.

“Iya, Tante bilang bakal bawa si Jacko, biar bisa bermain bersama si Putih atau si Hitam.”

“Sungguh?”Mataku membesar, “Mama tidak sedang menggoda Ra, kan?”

Mama tertawa, mengangguk, itu sungguhan. Jacko itu nama kucing milik Tante. Makan malam selesai setengah jam kemudian, dihabiskan dengan membahas rencana arisan keluarga minggu depan. Di luar hujan mulai turun dengan lebat.

***

Agak ajaib memang hari ini, tumben tidak ada PR yang harus kukerjakan untuk besok. Malas belajar Matematika persiapan ulangan minggu depan, masih lama, nanti-nanti saja, malas membaca novel tebal itu, aku akhirnya hanya bermain dengan si Putih. Tapi itupun tidak lama. Rasanya ganjil sekali melempar gulungan benang wol, lantas si Putih riang menyambarnya, antusias membawanya kembali ke pangkuanku, sementara si Hitam, kucing satunya lagi, duduk di atas kasur, memperhatikan. Tidak tertarik.

Aku melirik kucing itu. Berbisik kepada si Putih yang manja kugendong, bertanya lagi apakah si Putih melihat si Hitam yang duduk mengawasi. Mana ada kucing normal yang tidak tertarik main lempar-lemparan. Bukankah dulu si Hitam senang sekali melakukannya. Atau tidak?

Aku menghela nafas, beranjak berdiri, meletakkan si Putih. Baru pukul sembilan, memutuskan tidur lebih awal. Tidak ada hal seru yang bisa kulakukan dengan seekor kucing aneh terus mengawasiku. Aku malas mengenakan sendal, pergi ke kamar mandi, gosok gigi.

Keluar dari kamar mandi, aku benar-benar melupakan sepotong kalimat percakapan tadi malam, tepatnya aku tidak memperhatikan kalau kami ada ‘janji pertemuan’ berikutnya. Aku bersenandung pelan, kembali ke kamar, menutup pintu, menguap, bersiap loncat ke atas kasur, saat telingaku mendengar si Hitam justeru menggeram di atas kasurku. Dan belum genap aku memperhatikan kenapa si Hitam terdengar begitu galak, sosok tinggi itu telah berdiri di dalam cermin.

“Hallo, gadis kecil.”

Aku reflek menoleh.

“Kau sepertinya tidak sedang menungguku.” Sosok tinggi kurus itu tersenyum suram. Cerminku terlihat lebih gelap dibanding biasanya. Tidak ada bayangan apapun di dalamnya selain wajah tirus, kuping mengerucut, rambut meranggas, sosok tinggi kurus itu telah kembali, menatapku dengan tatapan berbeda seperti malam sebelumnya.

Aku reflek meraih sesuatu. Sial, tidak ada yang bisa kujadikan senjata selain sendal jepit yang kukenakan. Menyesal kenapa meletakkan pemukul bola kasti di dalam lemari.

“Seharusnya kau mulai terbiasa, Nak.” Sosok tinggi kurus itu berkata datar, menatap sendal jepit yang kupegang. Suaranya mengambang di seluruh ruangan—meski dia bicara dari dalam cermin dua dimensi, tidak berkurang jelasnya, padahal hujan deras turun di luar.

“Bagaimana latihan kau hari ini?” Sosok itu bertanya, langsung ke pokok persoalan.

“Latihan apa?” Aku balas bertanya, menatap tidak mengerti ke dalam cermin.

Si Hitam menggeram keras, aku menoleh, kucingku itu loncat ke kursi, tempat tas sekolahku, dengan mulut dan cakar kakinya, si Hitam menarik keluar novel tebal itu, mengeong galak. Menunjukkan novel dengan mulutnya.

Aku menelan ludah. Ternyata latihan itu.

“Bukankah sudah kukatakan, gadis kecil, kita bisa melakukan ini dengan mudah, atau dengan sulit, tergantung dirimu sendiri.” Sosok tinggi kurus itu menatapku kecewa, “Kau tidak melakukan perintahku. Bahkan kau menganggap ringan perintahku.”

Aku reflek mundur satu langkah.

“Kau tahu, kau seharusnya sudah bisa menghilangkan novel itu!” Sosok tinggi itu membentak, cerminku semakin gelap, bahkan aku bisa melihat cermin itu seolah mengkerut oleh amarah.

“Eh, aku sudah melakukannya.” Aku menjawab ketus, mekanisme bertahanku muncul, “Bukan salahku kalau novel itu tidak mau menghilang.”

“Itu karena kau tidak sungguh-sungguh! Kau pikir ini semua lelucon.” Sosok tinggi kurus tidak mengurangi volume bicaranya. Nafasnya menderu, membuat embun tebal di cermin.

“Baik. Dia membutuhkan motivasi untuk melakukannya.” Sosok itu menoleh ke si Hitam, “Kau berikan apa yang dia butuhkan!”

Dan sebelum aku mengerti apa maksud kalimat sosok tinggi kurus di dalam cermin, si Hitam menggeram kencang, loncat ke atas kasur, menyergap si Putih. Gerakannya cepat sekali, bahkan sebelum si Putih sempat bereaksi, dua kaki depan si Hitam sudah mencengkeram leher si Putih. Si Hitam mendesis galak, menatapku.

“Inilah motivasinya, gadis kecil.” Sosok tinggi kurus itu menatap tipis, “Akan kuhitung hingga sepuluh. Jika kau tidak berhasil menghilangkan buku tebal itu, maka si Hitam akan merobek kepala kucing kesayangan kau.”

Kilau petir menyambar terang di ujung kalimatnya. Gemeretuk guntur membuat nyilu. Hujan deras terus membungkus kota, aku mematung, bukan karena menyaksikan sosok tinggi kurus itu menatapku begitu marah, atau cerminku yang gelap sempurna, menyisakan sosok itu, tapi karena melihat dua kucingku. Si Putih mengeong lemah, seperti minta tolong, sama sekali tidak bisa bergerak, tubuhnya dikunci oleh si Hitam di atasnya. Mulut si Hitam membuka, memperlihatkan taring panjang, suaranya mendesis mengancam, bulu tebalnya yang lembut itu sekarang berdiri. Aku tidak akan pernah bisa mengenali lagi si Hitam, kucingku itu.

**bersambung

Bumi : Episode 19

 

Kakiku bergetar oleh rasa marah yang menyergap. Suara mengeong si Putih semakin lemah. Matanya menatapku meminta pertolongan. Sementara si Hitam yang mengunci tubuhnya dari atas, entah dia sebenarnya mahkluk apa, tubuhnya membesar sedemikian rupa dua kali lipat dalam hitungan detik, ekornya bergerak garang, kupingnya memanjang, bulu tebalnya berdiri seperti ribuan jarum tipis, mata bundar yang dulu aku suka, berubah menjadi kuning pekat, taringnya memanjang, suara geramannya membuat kamarku seperti mati rasa.

“Konsentrasi, Nak!” Sosok tinggi kurus di dalam cermin membentakku, “Konsentrasi pada buku tebalnya. Tidak yang lain.”

Aku menoleh ke arah cermin, menoleh lagi ke si Putih di atas kasur. Bagaimana aku bisa konsentrasi dalam situasi seperti ini. Bagaimana aku bisa konsentrasi ke novel tebal di atas kursi.

“Kau siap atau belum, hitungannya akan kita mulai.” Suara sosok  tinggi kurus itu terdengar mengancam.

Aku menggigit bibir, aku sungguh tidak banyak pilihan. Waktuku amat sempit untuk berhitung atas situasi yang kuhadapi. Sendal jepit yang kupegang bahkan boleh jadi tidak bisa melawan si Hitam yang berubah menjadi begitu mengerikan. Si Putih dalam bahaya, suara mengeongnya begitu menyedihkan. Aku menelan ludah kecut. Bagaimana mungkin dia dikhianati teman sepermainan sejak ditemukan dalam kotak berwarna pink, beralas kain beludru, ditutup kain sutera? Atau tidak? Atau memang kucing satunya itu tidak pernah hadir kasat mata di rumah kami. Si Hitam tidak pernah menjadi teman dari si Putih?

“Satu.” Sosok tinggi menghembuskan nafasnya, memulai menghitung. Kali ini bahkan uap dari nafasnya seperti melewati cermin kamarku. Mengambang.

Nafasku menderu kencang, jatungku berdetak lebih cepat. Apa yang harus kulakukan?

“Dua.”

Aku melepaskan sendal jepit ke lantai. Tidak banyak pilihan yang kupunya, dan dari terbatasnya pilihan, aku tidak akan membiarkan si Putih disakiti. Baiklah.

“Tiga.”

Tanganku bergetar menunjuk novel tebal di atas kursi. Jika semua ini hanya permainan, maka ini permainan paling mahal yang pernah kulakukan. Aku bertaruh dengan seekor kucing yang kupelihara sejak kecil, menyusuinya dengan botol—

“Empat. Kosentrasi. Hilangkan buku tebal itu, gadis kecil.” Sosok itu membentakku, menyuruh berhenti memikirkan hal lain.

Baik, aku mendesis dengan bibir gemetar, ‘menghilanglah’. Menyuruh novel tebal di atas kursi hilang seperti jerawatku kemarin malam. Satu detik senyap, hanya suara hujan buncah mengenai jendela, atap, halaman. Novel itu tetap teronggok membisu di atas kursi.

Aku mengeluh.

“Lima. Kau berusaha lebih sungguh-sungguh atau kau akan kehilangan kucing kesayangan.” Sosok tinggi kurus di dalam cermin tidak menurunkan volume suara.

Aku menggigit bibir, berusaha lebih konsentrasi. Menatap novel tebal kedua kalinya, telunjukku semakin bergetar, mendesis menyuruhnya menghilang. Senyap. Tetap tidak terjadi apapun.

“Enam. Kau sungguh akan mengecewakan teman terbaikmu selama ini, Nak.”

Ayolah, aku menggigit bibir, memejamkan mata. Untuk ketiga kalinya berusaha konsentrasi. Menyuruh novel itu menghilang. Apa susahnya. Ayolah. Membuka mata. Percuma. Tidak terjadi apapun. Ini benar-benar tidak mudah. Bahkan sebenarnya saat kemarin malam jerawat itu berhasil kuhilangkan, aku tidak ingat bagaimana caranya. Ini tidak seperti menutup wajah dengan kedua belah telapak tangan, lantas tubuhku hilang seketika, mudah dilakukan.

Suara mengeong si Putih semakin lemah. Geraman buas si Hitam yang berubah menjadi kucing berukuran besar semakin memenuhi langit-langit kamar.

“Tujuh. Jangan menyalahkan siapapun kalau kau kehilangan kucing—”

“Aku tidak bisa menghilangkannya!” Aku memotong kalimatnya, balas menatap galak sosok di dalam cermin, lihat sendiri, aku sudah empat kali mencobanya, novel itu tetap tidak hilang, “Dari tadi pagi aku sudah berusaha melakukannya. Novel itu tidak bisa hilang.”

“Delapan.” Sosok tinggi kurus menatap dingin.

“Kau, kau tidak boleh melakukannya.” Aku mulai berteriak panik, bahkan tidak peduli kalau Mama yang sedang menonton televisi bisa mendengar keributan di lantai dua.

“Sembilan.” Sosok tinggi kurus menoleh ke si Hitam.

“Kau, kau, awas saja kalau kau berani menyuruhnya.” Aku gemetar menunjuk ke cermin, berusaha mengancam dengan kalimat kosong—waktuku hampir habis, entah apa yang harus kulakukan.

“Sepuluh.” Sosok itu menyeringai tidak peduli, “Habisi kucing lemah itu.”

Belum habis kalimat sosok tinggi kurus di dalam cermin, si Hitam sudah menggeram panjang senang, mata kuningnya berkilat-kilat. Dan kakinya yang sekarang lebih besar dibanding kepala si Putih terangkat naik, siap mematuhi perintah pemilik aslinya.

Astaga? Apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku sungguhan panik.

Si Hitam menghantamkan kakinya ke kepala si Putih. Petir menyambar terang, cahayanya berkelebat masuk ke dalam kamar. Guntur menggelegar. Aku berseru, tidak ada, tidak ada yang boleh menyakiti si Putih. Sepersekian detik sebelum kaki si Hitam mencakar si Putih yang tidak berdaya, lima jemari tangan kananku bergerak cepat, mendesis, menghilanglah!

Menghilanglah!

Splash.

Geraman si Hitam lenyap bagai suara televisi dipadamkan. Juga bulunya yang berdiri, ekornya yang tegak, taringnya yang panjang, mata kuningnya, lenyap bagai kabut terkena matahari terik. Tidak berbekas apapun di atas kasur.

Langit-langit kamarku lengang sejenak. Bahkan si Putih yang terbaring di atas kasur tidak mengeong. Dia meringkuk gemetar. Terlalu lemah badannya. Mungkin takut hingga batas terakhir. Si Putih menatapku, mata bundarnya terlihat buram. Berterima kasih.

Sosok tinggi kurus itu juga menatapku, lamat-lamat, seperti habis menyaksikan pertunjukan yang tidak dia kira. Aku tersengal, nafasku menderu, tidak peduli dengannya sekarang, loncat ke kasurku, menarik si Putih, menggendongnya erat-erat, melindungi dari kemungkinan apa saja. Berbisik, semua akan baik-baik saja, Put. Memeluk kucing kesayanganku itu.

“Kau? Ini menakjubkan, gadis kecil.” Sosok tinggi kurus masih menatapku, suaranya kembali datar, “Ini di luar dugaanku sama sekali.”

Aku tidak mendengarkan dengan baik sosok tinggi kurus itu. Aku merapat ke dinding, menatap cermin galak, jemari tangan kananku mengacung ke cermin.

“Bagaimana kau melakukannya?” Sosok tinggi kurus itu bertanya.

Aku menggeleng. Berusaha mengendalikan nafas. Aku sungguh tidak tahu bagaimana aku bisa menghilangkan monster kucing yang memiting si Putih. Kejadiannya terlalu cepat. Aku panik, yang kupikirkan pendek. Aku tidak tahu, menggeleng sekali lagi. Pergi. Kau pergi jauh-jauh dari sini. Lima jemariku mengarah ke cermin, mengancam.

**bersambung


Blog EntryMar 9, '12 7:19 AM
for everyone

Bumi : Episode 15

 

“Siapa di situ?” Aku berseru dengan suara bergetar—bukan karena takut, lebih karena kaget setengah mati melihat ada sosok yang tiba-tiba berdiri di dalam cermin besar.

Ini bukan imajinasiku, lihatlah, aku berusaha mengendalikan dengus nafas, jantungku berdetak kencang, sosok itu benar-benar ada di dalam cermin besar, tanpa menyisakan bayangan apapun selain tubuhnya. Perawakannya tinggi, kurus, wajahnya tirus, telinganya mengerucut, rambutnya meranggas, dengan bola mata hitam pekat. Dia mengenakan, aku tidak tahu, apakah itu pakaian atau bukan, kain itu seolah melekat ke tubuhnya, berwarna gelap.

Sejenak tersengal menatap sosok itu, aku lompat, tanganku reflek menyambar apa saja di atas kasur, mencari senjata, mengeluh, hanya ada novel tebal. Sementar suara hujan deras di luar terus buncah, membuat keributan di kamar tidak terdengar hingga ruang tengah, tempat Mama sedang menonton televisi—menunggu Papa pulang. Kilau petir dan gemeretuk guntur susul menyusul. Nafasku menderu kencang.

“Siapa kau?” Aku berseru, suaraku serak.

“Aku siapa?” Suara sosok itu terdengar seperti mengambang di langit-langit kamar, seolah dia bicara dari sisi kamar mana pun, bukan dari dalam cermin, “Kalau kau mau, kau bisa memanggilku ‘Teman’, Nak.”

Aku menggeleng, beringsut menjaga jarak, mataku menyelidik setiap kemungkinan, tanganku bergetar mencengkeram novel. Kalau sosok ganjil ini tiba-tiba menyerangku, akan kupecahkan cerminnya dengan novel tebal di tanganku—dan semoga dia tidak justeru keluar dari cemin pecah itu, malah bisa berdiri nyata di tengah kamarku.

“Kau mau apa? Kenapa kau ada di dalam cerminku?” Aku berseru, bertanya, terus berhitung dengan posisiku.

Sosok itu tidak langsung menjawab. Diam sejenak lima belas detik. Kucingku si Putih meringkuk tidur, tidak terganggu dengan segala keributan. Menyisakan aku dan sosok tinggi kurus di dalam cermin saling tatap dengan pikiran masing-masing.

“Ini menarik, Nak.” Sosok itu akhirnya bersuara setelah menatapku lamat-lamat, “Kebanyakan orang dewasa menjerit ketakutan melihat cermin di hadapannya yang tiba-tiba berisi bayangan orang lain, bahkan di tempat keramaian dan siang hari sekalipun. Ini menarik sekali, rasa penasaran yang kau miliki ternyata lebih besar dibanding rasa takut. Rasa ingin tahu yang kau miliki, bahkan lebih besar dibanding memikirkan resikonya. Aku siapa? Kau selalu bisa memanggilku ‘Teman’. Apa mauku? Apalagi selain menemuimu.”

Aku menggeleng, memutuskan tidak mudah percaya, berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang mencurigakan, tanganku semakin dekat untuk melemparkan novel tebal ke arah cermin.

Sosok tinggi kurus itu mengangguk, “Baik, kau benar, aku mungkin bukan teman. Tidak ada teman yang datang lewat cermin, bukan? Membuat semua akal sehat terbalik. Siapa pula yang akan riang gembira saat sedang menatap cermin tiba-tiba ada sosok lain di dalamnya, sekalipun itu memang teman baik yang sudah dikenal. Sayangnya, kita tidak leluasa bertemu. Belajar dari pengalaman dua hari lalu, kita tidak bisa berharap kau akan bersedia menutupkan telapak tangan ke wajah sekarang, bukan? Mengintip dari sela jari agar aku bisa terlihat berdiri di kamar ini. Kau pasti tidak mau melakukannya.”

Angin kencang yang menyertai hujan di luar membuat tetes air menerpa jendela kaca, aku tetap berusaha konsentrasi menatap sosok tinggi kurus di dalam cermin.

“Sayangnya ini pertama kali kita berbicara. Kau belum siap mendengar penjelasan, gadis kecil, sebesar apapun bakat yang kau miliki sekarang, kau belum siap. Jadi aku tidak akan lama. Dua hari lalu, amat mengejutkan ternyata kau bisa melihatku, tapi kupikir itu kebetulan. Malam ini, kau mampu melakukan hal yang lebih menarik, berhasil menghilangkan sebutir jerawat di wajah, karena itu aku memutuskan sudah saatnya menyapa.”

Sosok tinggi kurus itu diam sejenak, menghembuskan nafas, udara dingin, dia sungguh nyata, lihatlah, cerminku berembun oleh nafasnya yang hangat.

“Kau pasti punya banyak pertanyaan, Nak.” Sosok itu menghapus embun di cermin dengan jari-jarinya yang kurus dan panjang, “Tapi tidak malam ini aku akan menjawabnya. Aku pernah melakukan kesalahan dengan terlalu banyak menjelaskan.” Gerakan tangannya berhenti, mata hitamnya menatap tajam ke arah lain.

Aku tahu apa yang sosok di dalam cermin dengar, aku juga mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Papa sudah pulang.

“Ingat baik-baik yang akan kusampaikan, gadis kecil.” Dia menatapku tajam, “Peraturan pertama, jangan pernah mempercayai siapapun. Teman dekat, kerabat, orang tua, siapapun. Aku tidak akan mengajarimu agar tidak bercerita ke orang lain, lima belas tahun kau berhasil menyimpan rahasia sendirian, itu tidak pernah terjadi sebelumnya, jadi kita hilangkan saja peraturan yang kedua.” Sosok tinggi itu diam sejenak, kembali menatap tajam ke arah lain.

Suara percakapan Papa dan Mama di ruang tengah terdengar sayup-sayup di antara suara hujan. Papa menanyakan apakah aku sudah tidur atau belum.

“Ingat baik-baik dua peraturan tersebut. Sekali kau bercerita ke orang lain, kau bisa membuat semua menjadi di luar kendali. Semua bakat besar itu akan berubah melawan dirimu sendiri, dan membahayakan orang-orang yang kau sayangi.” Mata hitam itu menyapu seluruh tubuhku.

Aku menelan ludah, tidak semua kalimat sosok di dalam cermin itu bisa aku mengerti, jemariku semakin bergetar mencengkeram novel tebal, “Apa yang kau inginkan dariku?”

Sosok tinggi kurus itu mengangguk, “Kau memiliki bakat hebat, Nak. Kau tidak hanya bisa menutupkan kedua belah telapak tangan, menghilang. Kau bisa melakukan lebih dari sekadar mengintip orang dari sela jari. Kita akan segera melihatnya, apakah hanya kebetulan kau bisa menghilangkan jerawat, atau lebih dari itu. Buku tebal yang kau pegang, itu tugas pertama kau, menghilangkannya dalam waktu dua puluh empat jam ke depan. Aku akan kembali besok malam, memastikan kau mengerjakan pekerjaan itu sungguh-sungguh.”

Sosok di dalam cermin lantas perlahan menyingkap pakaiannya—ternyata itu tidak menempel ke kulit, pakaian di pinggangnya longgar dan menjuntai, dan entah dari mana datangnya, dia mengeluarkan seekor kucing berbulu tebal.

Aku hampir berseru tertahan, itu si Hitam.

Sosok tinggi kurus itu tersenyum tipis, jarinya yang panjang mengelus kepala kucingku, “Sejak usia sembilan tahun kau telah diawasi, gadis kecil. Itu cara terbaik untuk memastikan kau tidak bersentuhan dengan sisi lain, hingga dua hari lalu, keberadaanmu diketahui. Kau bisa membuat pekerjaan ini menjadi mudah atau menjadi sulit, tergantung diri kau sendiri. Camkan baik-baik, kau tidak pernah dimiliki dunia ini, gadis kecil, bahkan sejak lahir. Kau dimiliki dunia lain. Selalu ingat itu.”

Aku tidak mendengarkan kalimat berikutnya dari sosok itu dengan baik, aku sedang berseru tanpa suara, astaga, aku sungguh tidak percaya apa yang kulihat. Itu kucingku, si Hitam, berada di pangkuan sosok yang berada dalam cermin.

“Nah, saatnya mulai berlatih, Nak.” Sosok tinggi kurus itu menepuk pelan kucing di pangkuannya, berbisik, “Kau temani dia.” Dan dengan suara meong yang amat kukenal, si Hitam lompat dari tangannya, menembus cermin, splash, mendarat di meja belajarku. Aku tertegun. Si Hitam sudah loncat ke lantai, langsung menuju kakiku, seperti biasa, hendak antusias menyundul-nyundulkan kepalanya ke betis.

Aku terkesiap. Entah harus melakukan apa. Kakiku bergetar saat disentuh bulu lembut si Hitam. Apa yang barusaja kulihat? Kucingku menembus cermin? Aku menatap si Hitam yang manja berada di antara kakiku. Apakah kucingku ini nyata atau bukan? Dan apa yang sosok tinggi kurus itu katakan? Aku telah diawasi sejak lama.

Kilau petir menyambar terang, aku mengangkat kepala, menatap ke depan, cermin itu hanya memantulkan bayanganku sekarang, kosong, sosok tinggi kurus itu telah pergi.

*bersambung


Blog EntryMar 8, '12 8:22 AM
for everyone

Bumi : Episode 14

 

Ini akan jadi momen paling ganjil sejak aku remaja, lihatlah, aku melotot, hendak mengusir Ali dari halaman rumah, di sampingku Seli bengong melihat penampilan Ali yang berubah, susah membedakannya dengan pemain drama Korea favoritnya, sementara si biang masalah itu, tersenyum lebar seolah tidak ada masalah sama sekali, seolah aku dan Seli memang habis bercakap sebal karena dia tidak kunjung datang untuk belajar bareng.

“Ra, Seli, kenapa kalian malah bengong di situ?” Mama yang tidak memperhatikan, terlanjur masuk ke ruang tamu, menoleh, kepalanya nongol dari bingkai pintu, “Ayo, ajak temanmu masuk. Ayo, Nak Ali, masuk.”

Dan sebelum aku bereaksi atas tawaran Mama—misalnya dengan mencak-mencak mengusir Ali, si biang masalah itu mengangguk amat sopan, (pura-pura) malu melangkah ke teras.

“Anggap saja rumah sendiri, ya.” Mama tersenyum.

“Iya, Tante.” Ali mengangguk lagi.

Aku benar-benar kehabisan kata. Aduh, kenapa Mama ramah sekali dengan biang masalah itu. Aku menyikut Seli, menyadarkan ekspresi wajah Seli yang berlebihan, mengeluh kenapa Seli juga ikut tertipu dengan tampilan baru Ali. Bergegas ikut melangkah masuk ke ruang tamu.

“Nak Ali mau minum apa?”

“Nggak usah, Tante. Nanti merepotkan.”

“Tentu saja tidak. Sebentar ya, Tante siapkan di dapur. Tunggu sebentar, ya.”

Belum sempurna hilang punggung Mama dari bingkai pintu, aku sudah loncat, mencengkeram lengan baju Ali, “Kau, kenapa kau datang, hah? Tidak ada yang mengajakmu belajar bareng?”

Si biang masalah itu hanya nyengir, “Aku datang baik-baik loh, Ra.”

“Bohong. Kau pasti ada maunya.” Aku berseru ketus.

“Eh, ya tentu saja ada maunya, Ra.” Ali menatapku, tersenyum, “Maunya adalah belajar bareng. Minta diajarin mengarang jenis persuasif. Kau kan yang paling pintar soal bahasa.”

“Bohong. Kau pasti sedang menyelidiki sesuatu.”

Ali mengangkat bahu, wajahnya seolah bingung, menyelidiki apanya? Menoleh ke Seli—yang serius menonton kami bertengkar, jangan-jangan Seli berpikir ada adegan drama Korea live di depannya. Aku menelan ludah, cengkeraman tanganku mengendur. Aku tidak mungkin menuduh Ali sengaja datang untuk menyelidiki apakah aku bisa menghilang atau tidak. Ada Seli di ruang tamu, urusan tambah kapiran.

“Karangan kau sudah berapa kata, Sel?” Mengabaikanku, Ali beranjak mendekati Seli, “Boleh aku lihat,” Menunjuk buku PR Seli.

“Eh, silahkan.” Seli nyengir, “Tapi nggak bagus, kok, baru tiga paragraf.”

Aku menepuk dahi, nah, sejak kapan pula Seli jadi ikutan ramah dengan Ali? Bukannya kemarin Seli marah-marah karena ditabrak Ali di anak tangga?

“Wah, ini bagus sekali, Sel.” Ali membaca sejenak.

“Oh ya?”

Aku menyikut lengan Seli, mengingatkan dia sedang bercakap-cakap dengan siapa.

“Sebenarnya bagusan karangan punya Ra. Tadi aku juga dikasih ide tulisan sama Ra.” Seli tidak merasa aku menyikutnya, menunjuk buku PR milikku di ujung meja.

“Boleh aku lihat karangan kau, Ra.” Ali menoleh padaku.

Enak saja. Tidak boleh. Aku bergegas hendak menyambar buku PR-ku.

“Nah, satu gelas jus buah tiba.” Mama lebih dulu masuk ke ruang tamu, menghentikan gerakan tanganku, “Silahkan, Ali. Jangan malu-malu.”

“Terima kasih, Tante.” Ali menerima minuman sambil tersenyum santun.

“Ra tidak pernah cerita kalau punya teman laki-laki di sekolah.” Mama duduk sebentar, bergabung, sepertinya akan ikut mengerjakan PR—tepatnya Mama sengaja menggodaku.

“Mereka berdua tidak temanan, Tante.” Seli yang menjawab, tertawa.

“Tidak temanan?” Mama menatapku dan Ali bergantian.

“Di sekolahan mereka lebih banyak bertengkar.”

“Oh iya?” Mama ikut tertawa.

Sore itu berakhir menyebalkan. Selama satu jam kemudian aku terpaksa mengalah membiarkan Ali mengeluarkan buku dari tasnya, ikut mengerjakan PR bahasa di ruang tamu. Sebenarnya, terlepas dari mendadaknya, tidak ada yang aneh dari kedatangan Ali, dia sungguh-sungguh mengerjakan PR mengarang. Seli membantu menjelaskan mencari ide tulisan—seperti yang aku jelaskan kepada Seli. Mengarang dengan serius. Ali sempat minta ijin ke toilet setengah jam kemudian, karena Mama lagi memakai kamar mandi bawah, aku ketus menyuruhnya naik ke lantai atas, ada toilet di sebelah kamarku.

“Kau memang mengajak Ali belajar bareng, Ra?” Seli berbisik, saat kami tinggal berdua.

“Aku tidak mengajak biang masalah itu.” Aku menjawab ketus.

“Kok dia tahu kita belajar bareng?”

“Mana aku tahu.” Aku melotot ke Seli, menyuruh dia menyelesaikan karangannya. Tidak usah membahas hal lain. Seli nyengir, balik lagi ke buku PR. Hening sejenak.

Gwi yeo wun, Ra.” Seli berbisik lagi.

Apanya yang yeo wun, yeo wun? Aku sebal menatap Seli—sejak kedatangan Ali, aku mudah sebal dengan siapa saja.

“Benar kan yang kubilang, Ra.” Seli nyengir, matanya berkerjap-kerjap, “Ali itu aslinya cute, gwi yeo wun. Dengan pakaian rapi, rambut disisir lurus, eh—“

“Kau mau menyelesaikan PR atau tidak? Sudah hampir jam lima tahu.”

“Eh, iya-iya, ini juga lagi diselesaikan, Ra.” Seli kembali ke buku, “Kau kenapa pula sensitif sekali, jadi mudah marah.”

Pukul setengah enam, Ali dan Seli pamit. Mama mengantar ke halaman, bilang hati-hati di jalan. Aku masuk ke rumah setelah mereka naik angkutan umum, membereskan piring dan gelas.

“Ternyata.” Wajah Mama terlihat menahan tawa, melangkah ke dapur.

Kalau Mama mau menggodaku, tidak lucu. Aku cemberut galak.

“Ternyata karena itu Ra malu punya jerawat di jidat.” Mama tetap tertawa, “Anaknya tampan dan sopan sekali loh, Ra. Pantas saja.”

Aku hampir menjatuhkan piring. Pantas apanya?

***

Sore berlalu dengan cepat. Gerimis turun membungkus kota saat lampu mulai dinyalakan satu persatu. Awan hitam bergelung cepat memenuhi setiap jengkal langit. Kilau tajam petir dan suara gemeretuk guntur menghias awal malam.

Pukul tujuh, aku makan malam sesuai jadwal, Mama menemaniku—hanya menemani, “Mama makannya nunggu Papa pulang, Ra.” Aku mengangguk, mengerti.

Pukul delapan, gerimis berubah menjadi hujan deras. Aku duduk di ruang keluarga, malas belajar, daripada di kamar sibuk memencet jerawat, memutuskan membaca novel. Menemani Mama yang menonton televisi. Sialnya, tetap saja aku reflek memegang-megang jerawat sambil membaca. Urusan ini selalu begitu, semakin berusaha dilupakan, semakin sering aku ingat, mengeluh dalam hati. Hampir bertanya untuk kesekian kali kepada Mama, apa obat mujarab jerawat, tapi urung, nanti Mama jadi punya amunisi kembali menggodaku.

“Mam, Papa sudah telepon lagi atau belum?”

“Sudah.” Mama menjawab pendek.

“Papa bilang pulang jam berapa?” Aku memperbaiki posisi duduk, membiarkan si Putih meringkuk manja di ujung kakiku. Bulu tebalnya terasa hangat.

“Sampai urusan di kantor selesai, Ra. Belum tahu persisnya.” Mama menghela nafas tipis, berusaha terdengar biasa-biasa saja. Aku manggut-manggut, tidak bertanya lagi, kembali ke novel, sambil tangan kiriku juga kembali memegang-megang jidat.

Pukul sembilan, hujan deras mereda. Mama menyuruhku duluan tidur. Aku mengangguk, sudah waktuku masuk kamar, baiklah, menutup novel yang kubaca. Si Putih ikut bangun, berlari-lari menaiki anak tangga.

Meski sudah masuk kamar, aku tidak bisa segera tidur seperti malam sebelumnya. Banyak yang kupikirkan. Mengintip tirai jendela, menatap kerlap-kerlip lampu di antara jutaan tetes air. Menghela nafas, semoga Papa baik-baik saja di kantor, urusan hari ini lebih mudah. Reflek memegang jidatku.

Si Putih mengeong, dia naik ke atas tempat tidur. Aku menoleh, “Kau tidur duluan saja, Put. Aku belum mengantuk.” Kembali mengintip sela-sela tirai jendela, semoga si Hitam, dimanapun dia minggat sekarang, juga baik-baik saja. Hujan deras seperti ini, semoga dia menemukan loteng kering untuk tidur. Sudah dua hari kucingku itu tidak pulang. Aku reflek memegang jidatku.

Aku juga memeriksa buku PR Matematika dari Miss Keriting. Duduk di atas kasur. Lima menit sibuk membolak-balik halaman. Tidak ada yang istimewa, hanya buku PR-ku seperti biasa. Hujan di luar semakin deras.

Aku beranjak melangkah malas duduk ke kursi belajar, menatap cermin besar, memperhatikan jerawatku. Jerawatku besar sekali, merah, dengan bintik putih tipis. Mematut-matut beberapa menit, aku akhirnya gemas memencetnya. Tidak meletus, hanya menyisakan sakit, dan semakin merah sekitarnya. Aku mengeluh dalam hati, menyesal sudah memencetnya barusan.

Pukul sepuluh, langit gelap kembali menumpahkan hujan. Lebih deras dari sebelumnya. Kilau petir membuat berkas cahaya di dalam kamar, guntur terdengar menggelegar. Aku masih termangu menatap jidatku, sudah tiga kali memencet jerawatku, menyesal, dipencet lagi, menyesal lagi. Begitu-begitu saja, tambah gregetan.

Kenapa pula jerawat ini datang di waktu yang tidak tepat? Susah sekali membuatnya meletus. Aku menatap cermin dengan kesal. Kenapa aku tidak bisa membuatnya menghilang seperti saat aku membuat tubuhku menghilang dengan meletakkan telapak tangan di wajah. Telunjukku gregetan terus menekan-nekan. Atau aku bisa membuatnya menghilang seperti itu? Menelan ludah? Kenapa tidak? Apa susahnya membuat jerawat batu ini hilang? Jangan-jangan aku bisa menyuruhnya menghilang. Telunjukku terangkat, sedikit bergetar menunjuk jerawat itu.

Saat telunjukku terarah sempurna ke jerawat, bergumam, ‘menghilanglah’, kilau petir menyambar begitu terang di luar kelaziman. Suara guntur bahkan terdengar lebih cepat dari biasanya, berdentum kencang. Splash. Aku hampir terpental dari kursi, menutup mulut karena hampir berseru. Lihatlah! Jerawat di jidatku sungguhan hilang.

Sedikit gemetar memastikan, berdiri, mendekatkan wajah ke cermin. Benar-benar hilang. Aku hampir bersorak senang.

“Hallo gadis kecil,” Sosok tinggi kurus itu telah berdiri di dalam cermin, menatapku lamat-lamat dengan mata hitam mempesonanya, kali ini aku benar-benar terjatuh dari kursi. Kaget.

Apa yang barusan kulihat? Sosok itu? Bergegas berdiri, reflek menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa berdiri di dalam kamarku. Kembali menoleh ke cermin, sosok tinggi kurus itu masih ada di sana, tersenyum, matanya menatap mempesona.

“Kau sepertinya baru saja berhasil menghilangkan sebuah jerawat, Nak. Selamat.”

**bersambung


Blog EntryMar 7, '12 6:20 PM
for everyone

Bumi : Episode 13

 

“Gurumu berbeda sekali, Ra.” Mama masih berdiri di depan rumah.

Aku menoleh. Melihat Mama yang masih menatap jalanan.

“Jaman Mama dulu sih masih ada guru seperti itu, rajin mengunjungi rumah muridnya, bertanya ke orang tuanya, bicara tentang kemajuan kami. Tetapi sekarang murid sekolahan kan ribuan, itu tidak mudah dilakukan. Belum lagi kesibukan-kesibukan lain.”

Aku mengangkat bahu. Sebenarnya, aku belum mengerti kenapa Miss Keriting sengaja datang mengantarkan buku PR Matematika. Balik kanan, masuk ke dalam rumah.

“Seli jadi datang, Ra?” Mama ikut melangkah masuk.

Bel pagar berbunyi nyaring sebelum aku menjawab. Aku dan Mama menoleh. Umur panjang, teman satu mejaku itu sudah berdiri di gerbang, melambaikan tangan. Aku tersenyum, yang ditunggu datang juga, berlari-lari kecil ke pagar.

“Ra, Ra.” Persis dia masuk, Seli langsung memegang lenganku. Eh?

“Tadi itu Miss Keriting, kan?” Seli berseru, menatapku penasaran setengah mati, “Iya, pasti Miss Keriting. Aku melihatnya naik mobil pas aku turun dari angkot. Sekilas, tapi aku yakin sekali. Miss Keriting, bukan?”

Aku mengangguk, berjalan melintasi halaman rumput.

“Aha. Tebakanku tepat. Eh, Ra, kenapa dia ke rumah kau, Ra?”

Aku menjawab pendek, “Menyerahkan buku PR,” mengangkat buku PR, memperlihatkannya pada Seli.

“Buku PR? Memangnya kenapa dengan buku PR kau, Ra?” Seli tidak mengerti, menatap buku PR ku seperti sedang menatap buku mantera sakti atau menatap buku diary penuh rahasia dalam drama Korea yang sering ditontonnya.

“Tidak tahu.”

“Ini sungguhan buku PR, kan?”

“Memang ini buku PR, Sel.” Aku tertawa, “Tidak usah dipelototi. Nanti terbakar.”

“Dia tidak bicara sesuatu, kan? Maksudku kau tidak kenapa-kenapa, kan? Harusnya kan guru BP yang datang kalau kau kenapa-napa, kan ya? Eh?”

“Hanya mengantarkan buku PR, Seli.” Aku mengangkat bahu, menghembuskan nafas, puh, “Tidak ada yang lain. Aku juga tidak tahu kenapa dia harus mengantarkannya langsung. Jangan-jangan habis dari rumahku, dia ke rumah kau, mengantarkan buku PR berikutnya.”

“Jangan bergurau, ah.” Seli masih melotot.

Siapa yang bergurau? Aku nyengir.

“Betulan, Ra, kenapa Miss Keriting ke sini? Jangan-jangan kau merahasiakan sesuatu, ya?” Seli menyelidik, ingin tahu—sudah mirip kelakuan Ali, si biang masalah itu.

“Kalian mau minum apa?” Suara Mama memotong bisik-bisik Seli, “Mau Mama buatkan pisang cokelat dan jus buah?”

“Eh, selamat siang Tante.” Seli menoleh, buru-buru mengangguk, lupa belum menyapa tuan rumah, padahal sudah sejak tadi rusuh masuk ke ruang tamu, “Apa saja Tante, asal jangan merepotkan.”

Mama tersenyum, “Tidak merepotkan, kok.”

“Apa saja, Mam. Asal yang banyak. Seli suka makan memang.” Aku tertawa, menambahkan.

Seli menyikut lenganku. Sebal.

Mama ikut tertawa, “Nah, selamat belajar ya. Mama ke belakang dulu.”

Kami berdua mengangguk.

Tetapi lima belas menit berlalu, jangankan mengerjakan PR, membuka buku Bahasa Indonesia pun tidak, Seli lebih tertarik dan memaksa ingin tahu, kenapa Miss Keriting datang ke rumah. Aku mau jawab apa coba? Seli bahkan memeriksa buku PR-ku, penasaran, apa istimewanya buku PR itu hingga diantar langsung Miss Keriting. Lima menit sibuk memeriksa, menyerahkan lagi buku itu sambil menghela nafas kecewa, “Tidak ada apa-apanya. Sama saja dengan buku PR-ku, malah nilainya lebih bagus dari punyaku. Kenapa sih Miss Keriting ke rumah kau, Ra?”

“Aku tidak tahu, Sel.” Aku melotot, bosan memegang buku bahasa Indonesia yang sejak tadi tidak kunjung dibuka, “Atau begini saja, besok kau tanyakan ke dia langsung. Kan jadi jelas. Nanti aku temani.”

Seli memajukan bibirnya, lagi-lagi hendak berkomentar sesuatu, tapi suara bel gerbang depan sudah berbunyi nyaring, memotong.

“Biar Mama yang buka, Ra.” Suara Mama terdengar dari dalam, “Kalian belajar saja.”

Aku tertawa, apanya yang belajar, beranjak berdiri. Seli juga ikut berdiri, mengikutiku ke depan hendak membuka gerbang. Dua karyawan toko elektronik langsung terlihat sedang repot menurunkan box besar dari mobil. “Mam, mesin cucinya datang.” Aku berteriak dari halaman.

Adalah lima belas menit kami menonton Mama mengomeli karyawan yang sibuk bolak-balik menukar mesin cuci baru, mengujicoba mesin cucinya, memastikan kali ini tidak ada masalah. Mereka terlihat serba salah, mengangguk-angguk mendengar omelan Mama.

“Ternyata Mama kau sama seperti Mamaku, Ra.” Seli berbisik. Karyawan toko elektornik itu untuk kesekian kali minta maaf, membungkuk, hendak berpamitan.

Apanya yang sama. Aku menoleh ke Seli, kami masih berdiri menonton.

“Galak dan cerewet. Kasihan karyawan tokonya, kan.” Seli bergumam pelan.

Aku tertawa, tidak berkomentar. Memperhatikan karyawan toko akhirnya bernafas lega, buru-buru menaiki mobilnya, lantas cepat mengemudikan mobil, hilang di kelokan jalan.

Setidaknya, selingan menonton mesin cuci baru ditukar membuat penasaran Seli tentang Miss Keriting  berkurang banyak. Kami bisa mulai mengerjakan PR bahasa Indonesia, membuat karangan dengan jenis persuasif sebanyak dua ribu kata. Apalagi saat minuman dan makanan diantar Mama, Seli memutuskan melupakan Miss Keriting.

Sayangnya, baru pukul setengah empat, kami baru sepertiga jalan mengerjakan PR, bel gerbang depan berbunyi lagi. Nyaring. Aku mendongak, mengangkat kepala, alangkah banyaknya orang yang bertamu ke rumah kami hari ini? Sudah keempat kalinya. Seli di sebelahku, masih asyik menuliskan karangannya.

“Biar Mama yang buka, Ra.” Mama yang sedang santai menonton di ruang tengah sudah beranjak lebih dulu, ke depan. Aku kembali menatap buku PR-ku, paling juga tetangga sebelah, perlu sesuatu. Atau tukang meteran listrik, PAM. Atau orang jualan keliling.

“Selamat siang, Tante.”

Eh, aku mendongak lagi. Suara itu khas sekali terdengar—meski jaraknya masih sepuluh meter dari ruang tamu. Suara yang menyebalkan, aku kenal. Mama menjawab salam.

“Ra-nya ada, Tante?”

Mama mengangguk, ada, bertanya, “Ini siapa, ya?”

“Saya teman sekelas Ra, mau ikutan mengerjakan PR bahasa.”

Aku sungguhan loncat dari posisi nyaman menulis. Seli yang kaget ikut loncat, menatapku sebal, dia tidak sengaja mencoret buku PR-nya, melotot, “Ada apa sih, Ra?”

Aku tidak menjawab, aku sudah bergegas ke depan rumah. Seli ikutan keluar rumah. Sial, lihatlah, berjalan menuju kami, Mama bersama tamu keempat sore ini, Ali, si biang masalah.

“Katanya hanya Seli yang datang, Ra?” Mama mengedipkan mata, “Kau tidak bilang-bilang akan ada teman sekelas yang lain?”

Aduh. Aku seketika mematung melihat Ali. Lihatlah, si biang masalah itu, dengan sopan santun sempurna, berpakaian rapi, ya ampun, rapi sekali dia, kemeja lengan panjang, celana kain, ikat pinggang, mengenakan sepatu, bahkan aku lupa kapan terakhir kali melihat rambutnya disisir rapi, terlihat lurus, hitam legam, dan Ali tersenyum seperti remaja paling tahu etika sedunia, “Selamat sore, Ra. Selamat sore Seli. Maaf saya terlambat.”

Bahkan Seli, kali ini pun ikut mematung, menatap Ali yang seratus delapan puluh derajat berubah tampilan, di halaman rumput, di bawah cahaya matahari sore yang mulai lembut.

**bersambung


Blog EntryMar 6, '12 8:12 PM
for everyone

“Selamat siang, Ra.” Suara tegas dan disiplin itu menyapa.

“Miss Ke—“ Aku buru-buru menelan ludah, menghentikan nama panggilan itu, hampir saja aku ketelepasan, “Ibu Selena? Eh, selamat siang, Bu.”

Aku bukan saja bingung karena ternyata bukan Seli yang datang pukul setengah tiga, tapi lebih dari itu, kepalaku segera dipenuhi banyak pertanyaan, kenapa guru Matematika-ku ada di sini? Di depan gerbang rumahku? Kalau guru BP yang datang masih dengan mudah dicerna.

“Boleh Ibu masuk, Ra?” Miss Keriting tersenyum.

Eh? Aku buru-buru mengangguk, balas tersenyum sebaik mungkin, “Silahkan, Bu. Silahkan. Maaf, Ra tadi kaget. Kirain siapa yang datang.”

Aku bergegas membuka gerendel gerbang, mendorongnya.

“Kau sedang menunggu tamu lain, Ra?” Miss Keriting melangkah masuk.

Aku menggeleng, eh, mengangguk, “Iya, Bu. Seli, kami mau belajar bareng.”

“Oh.” Miss Keriting tersenyum tipis, wajahnya yang tegas dan disiplin itu terlihat mengesankan dari jarak sedekat ini.

Meski aku bingung, kenapa Miss Keriting tiba-tiba datang ke rumah, aku setengah kaku segera menyilahkan Miss Keriting jalan duluan. Guru Matematikaku itu berjalan dengan langkah teratur, berirama. Suara sepatunya menghentak tegel taman terdengar pelan. Masih dengan pakaian tadi pagi, kemeja lengan panjang berwarna cokelat, kain senada dan sepatu hitam—bedanya Miss Keriting membawa tas jinjing berukuran sedang, bermotif simpel berwarna gelap. Rambut keritingnya bergerak lembut seiring gerakan tubuh tinggi ramping. Dari jarak sedekat ini pula, aku baru menyadari postur Miss Keriting terlihat berbeda, dia tidak seperti wanita usia empat puluh sekian kebanyakan. Sepertinya aku—dan teman sekelas—tidak memperhatikan Miss Keriting dengan baik dikelas, lebih dulu jerih dengan rumus Matematika di papan tulis.

Aku membukakan pintu depan, “Eh, sepatunya boleh dipakai kok, Bu. Tidak apa.” Di rumah, Papa biasa mengenakan sepatu hingga ruang depan, Mama juga tidak melarangku.

“Terima kasih, Ra.” Miss Keriting tetap melepas sepatunya, anggun dan cepat, tanpa sedikit pun membungkuk, “Orang tua kau ada di rumah?”

“Seli sudah datang, Ra? Kalian mau dibuatkan minum apa sambil belajar?” Suara Mama lebih dulu terdengar sebelum aku menjawab, Mama melangkah dari ruang tengah, bergabung, sambil menyeka tangannya yang basah dengan handuk, “Eh?” terdiam sejenak, menatap ruang tamu, menatapku, pindah menatap Miss Keriting.

“Ini guru Ra, Mam.” Aku segera menjelaskan, “Guru Matematika. Nah, ini Mama Ra, Bu. Kalau Papa masih di kantor, kerja, belum pulang.”

“Saya minta maaf karena tidak memberitahu lebih dulu akan bertamu.” Miss Keriting maju satu langkah, tangannya terjulur, tersenyum.

Masih separuh bingung, Mama ikut tersenyum, menerima juluran tangan, “Eh, tidak apa. Hanya saja, aduh, saya berpakaian seadanya, kotor pula.” Mama melirik pakaiannya yang basah habis mengurus dapur. Beberapa bercak minyak dan kotoran terlihat.

“Selena.” Miss Keriting menyebut nama.

“Selena?” Mata Mama membulat, mulai terbiasa, “Aduh, Selena itu kan nama yang kami rencanakan untuk Ra sebelum dia lahir, dulu. Artinya bulan. Tapi orang tua kami tidak setuju, menyuruh menggantinya menjadi Raib. Mereka bilang itu nama leluhur yang harus dipakai bayi kami. Eh, aduh, maaf, jadi membahas hal-hal yang tidak perlu.” Mama tertawa, segera menyebut namanya, balas memperkenalkan diri.

Aku yang berdiri di antara mereka menatap lamat-lamat wajah Mama—aku tidak tahu cerita itu. Mama dan Papa tidak pernah bercerita kalau aku dulu hampir diberi nama Selena.

“Ra tidak membuat masalah di sekolah, bukan?” Mama menoleh kepadaku, sedikit cemas.

Miss Keriting menggeleng, “Ra murid yang baik. Kalian akan bangga memiliki anak dengan bakat hebat seperti dia. Satu-satunya masalah yang pernah Ra buat hanya lupa membawa buku PR-nya. Tapi siapa pula yang tidak pernah lupa?”

“Oh, syukurlah.” Mama memeluk bahuku, “Aku pikir Ra membuat masalah. Oh iya, silahkan duduk.” Mama menoleh lagi kepadaku, “Ra bikinkan minum, ya. Biar Mama yang menemani Ibu Selena.”

Aku mengangguk, tapi Miss Keriting menahan gerakan tanganku.

“Saya hanya sebentar. Waktu saya amat terbatas, dan tidak leluasa, karena itulah bergegas menemui Ra dari sekolah.” Suara Miss Keriting terdengar lugas, dia mengambil sebuah buku dari tas jinjing berwarna gelapnya, “Nah, Ra, ini buku PR Matematikamu yang kau kumpulkan tadi pagi. Sudah Ibu periksa. Meski lebih sering kesulitan, kau selalu berusaha mengerjakan tugas dengan baik. Saran Ibu, kau pelajari kembali buku PR Matematika-mu di tempat yang tepat, waktu yang tepat, dan dengan cara yang tepat, maka semua penjelasan akan tiba. Kau akan memperoleh semua jawaban. Masa lalu, hari ini, dan juga masa depan.”

Aku menatap Miss Keriting bingung. Bukan bingung dengan kalimat terakhirnya yang begitu misterius, tapi bingung kenapa Miss Keriting sendiri yang mengantarkan buku PR Matematika-ku ke rumah. Sore ini? Mendadak sekali? Kenapa tidak besok pagi? Di sekolah?

“Saya harus bergegas, Bu. Mengejar waktu dan dikejar waktu.” Miss Keriting menjulurkan tangan kepada Mama, hendak berpamitan, “Sekali lagi, saya minta maaf kalau mengganggu. Saya sungguh merasa tersanjung Ibu dulu hampir memberikan nama itu kepada Ra. Selena. Ibu benar, itu artinya bulan. Bagi bangsa tertentu, artinya bahkan lebih dari sekadar ‘bulan yang indah’, tapi juga pemberi petunjuk, penjaga warisan, benteng terakhir.”

Eh? Mama menelan ludah, lebih bingung lagi menatap wajah Miss Keriting yang tersenyum cemerlang, patah-patah ikut menerima juluran tangan Miss Keriting.

“Selamat sore, Bu.” Miss Keriting mengangguk, melepas jabat tangan, “Dan kau, Ra, jangan lupa baca buku PR-mu.” Mengedipkan matanya, tersenyum. Sedetik, tubuh tinggi ramping Miss Keriting sudah melangkah ke pintu, mengenakan sepatu, tanpa membungkuk sedikit pun.

Aku seketika teringat sesuatu saat melihat gayanya membalik badan dan memakai sepatunya. Itu kan persis sekali dengan cara pemain drama korea dengan latar belakang cerita bangsawan yang sering ditonton Seli—bedanya tentu saja Miss Keriting tidak sedang berakting, dan dia melakukannya seperti memang dia adalah golongan itu. Terlihat anggun, cekatan.

Lima detik, Miss Keriting sudah berjalan cepat di sepanjang halaman rumput, suara ketukan sepatunya terdengar pelan, berirama. Aku dan Mama ikut mengantar ke depan, masih belum mengerti—dan tidak sempat bertanya, menatap punggungnya, Miss Keriting menaiki mobil berwarna gelap yang terparkir rapi di depan gerbang, melambaikan tangan, jendela kaca mobil lantas naik menutup, mobil bergerak maju, dengan cepat hilang di kelokan jalan.

**bersambung


Blog EntryMar 6, '12 6:00 AM
for everyone

"Aku boleh mengerjakan PR Bahasa Indonesia nanti sore di rumah kau ya, Ra?” Seli memegang lenganku, kami dalam perjalanan pulang sekolah, angkutan umum yang kami tumpangi penuh.

Aku menoleh, mengerjakan PR Bahasa Indonesia bersamaku?

“Kau yang paling pandai di kelas soal bahasa, Ra. Meski si jenius Ali itu bisa membuat mobil terbang sekalipun, tidak mungkin belajar mengarang dengannya. Aku belajar di rumah kau saja, ya, boleh?” Seli memajukan bibirnya.

Aku berpikir sejenak, mengangguk.

“Trims, Ra. Nanti sore jam setengah tiga, ya. Biar nggak kemalaman pulang.” Seli tersenyum riang. Angkutan umum terus mengambil jalur kiri, merangsek macet, membuat tambah macet—meski penumpang seperti kami senang-senang saja, jadi lebih cepat.

Aku tiba di rumah sesuai jadwal. Seli bilang dia saja yang traktir bayar ongkos. Aku menggeleng, tapi Seli duluan berseru ke sopir, “Nanti belakang yang bayar, Pak.” Aku nyengir, baiklah, turun dari angkot tanpa membayar. Membuka gerbang pagar, melangkah di halaman rumput terpangkas rapi. Mendorong pintu, berseru memanggil Mama, “Ra, sudah pulang, Mam.” Lagi-lagi hanya si Putih yang riang berlarian turun anak tangga menyambutku, mengeong-ngeong antusias. Aku melepas sepatu, melemparkannya sembarangan ke rak.

“Hallo, Put.” Meraih kucingku, menggendongnya. Si Putih menyundul-nyundulkan wajah manja. Bulu tebalnya terasa lembut di lengan.

“Si Hitam belum kembali juga, ya?” Aku menatap sekitar, memeriksa. Si Putih mengeong pelan, mata bulatnya bercahaya.

Berjalan melewati ruang keluarga, menuju dapur. Biasanya Mama bahkan baru mendengar pintu di dorong sudah tahu aku yang pulang, menyuruh bergegas makan, kali ini tidak ada jawabannya. Aku tahu kenapa saat tiba di belakang rumah. Mama, tangan penuh busa, rambut berantakan, sedang mencuci dengan tangan.

“Kau sudah pulang, Ra? Tidak ada pertemuan klub menulis?” Mama bertanya, tangannya tetap sibuk mengucek pakaian di dalam ember besar.

“Eh, kenapa nggak pakai mesin cuci baru, Mam?” Aku tidak menjawab, sebaliknya bertanya sambil menatap bingung.

“Mesin cuci baru itu rusak, Ra.” Suara Mama terdengar sebal, “Dari tadi Mama utak-atik, tetap saja tidak menyala. Awas saja kalau mereka tidak datang sore ini, bakal Mama tulis ke semua koran kalau toko elektronik itu tidak becus. Tega sekali, mereka menjual barang rusak.”

Aku terdiam sejenak, berusaha mengerti kalimat Mama, lantas sejenak nyengir, menahan tawa, lihatlah, wajah Mama menggelembung bete selalu lucu.

“Masa’ iya sudah rusak, Mam?”

“Kau lihat saja, Ra, tuh, sama rusaknya seperti mesin cuci yang lama. Lebih parah. Tidak mau dinyalakan sama sekali.” Mama menunjuk pojok belakang rumah dengan jari penuh busa, “Mereka janji datang sebelum jam tiga, ditukar dengan mesin cuci yang baru. Tadi Mama sudah ancam, telat satu menit pun, Mama akan bikin konferensi pers. Tante kau kan wartawan televisi, bila perlu Mama masuk liputan berita.”

Aku benar-benar tertawa sekarang. Mama itu kalau lagi sebal, suka berlebihan.

“Kenapa malah tertawa? Sana bergegas ganti seragam, Ra. Makan siang.” Mama melotot, “Dan, aduh, masa’ iya tiba di rumah langsung main dengan kucing? Si Hitam atau si Putih itu kan bisa main sendiri, atau mainnya nanti-nanti?”

Aku buru-buru melipat tawa, mengangguk, kalau Mama sudah bete, memang lebih baik segera menyingkir, atau ikutan kena semprot. Aku meletakkan si Putih di lantai, berlari kecil menaiki anak tangga. Masuk ke dalam kamar, melemparkan tas ke kursi, reflek melihat cermin, teringat tadi malam aku melihat bayangan si Hitam di sana. Tidak ada. Aku mengeluh dalam hati, kenapa aku jadi aneh sekali. Berharap menemukan si Hitam di dalam cermin? Itu mustahil, kan. Terlanjur menatap cermin, sejenak menatap jidatku, menghela nafas, jerawatku terlihat seperti bintang terang di gelap malam—atau malah bulan saking besarnya. Hendak kupencet, tapi urung. Lebih baik segera menyibukkan diri, biar aku lupa kalau ada jerawat batu sialan di jidat.

Mood Mama membaik saat aku duduk hampir menghabiskan makan siang setengah jam kemudian. Mama mengeringkan tangannya dengan handuk, bergabung ke meja makan.

“Sudah selesai, Mam?”

“Sudah.” Mama menjawab pendek.

“Mam, nanti sore Seli main ke rumah. Mengerjakan PR bareng, boleh ya?” Aku teringat percakapan di angkot tadi, memberitahu.

Mama mengangguk, meraih piring, mendekati rice cooker.

“Setidaknya mencuci dengan tangan bikin Mama jadi berkeringat, olahraga.” Mama bergumam, beranjak membuka tutup mangkok sop daging, “Eh, kau habisin semua sop dagingnya, Ra?”

Aku mengangkat bahu, “Kirain Mama sudah makan.”

“Aduh, Ra, kan kamu bisa nanya Mama dulu.” Mama mengomel, membuka mangkok lainnya, “Ra harusnya tahu, Mama butuh makan banyak setelah menaklukkan seember besar cucian.”

Aku menahan tawa, sebenarnya, Mama selalu melampiaskan sebal dengan makan. Semakin bete Mama, semakin sering dan banyak makan. “Setidaknya Mama tidak melampiaskannya dengan belanja, Ra. Itu berbahaya, bisa membuat bangkrut keluarga.” Papa dulu pernah berbisik saat Mama uring-uringan dua hari karena Papa lupa tanggal ulang tahun pernikahan. “Untungnya Mama hanya punya dua hal pelampiasan ya, Ra.”

Mama mengambil apapun masakan yang tersisa di atas meja. Duduk, menghembuskan nafas, mulai makan. Aku tidak banyak komentar, ikut menghabiskan makanan di piringku.

“Eh, Ma, Ra boleh tanya sesuatu?” Lima menit hanya suara sendok.

Ya? Mama mengangkat kepala.

“Mama dulu waktu remaja jerawatan nggak, sih?”

Mama menyelidik wajahku, melihat jidatku, “Jerawatan itu biasa, Ra.”

“Tapi nggak sebesar ini, Mam. Lihat, besar banget, sudah kayak bisul.” Aku kecewa melihat ekspresi Mama—kirain bakal simpati.

“Wajah Ra tetap manis bahkan dengan jerawat dua kali lebih besar dibanding itu. Percaya Mama, deh.” Mama menunjuk jidatku dengan sendoknya.

Aku menyeringai. Tentu saja Mama akan bilang begitu, aku jelas-jelas anak gadisnya—dalam situasi sebal sekalipun Mama pasti akan memilih menyemangatiku.

“Ada obatnya nggak sih, Mam?” Aku bertanya lagi setelah diam sejenak.

“Nanti juga hilang, Ra.” Mama menggeleng.

“Iya kalau hilang, kalau nambah banyak?”

Mama tertawa, “Kau ada-ada saja, kalaupun nambah banyak, wajah Ra tetap manis. Eh, atau jangan-jangan Ra malu punya jerawat, ya?”

Aku menggeleng. Siapa pula yang malu, ini cuma menjengkelkan.

“Atau jangan-jangan Ra malu dilihat teman laki-laki di sekolahan, ya? Ada yang naksir, Ra? Atau sebaliknya?” Mama menyelidik, “Siapa sih, Ra?”

Aku memonyongkan bibir. Mama itu nggak seru kalau lagi sebal karena sesuatu. Karena dua hal pelampiasannya yang dibilang Papa dulu, selain makan, apalagi kalau bukan menggodaku.

“Papa pulang malam lagi, Mam?” Aku buru-buru banting stir pembicaraan.

“Iya, tadi Papa sudah telepon. Papa lagi punya banyak urusan di kantor.” Mama menghela nafas prihatin, enggan bercerita lebih detail—meskipun sebenarnya aku sudah tahu dari menguping semalam, “Tuan Direktur lagi marah-marah terus.” Mama mengedipkan mata, tersenyum tipis, “Nah, setidaknya, nanti malam Ra boleh makan lebih dulu, tidak perlu menunggu Papa pulang.”

Aku balas tersenyum tipis. Semoga Papa terus semangat.

Agar uring-uringan Mama tidak kemana-mana, aku menawarkan diri mencuci piring, juga membersihkan meja dan peralatan masak. Mama membawa ember ke halaman belakang, menjemur pakaian basah. Tidak banyak yang kulakukan setelah itu, memilih membawa buku pelajaran turun ke ruang tamu, menunggu Seli sambil membaca novel—sambil berkali-kali reflek memegang jerawat di jidat, dipencet-pencet gemas.

Pukul setengah tiga persis bel rumah berbunyi nyaring.

“Ra, ada tamu, tuh.” Mama berteriak dari dalam.

Aku mengangguk, ini juga sudah berdiri hendak membuka gerbang pagar. Seli sepertinya sudah tiba. Si Putih berlarian menemaniku melewati halaman rumput. Eh? Gerakan tanganku terhenti saat hendak membuka gerbang, menatap ke depan. Bukan Seli yang datang.

**bersambung


Blog EntryMar 4, '12 7:39 PM
for everyone

Bumi : Episode 9

 

Papa baru pulang lewat pukul sepuluh. Aku yang belum tidur, meski sudah mematikan lampu dari tadi, bergegas turun saat mendengar mobil memasuki garasi, menutupkan kedua belah telapak tangan ke wajah, mengintip dari sela jemari, berdiri di anak tangga.

“Papa minta maaf, Mam.” Suara Papa terdengar lelah, menyeka rambut di dahi, “Hari ini di pabrik kacau sekali.”

“Tadi pagi Papa buru-buru berangkat ke kantor, karena jadwal pengoperasian mesin yang dibeli enam bulan lalu itu ternyata dimajukan hari ini. Pemilik perusahaan mengajak beberapa manajer senior ke pabrik, melihat seberapa baik mesin itu bekerja.” Papa menghembuskan nafas, menghempaskan badan di sofa, melepas sepatu, “Setengah jam pertama, mesin itu sepertinya tidak bermasalah, bahkan sangat prima, tapi entah kenapa, persis saat kami akan kembali ke kantor, salah-satu sabuk mesin terlepas, itu mesin pencacah raksasa, terbayang saat sabuk dengan lebar setengah meter, panjang tiga puluh meter terlempar begitu saja ke udara. Sebelas karyawan luka parah seketika, dilarikan ke rumah sakit. Belasan lain luka ringan, terkena bahan mentah yang seperti peluru ditembakkan ke segala penjuru. Rombongan dari kantor beruntung ada di box terlindung kaca, hanya dindingnya yang retak.”

“Tapi tidak ada yang meninggal, bukan?” Mama bertanya prihatin, membantu membereskan sepatu dan kaos kaki Papa.

Papa menggeleng, “Tetap saja itu kecelakaan paling serius yang pernah terjadi. Operasional pabrik terpaksa dihentikan, hingga mesin itu diperbaiki, boleh jadi hingga seminggu ke depan, dan itu otomatos berarti Papa harus berangkat pagi, pulang malam seminggu ke depan. Semua ini benar-benar seperti di luar akal sehat, itu mesin baru, teknisi bule yang memasangnya bahkan masih ada di pabrik, sabuk setebal itu putus begitu saja, seperti ada yang memotongnya dengan benda tajam.”

Mama tidak berkomentar lagi, hanya tatapan matanya yang lembut bilang, sebaiknya mandi dulu, makan malam, istirahat, semua masalah pasti bisa diselesaikan.

“Belum lagi, Mam, pemilik perusahaan marah-marah, dan Papa-lah yang paling kena batunya. Papa yang menyarankan membeli mesin itu, memeriksa speksnya, memilih vendornya, dia bahkan berteriak-teriak mengancam akan memecat siapa saja yang tidak becus. Hari ini melelahkan sekali, mengurus buruh yang terluka, juga mengurus bos besar yang mengamuk. Papa minta maaf lupa menelepon. Telepon genggam Papa ketinggalan di kantor, tidak tahu kalau Ra dan Mama sudah menelepon berkali-kali, cemas menunggu makan malam bersama.” Papa menyisir rambutnya dengan jemari. Menatap Mama merasa bersalah.

Mama tersenyum anggun, tidak masalah, ayo bergegas mandi. Pasti jadi lebih segar.

Aku yang mengintip dari balik jari tengah dan telunjuk di anak tangga menghela nafas. Kalau sudah begini, pasti urusan di kantor besok-besok akan tambah rumit. Kalau sudah begini, siapa pula yang sedang berusaha memenangkan hati pemilik perusahaan dengan konser musik? Aku beranjak naik ke lantai atas, kembali ke kamar.

“Papa sudah makan?”

“Belum sempat. Tepatnya tidak kepikiran. Mama sudah?”

“Belum. Hanya Ra yang sudah. Dia pura-pura mau pingsan bahkan sejak pukul tujuh. Anak itu semakin susah disuruh makan malam bersama.”

Suara bergurau Mama terdengar lamat-lamat, juga tawa Papa yang lelah, aku sudah pelan mendorong pintu kamarku. Menatap kamarku yang gelap, menyisakan selarik cahaya dari lampu jalanan. Hujan deras terus turun di luar. Si Putih tidur meringkuk di pojokan kasur. Jam dinding berbunyi pelan detik demi detik. Aku menghela nafas, melangkah ke ranjang sambil menatap cermin besar di meja belajar.

Eh? Bukankah itu? Aku hampir berseru kaget. Remang cahaya lebih dari cukup untuk melihat pantulan cermin, lihatlah ada si Hitam di cermin, tidur di dekat si Putih. Aku reflek menoleh ke atas ranjang. Tidak ada. Reflek kembali menoleh ke cermin. Tidak ada. Aku menelan ludah. Melangkah lebih dekat ke cermin besar yang persis ada di samping ranjangku, memastikan. Aku tidak mungkin salah lihat, aku tadi melihatnya di dalam cermin, si Hitam tidur disebelah si Putih. Ini benar-benar ganjil. Menatap lamat-lamat cermin besar, yang sekarang hanya memantulkan apa yang ada di kamar. Hanya ada si Putih dan aku—yang merapikan rambut panjangku, sambil menatap sekitar bingung.

Itu bukan hari terbaikku, setelah tadi pagi dihukum Miss Keriting menunggu di lorong kelas selama pelajarannya, bertengkar dengan si biang masalah, siangnya, pulang sekolah kucingku hilang satu, dan malam ini, barusaja aku tahu Papa punya masalah di kantor, saat ini ditambah pula aku jadi susah tidur.

Aku sudah tiduran, menutup badan dengan selimut, memeluk guling, tapi aku hanya menatap cermin di kamar. Mematut-matut, meletakkan tangan di wajah, menghilang, lantas mengintip dari sela jari, menatap cermin besar itu, berharap melihat sesuatu. Tidak ada si Hitam di sana. Suara hujan deras memenuhi langit-langit kamar, kelebat petir terlihat dari balik tirai jendela, gemeretuk guntur. Cahaya remang kamarku terlihat memantul di cermin besar. Temaram. Tidak ada apapun di sana. Aku menghela nafas kecewa, aku yakin sekali tadi melihat si Hitam di dalam cermin.

Hingga satu jam berikutnya, tetap tidak ada apapun dan siapapun di cermin besar itu.

Aku kelelahan, jatuh tertidur.

***

Pagi sekali, weker alami rumah kami, Mama, sudah berteriak-teriak membangunkan, “Ra, bangun! Papa harus berangkat pagi, ayo bangun!”

Aku menguap, menyingkap selimut. Si Putih masih malas meringkuk di ujung kakiku. Teringat percakapan orang tuaku tadi malam, bergegas loncat dari ranjang. Aku harus membantu Papa, setidaknya dengan tidak merepotkan membuatnya menungguku. Mandi dengan cepat, berganti seragam, menyiapkan tas sekolah, memastikan buku PR Matematika itu kubawa. Lantas bergabung turun.

“Pagi, Ra.” Papa menyapaku, sedang sarapan—tidak menyentuh koran pagi.

“Pagi, Pa.” Aku langsung menyeret kursi.

“Ra mau sarapan apa?”

“Nasi goreng saja, Ma.”

Mama menyendok nasi goreng di tengah meja makan.

“Bagaimana sekolah Ra kemarin?” Papa bertanya.

“Seperti biasa, Pa.”

Papa mengangguk, tidak bertanya lagi. Aku bergegas menghabiskan sarapanku. Mama sibuk membereskan peralatan masak kotor. Sarapan cepat, sepuluh menit aku sudah melangkah di belakang Papa menuju garasi, mencium tangan Mama, dan tiga puluh detik kemudian, mobil yang dikemudikan Papa meluncur ke jalan raya.

Sepanjang perjalanan Papa lebih sering menerima dan menelepon. Loudspeaker, aku bisa mendengar percakapan. Tentang buruh di rumah sakit, apakah keluarga mereka sudah datang, Papa bertanya memastikan, tentang mesin pencacah raksasa, tadi malam teknisi bule itu pulang jam berapa, Papa mengangguk mendengar jawabannya. Aku menatap keluar jendela, tidak terlalu tertarik menguping pembicaraan. Pagi ini cerah, wajah-wajah sibuk menyambut pagi disiram cahaya lembut matahari. Langit terlihat bersih, hanya sisa air hujan di ujung atap rumah, halte, pepohonan, juga genangan kecil di jalan.

“Bagaimana mesin cuci, Mama? Oke, bukan?”

“Eh?” Aku menoleh ke depan.

“Ra kemarin jadi menemani Mama ke toko elektronik?” Papa bertanya, tersenyum.

“Oh, jadi, Pa. Tapi Mama cuma beli model dan merk yang sama persis dengan yang lama, kok. Kata Mama biar sama awetnya, lima tahun.” Aku nyengir.

Papa mengangguk, “Ra hari ini pulang sore?”

Aku menggeleng, “Tidak ada les, Pa. Pertemuan klub menulis juga ditiadakan.”

Mobil hampir tiba di sekolah. Dengan kesibukan baru Papa, hanya itu percakapan kami. Tidak sempat ada momen Papa memberikan petuah saktinya—meski itu kadang tidak nyambung. Aku bersiap-siap memasang tas di punggung. Mobil merapat ke gerbang sekolah, aku memajukan kepala ke depan, “Semangat ya, Pa!”

“Eh?” Papa menoleh, tidak mengerti, “Semangat buat apa?”

“Pokoknya semangat saja!” Aku tertawa, “Semangat ya, Pa!”

Papa diam sejenak, menyelidik, akhirnya mengangguk, “Iya, Ra juga semangat ya!”

“Da, Papa.” Aku membuka pintu mobil, beranjak turun.

“Da, Ra.”

Mobil segera meninggalkan gerbang sekolah. Aku menatapnya hingga hilang dikelokan jalan.

Sejak aku sudah mengerti, aku tahu, di keluarga kami juga ada peraturan tidak tertulis—diluar peraturan Mama yang setebal novel itu. Papa tidak akan pernah membicarakan masalah kantor kepadaku. Juga Mama, tidak akan pernah membicarakan masalah apapun di luar sana kepadaku. Mereka berjanji tidak akan melibatkan Ra yang masih kecil (sekarang sudah remaja), membuat Ra ikut kepikiran, ikut cemas, mengganggu jam belajarnya. Biarkan Ra menikmati masa-masa terbaiknya, demikian penjelasan Mama yang aku tahu dari mengintip dibalik sela jemari. Biarkan masalah-masalah itu hanya ada di Mama dan Papa.

Aku berlarian kecil melewati lapangan sekolah yang masih sepi. Sepertinya aku orang pertama yang tiba di sekolah pagi ini. Menaiki anak tangga, berjalan di lorong lantai dua, masuk ke dalam kelas. Lengang. Menuju meja, meletakkan tas. Melihat sekitar yang kosong. Melangkah ke lorong depan kelas, sepertinya lebih baik menunggu teman-teman di sana, sambil menatap lapangan sekolah. Mungkin asyik menatap bangunan sekolah yang lengang.

“Pagi, Ra.” Suara khas itu membuatku menoleh.

Itu bukan suara Seli. Sejak kapan si berantakan biang masalah ini ramah menegur orang lain? Biasanya juga tidak peduli, jalan seradak-seruduk, mencari masalah. Dan sejak kapan pula dia datang sepagi ini? Bukankah biasanya dia nyaris terlambat?

“Kau tidak menjawab salamku, Ra?” Ali menatapku cengar-cengir, tidak membawa tas, sedang menepuk-nepukkan tangannya, membersihkan debu, dia seperti habis melakukan sesuatu, habis memasang sesuatu, entahlah.

“Kau sudah datang dari tadi?” Aku menyelidik.

“Setengah jam lalu. Gerbang sekolah malah masih dikunci.” Ali tertawa, “Kau belum menjawab salamku, Ra? Tidak sopan disapa baik-baik tapi malah dijawab dengan pertanyaan.”

Bodo amat, aku kembali menatap lapangan.

“Bagaimana kabar kucingmu? Sudah ketemu si Hitam?”

Aku reflek menoleh, mematung sejenak, menatap Ali tidak mengerti.

Si biang masalah itu tertawa, melambaikan tangan, melangkah masuk ke dalam kelas.

***bersambung


 

Bumi : Episode 10

 

“Eh, hei,” Aku bergegas mensejajari Ali, “Dari mana kau tahu si Hitam hilang?”

Ali nyengir, bodo amat, terus berjalan, membalas ekspresiku tadi.

“Dari mana kau tahu?” Aku menghalangi langkahnya. Sebal.

“Jawab dulu salamku yang tadi, Ra.” Ali berkata santai, “Baru kupikirkan akan memberitahu kau atau tidak.”

Aku melotot, sebal bukan kepalang. Menatap wajah Ali dengan mata galak, tidak mempan, sepertinya aku tidak punya pilihan, si biang masalah ini tidak akan mengalah hanya karena aku cewek, baiklah, “Pagi juga.”

“Ah, itu sih bukan menjawab salam. Itu orang lagi ketus, Ra.”

Ingin rasanya aku mendorong tubuh si biang masalah itu.

“Coba diulangi, nah, selamat pagi, Ra.”

Aku menelan ludah. Meremas jemari.

“Selamat pagi, Ra.” Ali mengulang salamnya, cengar-cengir, sengaja benar menunggu balasan jawabanku.

“Selamat pagi, Ali.” Aku benar-benar kalah.

“Masih belum pas, Ra. Masih kayak orang kebelet ke belakang jawab salam” Ali tertawa.

Aku hampir mendorong badannya, jengkel.

“Selamat pagi, Ra.” Mengulang salamnya, menahan tawa.

“Selamat pagi, Ali.” Kali ini aku menjawab sungguh-sungguh.

“Nah, itu baru keren. Bye, aku lapar, Ra, mau ke kantin dulu.” Si biang masalah itu justeru balik kanan, kembali ke lorong, hendak menuju anak tangga.

“Eh, hei, nanti dulu.” Aku bergegas menghalangi, “Kau sudah janji tadi, bilang dari mana kau tahu kalau kucingku hilang?”

“Siapa yang janji?” Ali memasang wajah paling bodoh sedunia—maksud dari ekspresi wajah itu sebenarnya adalah akulah yang bodoh sedunia, tidak mengerti kalimatnya, “Aku tadi hanya bilang nanti kupikirkan akan memberitahu kau atau tidak. Hanya itu.”

Aku terdiam, menggeram.

“Atau kau mau mentraktirku semangkok bubur ayam, Ra?” Ali tersenyum, mengedipkan mata, “Nanti baru kupikirkan lagi apakah akan memberitahu kau atau tidak.”

Tidak mau. Sebalku nyaris di ubun-ubun.

“Atau kau jawab dulu pertanyaanku kemarin. Kau sungguhan bisa menghilang kan, Ra? Nanti akan kuberitahu apapun pertanyaan kau, bahkan termasuk misalnya, apakah Miss Keriting itu rambutnya benar-benar keriting atau hanya wig.”

Aku berpikir sejenak, lantas menghembuskan nafas, berusaha mengempiskan rasa jengkel. Urusan ini sama seperti yang kubilang pada Seli. Percuma, tidak pantas ditanggapi. Semakin ditanggapi, si biang masalah semakin senang, dan dia semakin punya amunisi. Aku menyeka dahi, memutuskan melangkah meninggalkan Ali.

“Hei, Ra, kenapa kau malah pergi?” Ali mengangkat bahunya, bingung.

Aku masuk ke dalam kelas, tidak menoleh.

“Hei, Ra, kita ngobrol di kantin, mumpung sepi. Nanti aku beritahu darimana aku tahu kucing kau hilang. Di sana tidak akan ada yang menguping pembicaraan tentang hilang-menghilang itu.” Ali berusaha membujuk, sedikit menyesal gagal menjebakku mengaku, “Atau kau mau tahu sesuatu? Misalnya, apakah si Hitam itu sungguhan ada atau tidak? Aku bisa membantu.”

Aku sudah memutuskan tutup telinga, melangkah menuju meja. Si biang masalah itu memang jenius, serba tahu, banyak akal, tapi dia lupa satu hal, justeru karena kejeniusan dan rasa ingin tahunya itulah yang menjadi kelemahannya. Cepat atau lambat, karena rasa penasaran, dia akan mengalah, dan aku akan tahu dari mana dia bisa tahu kucingku si Hitam hilang—termasuk seruannya barusan.

“Dasar jerawatan. Segitu saja sudah marah, cewek banget.” Ali bergumam kesal, menyerah, meninggalkanku sendirian di kelas.

Apa Ali bilang? Jerawatan? Kalau saja menurutkan perasaan, sudah kutimpuk biang masalah itu dengan sepatu, sejak kapan ada yang mengumpatku jerawatan.

***

Matahari beranjak naik, langit cerah, membuat cahayanya menerabas lembut melewati kisi-kisi ruangan. Sekolah mulai ramai, teman-teman kelas satu persatu masuk, meletakkan tas. Saling sapa satu sama lain. Suara dengung percakapan, teriakan, ada yang bermain bola di lapangan, apa saja memenuhi sekolah. Seli tiba setengah jam kemudian, menyapaku, “Pagi, Ra.” Aku tersenyum, mengangguk. “Kau tidak ketinggalan buku PR Miss Keriting lagi, kan?” Seli tertawa, bertanya sambil memasukkan tas ke dalam laci meja. Aku mengangkat buku PR Matematika.

Pukul tujuh lewat lima belas menit, bel bernyanyi nyaring. Menghentikan seluruh keramaian, anak-anak bergegas masuk ke dalam kelas. Pelajaran pertama hari ini akan segera dimulai.

Seperti biasa, ketukan suara sepatu Miss Keriting terdengar di lorong, jauh sebelum dia tiba di kelas. Hari ini dia mengenakan kemeja cokelat lengan panjang, celana kain senada, sepatu hitam. Cocok dengan wajahnya yang penuh disiplin. Rambut keritingnya terlihat rapi. Eh, apakah itu asli atau wig? Aku buru-buru mengusir pertanyaan dalam hati saat melihat rambut Miss Keriting—ini pasti gara-gara Ali barusan, semua yang keluar dari mulutnya memancing rasa penasaran.

“Selamat pagi, anak-anak.”

“Pagi, Bu.” Kami kompak menjawab.

“Keluarkan buku PR kalian.” Itu selalu kalimat standar pembuka Miss Keriting. Dia tidak merasa perlu mengabsen kami, cukup mengabsen buku PR.

Anak-anak bergegas mengeluarkan buku PR dari dalam tas. Dan rasa sebalku dibilang jerawatan oleh biang masalah itu mendapat balasan. Lihatlah, Ali lagi-lagi tidak mengerjakan PR. Tepatnya dia mengerjakan, hanya saja salah halaman. “Brilian sekali, Ali. Ibu suruh kerjakan halaman 50, kau malah mengerjakan halaman 40. Sebagai informasi, Ali, itu PR kita minggu lalu. Makanya lubang telinga kau yang besar itu harus sering-sering dibersihkan.”

Teman-teman sekelas tertawa. Satu-dua menepuk ujung meja. Seli menyikutku, memasang wajah senang (yang jahat).  Kami menatap Ali meninggalkan kelas, dia menggaruk rambutnya yang berantakan, melangkah menuju bingkai pintu. Aku menatap punggung Ali, menilik raut wajahnya, sepertinya biang masalah itu tidak merasa malu atau keberatan diusir dari kelas pagi ini, malah senang.

Pelajaran Matematika yang selalu terasa lebih panjang dari biasanya dimulai. Satu jam berlalu, tiga-empat orang teman menguap memperhatikan seliweran rumus di papan tulis, mulai gelisah, seperti duduk di bangku panas. Miss Keriting sebenarnya guru yang baik, dia menjelaskan dengan terang dan sistematis. Dua jam berlalu, separuh teman menyusul menguap, mengeluh tidak mengerti, konsentrasi berkurang cepat, meskipun Miss Keriting berusaha bergurau di tengah pelajaran, intermezzo. Akhirnya bel istirahat pertama berbunyi nyaring menyelamatkan sisa teman yang belum menguap. Dengung riang memenuhi langit-langit kelas, meski bungkam sejenak saat Miss Keriting berseru minggu depan ulangan sumatif. Tidak apalah, setidaknya masih minggu depan penderitaan ulangan itu.

“Temani aku ke kantin, Ra.” Seli memegang lenganku. Isi kelas tinggal separuh.

“Aku tidak lapar.” Aku menggeleng malas.

“Ayolah, aku traktir makan bakso lagi.” Seli mengedipkan mata.

Aku nyengir, bukan soal ditraktir atau tidaknya. Aku lagi malas kemana-mana, lebih suka duduk di kelas. Tapi Seli berhasil membujukku, isi kelas dengan segera kosong, teman-teman memilih melemaskan badan di luar setelah sepagian menatap rumus Matematika, menyisakan satu anak di kelas, dan itu adalah Ali. Dia justeru melangkah masuk ke kelas, menepuk-nepukkan tangannya, membersihkan debu, lagi-lagi seperti habis memasang sesuatu. Naga-naganya Ali akan tinggal di kelas, dia bahkan melirik mejaku, baiklah, lebih baik aku ikut Seli ke kantin.

Letak kantin ada di belakang sekolah, bangunan tersendiri, persis di sebelah parkiran motor, dan bangunan gardu listrik dengan tiang-tiang tinggi. Aku dan Seli berjalan cepat menuruni anak tangga, melintasi lorong bawah, sesekali menyapa dan di sapa teman yang lain. Kantin tidak seramai kemarin, tapi tetap tidak mudah memperoleh meja kosong.

“Jangan di sana, Ra.” Seli mendadak menahan lenganku.

Eh, bukannya mau makan bakso? Aku menatap Seli tidak mengerti.

“Ada kakak kelas geng cheerleaders kemarin. Yang kau timpuk kepalanya.” Seli menarik tanganku, berbisik jerih, ngacir, “Kita makan batagor saja, ya.”

Aku tertawa, menatap kerumunan kakak kelas itu, boleh jadi juga mereka sudah lupa, kan. Seli menggeleng tegas, tidak mau. Baiklah, aku mengikuti punggung Seli.

Lima menit menunggu, dua piring penuh batagor terhidang.

“Kau tidak sempat sarapan di rumah, Sel?” Aku menatap Seli yang antusias meraih sendok.

“Sarapan, kok. Selalu.” Seli menyendok dua potong batagor sekaligus, “Lapar saja. Pelajaran Miss Keriting itu menghabiskan banyak kalori, Ra.”

Aku tertawa, mengangguk setuju, meraih piringku.

“Kau tahu tidak, rambut Miss Keriting itu asli keriting atau bohongan?” Aku asal comot ide percakapan, tiga menit setelah diam—karena Seli asyik sekali dengan batagornya.

“Eh?” Dahi Seli terlipat, “Asli, kan? Memangnya wig, Ra?”

Aku mengangkat bahu, aku juga bertanya. Penasaran gara-gara si biang masalah itu bilang tadi pagi. Dua gelas es jeruk dikirimkan ke meja kami. Seli ber-hah kepedasan, bilang terima kasih.

“Kau sekarang jerawatan ya, Ra?” Seli menyelidik, menatap jidatku, sambil meneguk sepertiga isi gelasnya.

Eh? Aku reflek menyentuh jidat yang ditatap Seli. Jadi ingat lagi tadi pagi diumpat Ali, ‘dasar jerawatan’. Benar, ternyata di jidatku ada benjol kecil. Mengangkat gelas, melihat bayangan jerawat di jidat. Aku mengeluh.

Sebenarnya aku tidak jerawatan, jerawat seperti ini selalu saja muncul kalau aku lagi banyak mikir. Sepertinya, memikirkan kejadian kucingku si Hitam hilang, masalah kantor Papa tadi semalaman sukses membuatku berjerawat. Merekah seperti jamur di pagi penghujan.

“Itu bakal jadi jerawat besar loh, Ra.” Seli menyibak tanganku.

Aku memegang-megangnya, memang terasa besar.

“Jangan dipegang, Ra. Nanti tambah besar. Apalagi sampai pecah sembarangan, kau pencet-pencet. Bisa beranak-pinak, jadi tambah banyak. Horor, Ra.” Wajah Seli serius sekali—sudah seperti wajah dokter spesialis kulit & kecantikan para boyband korea yang digemarinya.

Aku melotot, bukannya menghibur temannya yang jerawatan, Seli malah nakut-nakutin. Apa mau dikata, usiaku masih lima belas tahun, dan seperti kebanyakan remaja seumuranku, jerawat satu saja bisa bikin rusak suasana hati. Aku akhirnya hanya mampu menghabiskan separuh porsi batagorku, mood makanku hilang, apalagi ditambah mengingat umpatan Ali. Seli menawarkan diri menghabiskan batagorku. Tuntas satu menit, aku mengajak Seli kembali ke kelas, menunggu bel masuk yang tinggal beberapa menit lagi di sana saja.

“Lusa kantinnya tutup loh, Neng. Sudah tahu?” Mamang batagor basa-basi mengajak bicara, sambil mencari kembalian dari sakunya.

“Tutup? Kok tidak ada pengumuman jauh-jauh hari?” Seli yang selalu berkepentingan dengan kantin bertanya memastikan.

“Mendadak, Neng. Itu gardu listrik dekat kantin mau diperbaiki, karena kantin ini dekat dari gardu, jadi diminta ditutup sama petugasnya. Tadi baru saja petugas PLN-nya bilang. Hanya tutup tiga hari. Eh, nggak ada kembaliannya ini. Gimana?”

“Ya sudah, sekalian buat bayar Mamang bakso, kemarin saya beli dua mangkok, tolong dibayarakan, ya, juga dengan es jeruk.” Seli gesit punya ide lain—melirik meja dekat gerobak bakso yang masih diisi geng cheerleaders. Mamang batagornya mengangguk, sudah biasa pola pembayaran ‘canggih’ seperti ini di kantin.

Sisa pelajaran hari ini lebih santai, teman-teman lebih banyak tertawa mengikuti pelajaran Sejarah. Gurunya kocak, meski sudah beruban, sepuh, hampir pensiun. Mister Rosihan lebih banyak mengajar dari pengalamannya dibanding buku teks yang kami pegang, membawa kliping-kliping koran ke dalam kelas yang tebalnya membuat kami semakin respek padanya. Menurut bisik-bisik Seli, Mister Rosihan bahkan kenal dengan beberapa tokoh nasional dalam buku sejarah kami.

Lewat istirahat kedua, jam pelajaran terakhir adalah Bahasa Inggris. Mister Theo, guru yang tampan dan pintar berbahasa Inggris itu (lima tahun pernah tinggal di London), menyuruh kami bermain drama, praktek conversation. Seli—yang fans berat dengan Mister Theo, terlihat menyungging senyum sepanjang pelajaran. Lebih banyak memperhatikan wajah Mister Theo lantas mengangguk sok paham, dibanding menyimak penjelasan. Dua kali Seli salah paham, sok siap maju ke depan kelas padahal belum dipanggil. Teman sekelas ramai tertawa, Seli hanya cemberut kembali ke bangku.

Aku juga suka dengan pelajaran ini, juga pelajaran Sejarah sebelumnya, tapi jerawat sialan di jidat membuatku tidak konsen. Meski Seli sejak dari kantin berkali-kali menyikut, berbisik, “Jangan dipegang-pegang, Ra. Nanti menular ke pipi, dagu, hidung, kemana-mana.” Aku tetap saja reflek memegang jerawat itu. Rasanya ingin kupencet kencang-kencang. Ini situasi yang menyebalkan, belum lagi aku satu kelompok dengan Ali mementaskan drama itu. Si biang masalah itu berkali-kali sengaja menunjuk jidatku dengan ujung bibirnya.

Bel pulang berbunyi nyaring. Mister Theo menutup pelajaran dengan mengajak kami bertepuk-tangan, apresiasi atas pentas drama amatiran di depan kelas barusan. Teman-teman bergegas membereskan buku dan tas. Aku melangkah malas kembali ke meja. Hari yang buruk, sekali lagi reflek menyentuh jerawat besar di jidat, mengeluh dalam hati, jangan-jangan dua-tiga hari ke depan aku akan terus berurusan dengan jerawat ini—hingga kempes dan hilang sendiri.

Aku sama sekali belum menyadari, justeru gara-gara jerawat batu inilah terjadi sesuatu yang mencengangkan beberapa jam ke depan.

**bersambung


Blog EntryMar 2, '12 7:56 PM
for everyone

Lima belas menit kemudian, mengunci pintu, menutup gerbang pagar, Mama memboncengku dengan sepeda motor vespa, melaju di jalanan pukul tiga sore. Belum terlalu macet, cahaya matahari mulai terasa lembut, meski udara pengap kota tetap terasa. Mama gesit menyalip kendaraan lain—kalau saja aku lebih riang, aku akan nyeletuk, “Salip lagi yang di depan, Mam. Lebih cepat.” Tertawa. Dan Mama akan balas tertawa, “Tapi jangan bilang Papamu kalau kita ngebut.” Mama kemana-mana lebih suka mengendarai motor, jago sejak kuliah. Menurut cerita versi Papa sambil nyengir, bahkan dulu waktu kuliah Mama pernah ikut balapan motor, tapi aku memutuskan tidak percaya sih.

Setengah jam acara salip-menyalip, motor vespa Mama sudah terparkir rapi di basemen pusat perbelanjaan besar. Aku berusaha mensejajari langkah Mama yang kalau jalan juga selalu super cepat menuju tangga eskalator. Tujuan pertama kami adalah, toko elektronik.

Aku sering ke toko ini, menemani Mama, tapi belum pernah ke bagian mesin cuci. Terhampar di section tersendiri, berpuluh-puluh model mesin cuci berjejer. Menatap terpesona seluruh mesin cuci itu sambil berpikir, ternyata tidak berbeda dengan telepon genggam, banyak model, banyak fitur, banyak spesifikasi, dan jelas banyak merk-nya. “Tergantung kebutuhannya, Bu.” Petugas sales toko elektronik sudah melesat menyambut kami, tersenyum dua senti sesuai SOP, memulai strategi menjualnya, “Kalau Ibu butuh mesin cuci yang bisa mencuci pakaian sekotor apapun, kinerjanya kinclong, Ibu pilih saja yang front loading. Kapasitasnya besar, listriknya lebih hemat, dan efisien tempat. Meskipun kekurangannya, mesinnya lebih bergetar, suaranya lebih berisik, agak beraroma karena sering menyisakan air didalam, dan lebih mahal.”

Aku tertawa dalam hati, melihat gaya petugas sales itu. Membayangkan Ali dalam versi yang lebih dewasa, sok-tahu sedang menjelaskan teori menghilang eh mesin cuci. Seli salah, apanya yang cute, Ali itu lebih mirip petugas sales ini, malah rapian petugas salesnya.

“Atau kalau Ibu hanya mencuci pakaian yang tidak terlalu kotor, budget terbatas, dan tidak punya masalah dengan tempat di rumah, pilih saja yang top-loading. Kinerja mencucinya tidak sebaik front loading, tapi siapa pula yang hendak mencuci seragam penuh lumpur, bukan? Anak gadis Ibu yang ini tidak suka pulang kotor-kotor, kan?” Petugas sales tertawa, menunjuk aku, “Atau Ibu mau mencoba jenis mesin cuci terbaru kami, hybrid dua model yang saya jelaskan sebelumnya, high efficiency top loading? Ini paling mutakhir, meski paling mahal.” Sedetik tertawa dengan gurauannya, petugas sales sudah kembali lagi dengan jualannya.

Lima belas menit mendengarkan cuap-cuap petugas sales, Mama menunjuk pilihannya. Model mesin cuci yang sama persis dengan punya kami yang rusak di rumah.

Aku menatap Mama bingung, “Setidaknya Mama tahu, yang ini bisa awet hingga lima tahun ke depan, Ra. Tidak perlu yang aneh-aneh.” Mama berbisik, menjelaskan alasannya. Terus kenapa Mama tadi sok mendengarkan penjelasan petugas sales kalau memang akan memilih yang ini, demikian ekspresi wajahku. “Ya, setidaknya Mama jadi tahu model terbaru mesin cuci, kan? Lagian, kasihan petugas salesnya kalau dicuekin.” Aku menepuk dahi, akhirnya tidak kuat menahan tawa. Betul, kan. Jalan-jalan bersama Mama itu selalu menyenangkan. Petugas sales yang sedang packing mesin cuci yang kami beli menoleh, tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba tertawa, berbisik-bisik.

Setelah memastikan mesin cuci itu akan diantar sore ini juga ke rumah, paling telat tiba nanti malam, kami meninggalkan toko elektronik, pindah ke supermarket. Mama belanja keperluan bulanan. “Kau tidak mau ke toko buku, Ra?” Mama bertanya, mendorong trolley masuk ke lorong deterjen dan teman-temannya. “Buku yang kemarin-kemarin saja belum Ra baca. Lagian banyak PR dari guru, Mam. Nggak sempet baca novel.” Aku menggeleng. “Nah, terus jatah uang bulanan buat beli bukumu mau diapain?” Mama menunjuk dompetnya di saku, “Buat nambahin beli keperluan Mama saja ya.” Mama mengedipkan mata.

“Nggak boleh. Curang.” Aku buru-buru berseru, memotong, “Sebentar, Ra punya ide lebih baik.” Aku sudah bergegas meninggalkan Mama, pindah ke lorong lain di supermarket. Kembali lima menit kemudian, saat Mama sudah mendorong trolley di lorong minyak goreng dan teman-temannya. Aku tersenyum, meletakkan satu kotak es krim batangan ke dalam trolley, “Ide bagus, kan?” Mama menghela nafas, tidak berkomentar. Itu pula enaknya pergi bersama Mama, aku bebas belanja apa saja sepanjang itu memang jatahku.

Persis jam tangan menunjukkan pukul lima sore, aku dan Mama membawa kantong plasik belanjaan ke parkiran motor. Jalanan semakin padat, suara klakson dan asap knalpot bergabung dengan kesibukan orang pulang kantor dan aktivitas lainnya. Setelah hujan sepanjang pagi tadi, langit sore ini terlihat bersih, awan tipis nampak jingga oleh matahari senja. Mama gesit mengemudikan vespanya, menaklukkan kemacetan. Satu tanganku memegangi belanjaan, satu tangan lagi berpegangan. Rambut panjangku berkibar keluar dari helm. “Jangan bilang-bilang Papa kita ngebut, ya.” Mama berseru. Aku tertawa, tidak menimpali.

***

Tiba di rumah, tetap hanya si Putih yang berlari-lari menyambutku. Aku menelan ludah, hendak menggendong kucingku—urung, nanti Mama mengomel. Aku membantu meletakkan belanjaan di dapur, beres-beres sebentar, lantas buru-buru menyingkir sebelum Mama menyuruhku membantu memasak, “Ra ke kamar ya, Mam, ada PR.” Aku meraih kotak es krim batanganku, dan sebelum Mama berkomentar, aku sudah menuju ruang tengah, diikuti oleh si Putih.

Lima belas menit mengerjakan PR Matematika dari Miss Keriting—yang menyusun jadwal pelajaran kelas X.9 itu pasti jenius seperti Ali, bayangkan, dua hari berturut-turut pelajaran pertamanya adalah Matematika—mood baikku menyelesaikan PR itu langsung menguap. Mataku memang menatap angka-angka di atas kertas, tetapi kepalaku memikirkan hal lain.

“Kira-kira si Hitam kemana ya, Put?” Aku beranjak meraih si Putih yang melingkar anggun di ujung kaki. Menemani mengerjakan PR.

Si Putih hanya mengeong, mata bundarnya mengerjap bercahaya.

“Atau jangan-jangan tadi dia menemukan kucing betina ya, Put? Jatuh cinta? Jadi minggat?” Aku nyengir dengan ide yang melintas jahil itu. Si Putih tetap mengeong seperti biasanya, manja minta dielus dahinya. Aku tertawa sendiri, itu ide buruk. Sepertinya aku harus membaca buku tentang kucing lagi, biar tahu kenapa kucing minggat dari rumah. Iya kalau cuma minggat? Kalau kenapa-napa? Aku menelan ludah, buru-buru mengusir jauh-jauh kemungkinan buruk itu. Atau jangan-jangan Mama benar? Memang hanya ada satu kucing di rumah ini sejak dulu. Si Hitam hanya imajinasiku. Teman ‘lain’. Aku menelan ludah lagi, buru-buru mengusir penjelasan itu. Aku tahu persis ada dua kucing di rumah ini. Kenapa aku menamai yang satu, si Hitam dan satunya lagi si Putih, karena meski nyaris terlihat sama, dua kucing itu berbeda. Warna bulu yang mengelilingi bola mata mereka berbeda. Si Hitam seperti mengenakan kaca mata hitam tipis, dan sebaliknya si Putih.

Hingga Mama meneriakiku agar segera mandi, bergegas turun makan malam, aku lebih sibuk memikirkan kucing-kucing itu dibanding PR Matematika. Sempat untuk kesekian kali berusaha mencari si Hitam, berkeliling rumah dengan menutupkan telapak tangan di wajah, agar Mama tidak melihatku. Si Hitam tidak ada di mana-mana, di halaman depan, belakang. Kucingku itu sepertinya betulan minggat.

“Papa kenapa belum pulang juga ya, Ma?” Aku bertanya.

Sudah pukul tujuh malam, setengah jam lewat dari jadwal biasanya Papa pulang. Habis mandi, membantu Mama menyiapkan hidangan makan malam di meja, membantu Mama mengurus mesin cuci yang diantar toko elektronik, aku dan Mama duduk di ruang keluarga, menunggu Papa pulang.

“Mungkin macet.” Mama memencet remote, mengganti saluran stasiun televisi.

“Kita makan duluan yuk, Mam.”

“Tunggu Papa, Ra.” Mama menjawab pendek.

“Tapi lapar, Mam.” Aku nyengir—memasang wajah seperti tidak makan tiga hari.

Mama tertawa, melambaikan tangan, “Bukannya Ra sudah menghabiskan tiga batang es krim sesore ini saja? Dasar gembul.”

Aku memajukan bibir, namanya lapar, ya tetap saja lapar.

Pukul delapan malam, Papa belum pulang-pulang juga. Hujan gerimis turun membasuh rumah. Belum deras, tapi cukup membuat jendela terlihat basah, berembun.

“Tetap nggak diangkat, Mam.” Aku berseru dari meja telepon. Baru saja, untuk yang ke empat kali menelepon telepon genggam Papa.

Mama menghela nafas.

“Kantor juga mulai kosong, sudah pada pulang.” Aku mendekati sofa, aku juga barusan menelepon ke kantor, “Kata satpam lantai ruangan Papa yang menerima telepon, Papa dari tadi siang tidak ada di kantor. Ra makan duluan ya, lapar berat, hampir sempoyongan jalannya, nih.”

Mama menatapku yang pura-pura melangkah gontai, “Ya sudah, Ra makan duluan saja.”

“Terima kasih, Mam.” Aku nyengir, langsung sigap menuju meja makan.

Pukul sembilan malam, Papa belum pulang juga. Hujan turun semakin deras. Hari-hari ini musim penghujan, cerah sejenak seperti sore tadi bukan berarti cuaca tidak akan berubah dalam hitungan jam. Petir menyambar terlihat terang dari jendela dengan tirai tersingkap. Gemeretuk guntur mengikuti.

Aku bahkan sudah dua kali naik-turun kamar, ruang keluarga. Mengerjakan PR Matematika, mengecek Mama yang masih menunggu sambil menonton televisi. Urusan kucingku si Hitam sedikit terlupakan—aku menghibur diri dengan meyakini si Hitam minggat ke rumah tetangga, nanti-nanti juga pulang. “Mungkin Papa tiba-tiba diajak pemilik perusahaan pergi ke luar negeri kali, Mam? Kayak enam bulan lalu.” Waktu itu, Papa malah baru pulang besok sorenya, mendadak diajak survei mesin pabrik yang baru. Tetapi setidaknya, waktu itu Papa menelepon, memberitahu, jadi tidak ada yang menunggunya.

Mama menoleh, terlihat mengantuk, “Kau tidur duluan saja, Ra. Biar Mama yang menunggu Papa.” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, kasihan melihat Mama yang pasti keukeuh tidak akan tidur, tidak akan makan sebelum Papa pulang, “Atau jangan-jangan Papa lagi berusaha memenangkan hati pemilik perusahaan, Mam? Eh, misalnya dengan bikin konser musik di rumahnya, ngasih hadiah kejutan, kali-kali saja pemilik perusahaan ulang tahun hari ini.” Mama tertawa kecil, “Kau ada-ada saja. Sudah tidur duluan saja. Paling juga Papamu pergi ke pabrik luar kota. Telepon genggamnya ketinggalan di kantor. Lupa ngasih tahu.”

Pukul setengah sepuluh, setelah dipaksa Mama, aku akhirnya naik kembali ke kamar. Kucingku si Putih sudah malas-malasan meringkuk tidur di pojok ranjang. Hujan deras membungkus rumah kami. Aku mengintip dari sela tirai kamarku, halaman basah, sejauh mata memandang hanya kerlip cahaya lampur diantara jutaan butir air. Menghela nafas pelan, setidaknya Papa kan naik mobil, jadi kalau sekarang lagi jalan pulang tidak akan kehujanan.

**bersambung


Blog EntryFeb 29, '12 6:50 PM
for everyone

“Kau sudah memberi nama kucingnya, Ra?” Papa bertanya, meletakkan secangkir minuman hangat ke atas meja. Kami sedang berkumpul di ruang keluarga, habis makan malam ulang tahunku, jadwal menonton keping DVD, film kartun favoritku.

“Sudah, Pa.” Aku menjawab pendek, sedang asyik bermain bersama dua ekor kucing baruku di atas karpet.

“Papa boleh tahu namanya?” Papa antusias, mendekat.

“Si Hitam dan si Putih.” Aku menjawab, tersenyum manis.

“Si Hitam atau si Putih, maksudnya?” Papa mendekat lagi, keningnya berkerut tipis, ikut melihat kucing yang naik-naik di pahaku.

“Bukan, Pa. Si Hitam dan si Putih.”

“Eh? Maksud Ra nama kucingnya ada dua? Dikasih dua nama ya, karena warna bulu kucingnya tidak bisa dibedakan hitam berbelang putih atau putih berbelang hitam?” Papa bingung.

“Bukan, Pa.” Aku menoleh, masa’ Papa nggak ngerti juga, “Ini kucingnya kan ada dua. Jadi namanya satu si Hitam satunya lagi si Putih.”

Waktu itu aku tidak terlalu mengganggap penting percakapan tersebut. Mama menyikut pelan Papa, mengedipkan mata. Papa mengangkat bahu, menoleh, menatap Mama tidak mengerti, kembali duduk di atas sofa.

“Biasa, Pa. Beberapa kanak-kanak juga begitu. Selalu punya ‘teman lain’.” Mama berbisik.

“Teman lain?” Papa ikut berbisik.

“Teman imajinasi.” Mama tersenyum simpul, “Bermain dengan imajinasi. Karena kucingnya hanya satu, biar seru, mungkin Ra menganggap ada anak kucing lain, biar ada temannya. Jadilah dia seperti punya dua kucing.”

“Kau serius?” Papa menelan ludah.

“Tentu saja. Coba Papa tanyakan ke teman kantor, tetangga, kenalan, mereka pasti bilang anak-anak kecil biasa mengalami fase itu. Tidak berbahaya, lama-lama hilang sendiri.”

“Tapi Ra kan sudah sembilan tahun, Mam?”

Mama tertawa pelan, “Bukannya kau sendiri yang bilang Ra masih bayi? Setiap malam selalu mengecup dahinya, bilang, selamat tidur bayi besarku.”

Papa tertawa, baiklah, mengangguk, meraih remote DVD player, “Kau benar, Mam. Dia masih kanak-kanak. Setidaknya dia senang sekali dengan kucing barunya. Bahkan film kartun kesayangannya pun diabaikan. Kita nonton yang lain saja. Mumpung Ra tidak akan protes.”

Malam itu, aku terlanjur senang dengan hadiah kucing di dalam kotak berwarna pink itu. Aku sedikit pun tidak memperhatikan percakapan Papa dan Mama. Dan karena sejak usiaku dua bulan, sejak bermain petak umpet itu keluarga kami terbiasa dengan hal-hal aneh, maka soal kucing itu cepat atau lambat juga dianggap biasa saja. Bahkan saat arisan keluarga dilakukan di rumah kami beberapa bulan kemudian, saat Tante berseru riang, “Aduh, sejak kapan Ra punya kucing? Kok nggak bilang-bilang sih, Ra. Cantik sekali. Kayaknya lebih cantik dibanding kucing Tante, ya.” Sebelum aku menjawab, Mama justeru memotong, bertanya balik ke Tante, “Bukannya kamu yang kirim kotak pink itu? Hadiah ulang tahun Ra enam bulan lalu?” Tante menggeleng, bingung, “Tante kan mengirimkan sweater. Lagipula kalau kucingnya secantik ini, lebih baik untuk Tante, bukan.” Lantas tertawa.

Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya mengirimkan kotak berwarna pink, beralaskan beludru dan ditutup kain sutera terbaik itu, dan tidak ada yang berusaha mencari tahu siapa yang mengirimkannya. Seiring waktu yang berjalan cepat, tidak ada yang terlalu memperhatikan saat aku bermain kejar-kejaran di taman, saling menggelitiki, basah-basahan, memberikan susu, menyiapkan makanan, bagiku, kucing itu selalu ada dua, Si Putih dan si Hitam. Aku tidak pernah merasa kucing itu hanya satu seperti yang dilihat Papa, Mama, tetangga, atau kerabat, mereka hanya tahu aku punya kucing anggota lucu.

“Ra!” Suara Mama mengagetkan, Mama sudah berdiri di depan pintu kamar. Aku menoleh.

“Aduh, berapa kali lagi Mama harus bilang. Segera ganti baju, makan siang, kita harus jalan sekarang. Kalau kesorean, nanti toko elektroniknya tidak bisa mengantar mesin cucinya hari ini. Mama juga harus masak makan malam.” Mama sepertinya terlihat marah, menatapku tidak mengerti kenapa masih mengenakan seragam sekolah, “Ayo, Mama tunggu lima belas menit di garasai, sekalian Mama membereskan garasi. Kalau Ra tidak siap-siap juga, Mama tinggal.”

“Iya, Mam.” Aku menjawab pelan.

“Dan satu lagi. Bermain kucingnya kan bisa nanti-nanti. Si Putih atau si Hitam kan bisa main sendiri. Dari tadi kucingnya digendong, dibawa kemana-mana.” Mama menunjuk kucing yang masih kugendong.

Aku menelan ludah, mengangguk.

Punggung Mama hilang dari bingkai pintu. Turun ke lantai satu menuju garasi.

Sekarang suasana hatiku benar-benar berubah. Sempurna.

Separuh hatiku sedih karena si Hitam tetap tidak berhasil kutemukan setelah hampir setengah jam memeriksa rumah—aku mulai cemas jangan-jangan si Hitam kenapa-napa, separuh hatiku lagi bingung dengan semua pemikiran baru yang berkembang di kepalaku. Bagaimana mungkin kucing itu hanya satu? Aku sendiri yang setiap hari menyusuinya dengan botol susu hingga usia beberapa bulan, memberikan piring berisi makanan, memandikannya, mengeringkan bulunya, menyisir bulunya. Mama pasti keliru.

“Kau lihat si Hitam tidak, Put?” Aku berbisik.

Kucing yang kugendong hanya mengeong pelan, mata bulatnya terlihat bercahaya seperti biasa. Manja menyundul-nyundulkan kepalanya ke lenganku.

“Sungguhan tidak lihat?” Aku mengelus kepalanya.

Kucing yang kugendong tetap mengeong pelan.

Baiklah. Aku menghela nafas. Meletakkan si Putih ke lantai, beranjak merapikan isi lemariku yang tadi kubongkar. Memasukkan kembali kotak berwarna pink yang enam tahun lalu tergeletak rapi di depan pintu rumah kami, tanpa pernah tahu siapa yang mengantarnya, hanya kosong di halaman, tidak ada kurir atau petugas yang membawa kotak itu.

Baiklah. Urusan kemana perginya si Hitam bisa kuurus setelah pulang menemani Mama ke toko elektronik. Saatnya berganti seragam, makan siang dengan cepat. Siapa tahu saat aku pulang dari toko, dua kucingku sudah bermain bersama lagi.

**bersambung


Blog EntryFeb 28, '12 7:15 PM
for everyone

Sisa hujan sepanjang pagi sudah menguap di jalanan saat aku tiba di rumah. Seli bilang nanti dia yang bayar, aku mengangguk turun dari angkutan umum.

Berlarian di rumput halaman, membuka pintu depan, berteriak mengucap salam—suara Mama terdengar menjawab dari dapur, aku naik ke lantai dua, menuju kamarku, melempar tas sekolah sembarangan di atas kasur. Hal pertama yang kulakukan kemudian adalah melongok kesana kemari, ini aneh sekali, biasanya dua kucingku sudah riang menyambut saat aku masuk ke dalam rumah. Tadi yang loncat dari balik pintu hanya Si Putih, satu ekor saja, Si Hitam tidak kelihatan sama sekali.

“Hei, si Hitam mana, Put?”

Si Putih seperti biasa menyundul-nyundul manja betisku. Mengeong riang.

“Kau lihat di mana si Hitam, Put?” Aku lembut mengangkatnya dengan kedua telapak tangan, memeluknya, terus memeriksa kamar sambil menggendong si Putih. Aduh, kemana pula kucingku yang satu lagi. Tidak ada di kamarku. Juga tidak ada di kamar lain lantai dua. Beranjak menuruni tangga, boleh jadi si Hitam sedang malas-malasan di dapur, menghabiskan makanan.

“Kau belum berganti pakaian, Ra?” Mama menegurku.

Aku menggeleng, masih sibuk mencari.

Tidak ada di dapur, si Hitam tidak ada di bawah meja makan, di sebelah lemari, atau tempat favoritnya selama ini. Aku menghela nafas, ini jarang sekali, bahkan seingatku tidak pernah terjadi, dua kucing ‘kembar’-ku ini selalu kompak menyambutku datang. Selalu berdua kemana-mana, bermain berdua, kompak.

“Apa si Hitam sakit, Put?”

Si Putih yang sedang kugendong hanya mengeong, mata bulatnya terlihat berkerjap-kerjap. Baiklah, aku beranjak memeriksa ruang tengah, ruang tamu, kamar mandi, bahkan garasi, apapun tempat yang mungkin. Lima menit sia-sia, kembali masuk ke dapur.

“Kau belum berganti pakaian, Ra? Ayo bergegas, kita tidak bisa lama-lama di toko elektronik, Mama harus menyiapkan makan malam, Papa kau pulang lebih awal malam ini.” Mama menatapku tidak mengerti, gerakan tangannya yang sibuk membereskan peralatan terhenti sejenak, memperhatikanku yang terlihat mencari sesuatu.

Aku menggeleng.

“Kau mencari apa sih, Ra?”

“Mam, lihat si Hitam?”

“Si Hitam? Bukannya kau sedang menggendong kucing kesayangan kau?”

“Bukan yang ini, Mam. Satunya lagi?”

“Satunya lagi apa?”

“Iya, kucing Ra yang satunya lagi, Mama nggak lihat?”

“Aduh, Mama nggak ngerti, deh. Kamu jangan aneh-aneh lagi kayak waktu SD dulu. Jelas-jelas sejak dulu hanya ada satu kucing di rumah ini.” Mama melotot, lantas sedetik kemudian tangannya kembali membereskan peralatan. “Bergegas ganti seragam. Makan siang. Jangan keseringan menggoda Mama seperti yang sering Papa kau lakukan, Ra.”

Aku menelan ludah—keluhanku karena Mama terlihat santai-santai saja padahal kucingku hilang satu langsung tertelan kembali. Aku seketika tertegun.

Eh, Mama barusan bilang apa? Satu ekor?

Aku benar-benar baru menyadari hal itu sekarang, detik ini. Seperti ada yang melemparkan pemikiran itu di kepala. Kejadian tadi pagi, melihat sosok tubuh tinggi kurus di sekolahan baru tiba-tiba membuatku berpikir ada yang benar-benar keliru dengan dua ekor kucing ‘kembar’ kesayanganku selama ini. Setelah enam tahun punya kucing, aku pikir dulu, itu semua hanya gurauan Mama dan Papa.

“Ayo, bergegas ganti seragam. Jangan malah bengong, Ra.” Mama berseru mengingatkan.

***

Sejak usia enam tahun aku ingin punya kucing. Saking inginnya, aku pernah menculik kucing anggora milik Tante—adik dari Mama. Waktu kumpul arisan keluarga di rumah Tante, aku seharian bermain bersama kucing itu, memegang bulunya yang tebal seperti beludru KW1, hangat memeluknya sambil tiduran, berlarian mengejarnya di taman, akhirnya saat pulang, aku gemas memasukkan kucing itu ke dalam tas. Dua hari kucing itu kusembunyikan di kamar, persis hari ketiga, Mama menemukannya.

Mama marah besar, bilang Tanteku justeru cemas mencari kesana-kemari kucing kesayangannya dua hari terakhir. Aku hanya menatap polos, “Kucingnya lucu, Mam. Lagian Tante juga bilang, kalau Ra mau, kucingnya boleh dipinjam bawa pulang beberapa hari.” Mama tambah marah, “Dipinjam itu berarti bilang-bilang. Kau mencurinya.” Papa hanya tertawa, meredakan marah Mama, bilang Ra masih enam tahun, lantas mengantar kembali kucing itu pulang ke rumah Tante, membiarkan aku merengek menangis. “Nanti-nanti, kalau Ra sudah besar dan bisa mengurus kucing peliharaan sendiri, baru boleh.” Mama tegas menggeleng, dan itu berarti tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Tiga tahun berlalu sejak kejadian itu. Persis ulang tahunku yang ke-sembilan, kucing ‘kembar’ itu hadir di rumah kami. Di hari ulang tahunku yang kesembilan.

Aku yang tahu hari itu ulang tahunku, berseru-seru riang menuruni anak tangga. Sebenarnya masih mengucek mata, menguap, ileran, rambut panjang berantakan, berteriak-teriak, “Mama! Papa! Ra ulang tahun. Mana hadiahnya?”

Mama dan Papa yang sudah bangun lebih awal tertawa, mereka menungguku di meja makan sejak tadi. Aku ikut tertawa demi melihat tumbukan kotak hadiah di lantai. Langsung loncat semangat.

Ada enam kotak hadiah, dua dari Papa dan Mama, yang lain dari saudara dekat dan tetangga. Persis saat aku selesai membongkar kotak ke-enam, tertawa membentangkan sweater hijau, bel rumah ditekan seseorang, bernyanyi nyaring.

“Biar Ra yang buka.” Aku beranjak berdiri—siapa tahu itu kadoku yang ketujuh.

“Sejak kapan Ra mau disuruh membukakan pintu kalau ada tamu?” Mama tertawa, menggoda, “Yang ada malah berteriak-teriak menyuruh orang lain.”

Aku menjulurkan lidah, biarin. Berlari-lari kecil ke pintu depan.

Dugaanku tepat, itu kado yang ketujuh. Kado paling spesial. Di dalam sebuah kardus berwarna pink, beralaskan talam lembut, ditutup kain sutera, hadiah ulang tahunku menunggu. Saat aku membuka kain sutera tipis, dua ekor anak kucing berbulu tebal terlihat mengeong tidak sabar, saling gelitik, bermain satu sama lain. Aku sungguh kehilangan ekspresi terbaik, tidak bisa berkata-kata lagi. Aduh, dua anak kucingnya lucu sekali. Mata mereka bundar bercahaya, bulunya lebih lebat dari yang bisa kubayangkan, dua ekor anak kucing anggora usia dua minggu. Mirip satu sama lain. Warna bulu mereka hitam dengan bintik-bintik putih, atau boleh jadi juga sebenarnya putih dengan bintik-bintik hitam, saking ratanya warna hitam-putih tersebut. Dua ekor kucing itu tidak bisa dibedakan satu sama lain. Kembar.

“Kau yang membelikan kucing.” Papa berbisik. Mereka sudah berdiri di belakangku.

 Mama menggeleng, “Boleh jadi dari Tante-nya.”

“Aduh lucunya.” Itulah kalimat pertamaku setelah terdiam satu menit menatap dua mahkluk menggemaskan itu, akhirnya merengkuh dua ekor kucing itu, menoleh ke Mama dan Papa, “Boleh Ra pelihara ya, boleh ya, Mam?”

Mama mengangguk, dan aku sudah rusuh membawa kotak itu ke dalam, berlarian. Bahkan sebelum anggukan Mama terhenti.

*bersambung


Blog EntryFeb 27, '12 7:19 PM
for everyone

“Pasangan yang serasi.” Seli memajukan bibir, menahan tawa.

Aku tidak menanggapi, hanya mengangkat pipet dari gelas, awas saja kalau keterusan, akan aku lempar dengan pipet ini.

“Bergurau, Ra.” Wajah Seli memerah, separuh karena kepedasan, separuh masih menahan tawa, “Meskipun Miss Keriting itu sok galak, menyebalkan, banyak PR, tapi itu yang aku suka darinya. Dia selalu telak menyindir orang. Pasangan paling serasi pagi ini, eh, bergurau, Ra. Eh, lagian kenapa pula kalian harus berseru-seru di lorong, membuat semua teman sekelas menoleh ingin tahu.” Seli membela diri, berusaha berlindung dari lemparan pipet.

Bel istirahat pertama sudah bernyanyi lima menit lalu. Hujan deras sudah reda, menyisakan rintik kecil yang bisa dilewati tanpa terlalu membuat basah. Udara dingin dan lembab. Seli mengajakku pergi ke kantin, menghabiskan semangkok bakso dan segelas jeruk hangat, pilihan yang baik dalam suasana seperti ini. Seli bilang dia yang traktir. Aku awalnya tidak tertarik—dua jam lebih saling ngotot menghabiskan waktu bersama biang masalah membuat mood baikku hilang. Aku sebenarnya lebih tertarik menghabiskan waktu sendirian di kelas, duduk di kursi, terus memikirkan siapa si tinggi kurus itu, apakah itu hanya imajinasiku saja karena belasan tahun menyimpan rahasia. Tetapi melirik gelagat Ali yang juga akan ikut menghabiskan waktu di kelas, menyelidikiku, aku menerima tawaran Seli.

“Kalian sebenarnya membicarakan apa sih? Sampai bertengkar begitu?” Sayangnya Seli yang sambil ber-hah kepedasan menghabiskan mangkok baksonya seperti kehabisan ide percakapan selain tentang kejadian di lorong kelas.

“Tidak membicarakan apapun.” Aku malas menanggapi.

“Masa’ iya?” Seli menyelidik, “Sampai bertengkar begitu.”

“Siapa yang bertengkar? Dia saja yang selalu menyebalkan. Mencari masalah.” Aku mengarang jawaban.

“Eh, kalian tidak sedang membicarakan PR Matematika, kan? Mengerjakan PR di lorong tadi?” Seli tertawa dengan kalimatnya sendiri.

Aku melotot, mengancam Seli dengan bola bakso.

“Bergurau, Ra. Kau kenapa sensitif sekali pagi ini. Aku saja yang dia tabrak tadi di anak tangga nggak ilfil. Biasa saja.” Seli nyengir tanpa dosa.

Semangkok bakso kantin ini lumayan lezat, apalagi udara dingin-dingin, tapi topik pembicaraan sambil makan mempengaruhi lidah. Apalagi menatap wajah jahil Seli.

“Kau tahu, Ra.” Seli tiba-tiba berbisik, menurunkan volume suara, di tengah hingar bingar kantin, teman-teman sekolah memenuhi setiap kursi yang ada di kantin ini, mengisi perut yang cepat terasa keroncongan saat dingin.

Tahu apanya? Aku tidak semangat menatap wajah penuh rahasia Seli.

“Biang masalah itu pernah ikut seleksi olimpiade Fisika.” Seli masih berbisik.

Lantas apa pentingnya? Aku mengangkat bahu tidak peduli.

“Dia peserta seleksi olimpiade paling muda sepanjang sejarah, Ra. Masih kelas dua SMP. Dia nyaris masuk dalam tim yang dikirim entah apa nama negaranya, Uzbekistan kalau tidak salah, enam siswa paling pintar. Itu penting sekali, bukan.” Seli ber-hah kepedasa, meraih botol kecap, “Tapi biang masalah itu batal dikirim. Di minggu terakhir seleksi, dia meledakkan laboratorium praktek Fisika tempat karantina peserta seleksi. Iseng melakukan percobaan entahlah. Betul-betul meledak, Ra.”

“Dari mana kau tahu itu?” Aku basa-basi menanggapi.

“Perusahaan tempat Papa-ku bekerja jadi sponsor utama tim olimpiade itu, Ra. Kejadian itu dirahasiakan, wartawan hanya tahu tim olimpiade pulang membawa berapa emas dua minggu kemudian. Kata Papa-ku, profesor pembimbing tim olimpiade tetap ngotot membawa si biang masalah, bilang kalau rasa ingin tahu kadang membuat seseorang iseng melakukan sesuatu, itu bisa dimaklumi, tapi panitia lokal menolaknya. Dia batal jadi peserta olimpiade Fisika termuda sedunia.”

Melihat wajah Seli yang semangat bercerita, aku setengah tidak percaya, setengah hendak tertawa. Lihatlah, Seli berbisik seperti sedang menceritakan cerita kategori paling top secret—Seli sepertinya terlalu banyak menonton serial Korea.

“Nah, si biang masalah itu juga sudah empat kali pindah-pindah sekolah selama SMP.” Seli mengambil sambal setengah sendok, tadi dia kebanyakan menumpahkan kecap, membuat mangkok baksonya jadi terasa manis, “Empat kali, Ra. Itu rekor.”

“Kau tahu dari mana?”

“Kalau yang ini sih sudah rahasia umum, tahu.” Seli ber-hah kepedasan, volume suaranya kembali normal, “Semua anak di sekolah ini juga tahu. Kau saja yang tidak memperhatikan, lebih suka menyendiri di dalam kelas saat bel istirahat. Dia dikeluarkan dari sekolah, biang masalah itu sering berkelahi.”

Aku tidak tertarik dengan cerita Seli, aku sedang menatap kasihan Seli, lihatlah, dia sekarang menumpahkan kecap lagi. Sudah empat kali juga Seli bolak-balik menambah sambal dan kecap di mangkok baksonya, membuat bening kuah bakso berubah menjadi hitam.

“Nah, saat penerimaan sekolah baru kemarin, banyak SMA yang menolak menerimanya, Ra. Katanya sih bukan semata-mata karena dia sering berkelahi itu. Tapi seram saja.” Seli menyeka dahi, keringatan.

“Seram apanya?”

“Seram kan kalau kau harus menerima murid sepintar biang masalah itu. Guru-guru kita saja sering grogi di kelas kalau dia mulai bertanya yang aneh-aneh. Coba kau dalam posisi harus mengajari anak sepintar dia, pasti salah tingkah. Horor dalam arti yang berbeda. Hanya Miss Keriting yang tidak peduli, bahkan tega menghukumnya.” Seli nyengir.

Aku ber-oh pelan. Aku lebih tertarik menghabiskan mangkok baksoku.

“Sebenarnya sih, tapi kau jangan marah.” Seli tiba-tiba terlihat seperti menahan tawa lagi.

Apa lagi? Tanganku yang menyendok bakso terhenti.

“Tapi kau jangan marah.”

Aku menggeleng. Kenapa aku harus marah? Aku tidak peduli cerita tentang biang masalah itu.

“Biang masalah itu sebenarnya sih termasuk gwi yeo wun.” Seli sungguhan tertawa.

“Gwi yeo wun?” Dahiku terlipat.

“Cute, Ra. Coba saja dia lebih rapi, lebih manis, rambutnya diurus, dibiarkan lurus berponi, sudah mirip dengan bintang dalam serial Korea yang aku tonton. Serasi sekali dengan Ra yang manis berambut panjang.”

Aku kali ini sungguhan menimpuk Seli dengan bola bakso. Seli tertawa cekatan menghindar. Dan kami terpaksa bergegas kabur dari kantin, sambil berteriak ke Mamang tukang bakso kalau bayarnya nanti-nanti. “Kau nyari masalah, Ra. Masa’ kau melempar kakak kelas tiga. Dia ketua geng cheerleader.” Seli berlari-lari kecil menarikku, berbisik sebal. Aku patah-patah mengikuti langkah kaki Seli, melewati keramaian kantin, itu jelas-jelas bukan salahku, sasaranku kepala Seli, dan salah siapa mereka duduk persis di belakang Seli. “Semoga mereka tidak tahu kita yang melemparnya, Ra.” Seli nyengir, “Bakso yang kau lempar telak mengenai kepalanya. Mereka pasti lagi marah-marah.”

Kami bergegas kembali ke kelas. Ruangan kelas 1.9 masih kosong, hanya ada biang masalah itu yang entah kenapa sedang berada di meja kami, seperti habis melakukan sesuatu. Seli melotot, mengusirnya. Ali hanya mengangkat bahu, merasa tidak bersalah, sejak kapan orang lain dilarang duduk di kursi mana saja saat istirahat? Bersiap mengajak bertengkar. Aku menyikut Seli, tidak usah diperpanjang.

Setidaknya, hingga bel sekolah berbunyi, tidak ada kejadian yang membuatku tambah jengkel. Pelajaran bahasa, aku suka. Memasang wajah sumringah selama pelajaran berlangsung, sepertinya hampir seluruh teman sekelas menyukai guru bahasa, dia persis seperti tutor acara berbahasa yang baik dan benar di siaran televisi nasional, pintar, tampan, dan pandai bergurau. Hanya biang masalah itu saja yang kusut, wajah terlipat di pojokan kelas. Aku tertawa dalam hati, meliriknya, mengacu cerita Seli di kantin tadi—yang entah betul atau tidak, mungkin Ali benci pelajaran ini karena tidak tahu di bagian mana yang bisa diledakkan.

Bel pulang sekolah bernyanyi kencang. Dengung gaduh memenuhi seluruh bangunan sekolah. Aku pulang naik kendaraan umum bersama Seli. Tiba di rumah tepat waktu. Mama yang sedang memasak sesuatu di dapur meneriakiku agar bergegas ganti baju, makan siang, dan bersiap-siap. Jam tiga kami harus segera berangkat ke toko elektronik. Aku balas berteriak, “Siap, Mam!” Tertawa riang, jalan bersama Mama selalu menyenangkan.

Sayangnya, segera tiba di rumah pula aku menemukan masalah baru. Dua kucingku. Dan itu lebih serius dibanding kejadian tadi pagi di sekolah dengan tubuh tinggi kurus.

**bersambung


Blog EntryFeb 26, '12 8:02 PM
for everyone

Demi mendengar sapaan suara dingin itu, menatap tubuh kurus, tinggi yang entah dari mana datangnya tiba-tiba telah berdiri persis di depanku, aku berseru tertahan, kaget, kehilangan keseimbangan, reflek berusaha meraih pegangan di dinding kelas. Saat telapak tanganku terlepas dari wajah, tubuhku otomatis kembali terlihat, kejadian itu cepat sekali, satu detik pun tidak. Dan saat aku berhasil menyeimbangkan badan, mendongak, kembali menatap ke depan, memastikan siapa yang tiba-tiba telah menyapaku, tubuh kurus, tinggi itu telah lenyap, menyisakan hujan deras sejauh mata memandang. Angin kencang membuat bendera di lapangan sekolah berkelepak. Tampias air mengenai lorong lantai dua—terpercik ke wajahku yang setengah pucat.

Jantungku berdetak kencang. Astaga, aku yakin sekali melihat tubuh itu. Wajahnya yang tirus, senyum tipisnya, bahkan aku ingat sekali bola matanya yang hitam mempesona. Kemanakah dia sekarang? Mataku menyapu sepanjang lorong, memastikan. Memeriksa semua kemungkinan. Hendak beranjak mendekati tepi lorong, tidak peduli tampias lebih banyak mengenai seragam sekolahku.

“Kau, apa yang barusan kau lakukan, Ra!” Seruan Ali membuat kakiku berhenti.

Aku menoleh, baru menyadari kalau biang masalah itu berdiri pias di sebelah, menatapku yang juga pias. Bedanya, ekspresi wajah Ali seperti baru saja melihat sesuatu yang menarik sekali. Sedangkan ekspresi wajahku sebaliknya.

“Bagaimana caranya kau tiba-tiba muncul di sini.” Ali mendekat, wajahnya menyelidik.

Aku mengeluh dalam hati, melangkah mundur ke dinding lorong. Kenapa pula urusan ini harus terjadi dalam waktu yang bersamaan. Kenapa pula si biang masalah ini ada di sini saat aku masih penasaran setengah mati siapa tubuh tinggi kurus tadi. Aku bahkan sempat berpikir sejenak, jangan-jangan tubuh itu hanya bisa kulihat jika aku menutupkan kedua telapak tangan ke wajah, hendak bergegas kembali menutup mata sebelum tubuh itu pergi, tapi itu tidak mungkin kulakukan dengan tatapan mata Ali yang penuh rasa ingin tahu.

“Apa yang kau lakukan barusan, Ra? Aku yakin sekali.” Ali bahkan sekarang menyelidik seluruh badanku, “Kau tadi tidak ada di sini. Lorong ini kosong. Kau, kau tiba-tiba muncul di sini, Ra. Iya, kan? Ini menarik sekali.”

Apanya yang menarik? Aku membalas tatapan menyelidik Ali, pura-pura tidak mengerti.

“Kau jangan pura-pura tidak mengerti, Ra.” Ali tidak mudah percaya.

“Aku dari tadi memang di sini. Apanya yang pura-pura?” Aku akhirnya berseru ketus.

“Kau tidak bisa membohongiku, Ra.” Ali nyengir, “Aku memang pemalas, tapi aku tidak bodoh. Bahkan sebenarnya, kau tahu, sebagian kecil pemalas di dunia ini adalah orang-orang jenius. Seratus persen kau tadi tidak ada di sana. Tidak ada siapapun di lorong. Lantas petir menyambar, kau tiba-tiba ada di sana. Tiba-tiba muncul. Aku yakin sekali. Seribu persen.”

Aku mengeluh dalam hati, masih berusaha membalas tatapan Ali dengan pura-pura tidak paham, urusan ini bisa panjang, biang masalah ini benar, dia memang terlihat pemalas, urakan, suka bertengkar, tapi dalam pelajaran tertentu, biang masalah ini bisa membuat guru-guru terdiam hanya karena pertanyaan masa bodonya.

“Bagaimana kau melakukannya?”

“Aku tidak melakukan apapun.”

“Kau jangan bohong, Ra.” Ali menatapku seperti sedang menatap anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen—tidak bisa menghindar.

“Siapa yang berbohong!” Aku berseru ketus—sebenarnya separuh suaraku terdengar cemas.

“Ali! Ra!” Suara tegas Miss Keriting menyelamatkan.

Kami serempak menoleh.

“Suara percakapan super penting kalian mengganggu pelajaran.” Miss Keriting melotot, berdiri di bawah bingkai pintu kelas, di tangannya penggaris kayu panjang, “Sekali lagi kalian bercakap-cakap terlalu kencang, Ibu kirim kalian ke ruang BP, dan semoga ada yang menyelamatkan kalian dari pemanggilan orang tua ke sekolah.”

Mulut Ali yang hendak mencecarku dengan banyak pertanyaan terpaksa bungkam. Dia menunduk, menggaruk rambutnya yang berantakan. Aku juga menunduk.

“Benar-benar brilian. Sudah tidak membuat PR. Berteriak-teriak pula di lorong kelas. Pasangan paling serasi pagi ini.” Miss Keriting kembali masuk setelah memastikan kami diam beberapa detik, mengomel. Teman-teman sekelas yang ikut melihat ke luar tertawa ramai. Diam kembali saat Miss Keriting menunjuk papan tulis.

Suara Miss Keriting terdengar samar di antara suara hujan deras mengguyur sekolah. Aku masih penasaran siapa tubuh tinggi kurus yang tiba-tiba muncul di depanku tadi. Memeriksa sekitar, berusaha mengabaikan Ali yang terus menatapku. Tidak ada. Tubuh itu benar-benar sudah pergi. Mungkin aku bisa pura-pura ke kamar mandi sebentar, meninggalkan Ali, menutup wajah di sana, lantas berjalan kembali ke lorong lantai dua. Selain dengan begitu aku bisa mencari tubuh tinggi kurus itu, sekaligus aku juga bisa menghilang dari biang masalah ini. Tetapi itu ide buruk, Ali yang juga penasaran—bahkan lebih penasaran, pasti akan mengikuti kemanapun aku pergi sekarang, dan dia bisa mengacaukan banyak hal. Dan Miss Keriting, dengan kejadian ribut barusan, bisa kapanpun memeriksa lorong lantai dua lagi, memastikan kami patuh pada hukumannya.

Aku mendongak, menatap siluet petir yang kembali menyambar, suara gemeretuk guntur. Sepertinya pagi ini aku benar-benar akan menghabiskan dua jam bersama biang masalah ini. Baiklah, aku memutuskan duduk bersandar di dinding kelas, berusaha lebih santai, menghela nafas pelan.

“Hei, Ra?” Ali berbisik.

Aku melirik dengan ujung mata, biang masalah itu ternyata ikut duduk, tiga langkah dariku.

“Kau bisa menghilang, ya?” Ali berbisik, berusaha tidak membuat keributan baru, matanya berbinar oleh rasa ingin tahu.

Aku mengabaikan Ali, kembali menatap hujan.

“Ini hebat, Ra. Dari dulu aku selalu yakin ada orang yang bisa melakukan itu. Tidak hanya di film-film.” Ali bahkan tidak merasa perlu menunggu jawabanku, mengangguk-angguk.

“Kau gila.” Aku kembali menoleh, melotot, balas berbisik.

“Apanya yang gila?”

“Tidak ada yang bisa menghilang.”

“Banyak yang bisa menghilang, Ra. Banyak yang tidak terlihat oleh mata, tapi sebenarnya ada.” Ali mengangkat bahu.

“Tidak ada yang tidak terlihat oleh mata.” Aku bersikukuh, mulai sebal, “Kecuali yang kau maksudkan hantu-hantu, cerita-cerita seram itu.”

“Kata siapa tidak ada?” Ali nyengir, “Dan jelas maksudku bukan hantu-hantu itu. Coba, lihat,” Tangan si biang masalah itu menggapai ke depan, “Setiap hari, setiap detik, kita selalu hidup dengan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Udara. Kau bernafas dengannya, tanpa pernah berpikir seperti apa wujud asli udara, bukan? Apa udara seperti kabut? Seperti uap? Apa itu oksigen? Bentuknya seperti apa? Kotak? Lonjong?”

Aku mengeluh pelan, semua orang juga tahu, si biang masalah ini adalah pendebat yang baik.

“Bahkan, kau tidak perlu jadi setipis udara untuk tidak terlihat, Ra.” Ali menatapku antusias, merapikan rambut berantakan yang mengenai ujung mata, “Jika kau terlalu kecil, atau sebaliknya terlalu besar dari yang melihat, maka kau bisa menghilang dalam definisi yang berbeda. Semut, misalnya, kau coba saja lihat semut yang ada di lapangan sekolah dari lantai dua ini, dia menghilang karena terlalu kecil untuk dilihat. Sebaliknya, bumi, misalnya, karena bola bumi terlalu besar, tidak ada yang bisa melihatnya benar-benar mengambang mengitari matahari. Kita hanya tahu saja dia mengambang, dari gambar, televisi, tapi tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri, bukan? Tidak terlihat dalam definisi lain.”

“Sok tahu.” Aku berbisik ketus.

Ali hanya tertawa pelan, tidak tersinggung seperti biasanya—tepatnya tidak tertarik bertengkar seperti biasanya, “Aku tahu sekali, Ra. Internet. Aku membaca lebih banyak dibanding siapapun di sekolah ini. Termasuk Miss Keriting dengan semua PR menyebalkannya. Pelajaran matematika penting katanya, puh, itu mudah saja, aku bahkan bisa mengerjakan PR yang dia berikan waktu masih SD. Kau sungguhan bisa menghilang ya, Ra?”

Aku hampir berseru jengkel bilang tidak, tapi itu bisa memancing Miss Keriting keluar, segera menurunkan volume suara, menjawab datar, “T-i-d-a-k.”

“Kau justeru sedang menjawab sebaliknya, Ra. Iya, kau bisa menghilang.” Ali mengepalkan tangannya, bersorak dengan gesture badan, “Terima kasih, Ra. Itu berarti aku tidak seaneh yang sering orang tuaku katakan.”

Aku menghembuskan nafas sebal, apanya yang kujawab iya, sialan, kembali menatap hujan, memutuskan menyerah menanggapi rasa ingin tahu Ali. Aku sepertinya telah keliru, bukan hanya dua jam pagi ini saja akan menghabiskan waktu bersama si biang masalah ini, bahkan boleh jadi seharian, besok-besoknya lagi, dia akan terus tertarik mengikutiku, memastikan. Hujan deras terus mengguyur sekolah, Seli dan teman-teman yang lain pasti sedang pusing mengikuti pelajaran Miss Keriting di dalam kelas yang kering, sama pusingnya aku menghadapi Ali di lorong yang tampias basah.

*bersambung.


Blog EntryFeb 26, '12 6:17 AM
for everyone

Gerimis turun sepanjang perjalanan menuju sekolah. Papa mengemudikan mobil dengan cepat, menerobos jutaan tetes air. Aku menatap jalanan basah dari balik jendela. Aku selalu suka hujan. Menatap butiran air jatuh, itu selalu menyenangkan.

“Ra, nanti pulang sore?” Papa bertanya, tangannya menekan klakson, ada angkutan umum ngetem sembarangan, menghambat lalu lintas pagi yang mulai macet di depan.

“Tidak ada les, Pa. Ra, langsung pulang dari sekolah.” Aku menjawab tanpa menoleh, tetap menatap langit gelap.

“Oh. Kalau begitu Ra bisa menemani Mama ke toko elektronik.”

Aku mengangguk. Tanganku menyentuh jendela mobil. Dingin.

“Mesin cuci itu. Kau pernah memikirkannya, Ra?” Papa sepertinya masih tertarik dengan percakapan di meja makan tadi, menekan klakson, sekarang menyuruh dua motor di depan yang sembarangan menyelip di tengah kemacetan agar menyingkir.

“Ya?” Aku ikut menatap ke depan.

“Usianya sudah lima tahun, bukan.” Papa tertawa kecil, membayangkan sekaligus berhitung.

“Ya?”

“Kau tahu, kalau setiap hari mesin cuci itu mencuci pakaian sebanyak dua puluh potong, maka selama lima tahun, itu berarti lebih dari 36.000 potong pernah dicucinya, hingga akhirnya rusak, minta diganti. Hebat, bukan?”

Aku mengangguk pelan, menatap halte yang baru saja dilewati. Ada lima-enam anak sekolah sepertiku sedang menunggu angkutan umum, beberapa pekerja kantoran. Lampu kendaraan menyala, kedip-kedip. Pedagang asongan. Pengamen yang malas, membiarkan gitar tersampir di pundak. Pemandangan yang biasa sebenarnya, tapi hujan gerimis membuat suasana terlihat berbeda.  

“Konsistensi. Eh, bukan, persisten maksud Papa. Ya, itu kata yang lebih tepat. Kau tahu, Ra, Persisten membuat kita bisa melakukan hal hebat tanpa disadari. Seperti mesin cuci itu. Sedikit setiap harinya, tapi dalam waktu yang lama, tetap saja hebat hasilnya. Coba Ra bayangkan 36.000 potong pakaian, itu lebih banyak dibanding koleksi seluruh departemen store besar.” Papa tertawa lagi.

Aku mengangguk. Aku tahu kebiasaan keluarga kami. Papa selalu suka ‘menasehatiku’ dengan caranya sendiri. Seperti mengajak bicara hal unik di pagi basah menuju sekolah ini. Mungkin orang tua kebanyakan lainnya juga seperti itu. Selalu merasa penting mengajak anak-anak remajanya bicara sesuatu, menasehati, dan berharap kalimat-kalimat itu bekerja baik—meskipun hanya urusan mesin cuci. Terlepas dari kesibukannya—dan juga topik pembicaraan yang kadang tidak nyambung situasi, bagiku Papa menyenangkan. Dia selalu ada saat aku butuh sesuatu.

“Dan satu lagi, Ra. Urusan mesin cuci ini masih punya satu lagi yang hebat.”

“Oh ya?” Aku memperhatikan wajah Papa yang riang.

“Nah, coba kau hitung, jika setiap hari Mama mencuci lima potong pakaian kau. Maka, selama lima belas tahun terakhir, dihitung sejak Ra bayi, itu jumlahnya sekitar, eh, 30.000 potong lebih. Atau, untuk Papa, tujuh belas tahun sejak menikah, angkanya lebih banyak lagi, bukan? Bisa 40.000 potong. Papa lebih banyak ganti baju, bukan. Total 70.000 potong lebih. Untung saja Mama tidak menarik uang laundry ke kita, ya Ra?” Papa tertawa.

Aku ikut tertawa, mengangguk.

Pembicaraan mesin cuci ini terus menjadi trending topic hingga mobil yang dikemudikan Papa tiba di depan gerbang sekolah. Gerimis menderas, anak-anak sekolahku berhamburan turun dari angkutan umum, mobil pribadi, atau jalan kaki, atau motor, bergegas masuk menuju bangunan yang kering.

“Kau bawa saja payungnya, Ra.” Papa menoleh, menunjuk ke belakang.

“Tenang saja, di kantor nanti Papa bisa menyuruh siapalah membawakan payung ke parkiran. Atau menyuruh siapalah yang memarkirkan mobil.” Papa seperti mengerti apa yang kupikirkan.

Aku tidak banyak bicara, meraih payung di belakang kursi, mencium tangan Papa, membuka pintu mobil, beranjak turun, “Da, Papa.”

“Da, Ra.”

Aku menutup pintu mobil, dua detik, mobil Papa kembali masuk ke jalanan.

Petir menyambar selintas, disusul gemeretuk guntur memenuhi langit. Aku mendongak, sengaja belum mengembangkan payung. Awan hitam terlihat memenuhi atas kepala sejauh mata memandang. Bergumpal-gumpal, terlihat begitu suram. Terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Entahlah. Aku selalu suka hujan, semakin lebat, semakin seru. Membayangkan awan-awan gelap itu, berdiri di antaranya.

Dulu, waktu usiaku masih empat-lima tahun, setiap kali hujan aku selalu memaksa bermain di halaman. Sesekali Mama mengijinkan—malah menawari. Itu permainan kedua yang kukenal, setelah petak umpet yang berakhir membosankan. Berlarian melintasi rumput yang basah, menggoyang pohon mangga, berjatuhan airnya dari daun, duduk di atas lumpur, melempar sesuatu, menendang sesuatu, tertawa. Itu selalu seru.

Sayangnya, Mama memiliki definisi ketat soal main hujan-hujanan. ‘Masuk Ra, sudah setengah jam. Cukup.’ Aku menggeleng, tidak mau. ‘Ra, tanganmu sudah biru kedinginan. Masuk. Besok kan bisa lagi.’ Mama melotot—Papa meng-amini. Aku kalah, merengut terpaksa menerima juluran handuk kering. Atau, ‘Aduh, Ra, bukankah baru kemarin kamu main hujan-hujanan?’ Mama menggeleng tegas. ‘Sebentar saja, Ma. Kan kata Mama besok bisa main lagi.’ Tidak, Mama menggeleng. “Lima menit?’ Tidak. ‘Tiga menit?’ Tidak. Dan seberapapun aku merajuk, menangis, jawaban Mama tetap tidak—Papa meng-amini. Aku kalah, dikurung dalam rumah.

Usiaku baru empat-lima tahun. Rambutku masih sering lucu di kepang dua oleh Mama. Aku hanya bisa protes dalam hati, bukankah kemarin-kemarin Mama yang menyuruhku main hujan-hujanan, kenapa jadinya sekarang dibatasi banyak peraturan. Maka itu selalu menyenangkan setiap ijin bermain hujan-hujanan itu diberikan. Berlari kesana kemari, membujuk dua kucingku agar ikut bermain air—kucingku mengeong panik, lari masuk ke dalam rumah, aku tertawa. Membiarkan badanku kotor oleh lumpur. Dan akhirnya setelah lelah, duduk di halaman, aku mendongak menatap langit gelap. Awan hitam. Membayangkan apa yang sedang berkecamuk di awan-awan itu?

Tetes air hujan deras menerpa wajah, aku meletakkan telapak tanganku, berusaha melindungi mata. Splash. Saat itu aku belum tahu, masih terlalu kecil. Persis telapak tanganku melindungi wajah, seketika seluruh tubuhku hilang, begitu saja. Tubuhku menjadi lebih bening dibanding kristal air. Menjadi lebih transparan dibanding tetes air. Aku asyik mendongak menatap langit, belum menyadari kalau jutaan tetes air hujan itu hanya melewati tubuhku, tidak pecah saat mengenai wajah. Ini main hujan yang menyenangkan, melamun menatap langit langsung di bawah tetes air—dan lebih penting lagi, setiap kali aku duduk menjeplak di rumput halaman, mendongak melindungi wajah dengan telapak tangan, entah bagaimana caranya, aku bisa bermain hujan lebih lama. Mama di dalam rumah hanya sibuk mengomel mencariku, bukan meneriakiku agar bergegas masuk.

“Pagi, Ra.” Seli, teman satu mejaku, satu kelas, berseru mengagetkan.

Kepalaku yang mendongak, menolah.

“Kenapa kau bengong di sini, Ra?” Seli tertawa riang. Dia baru turun dari mobil yang mengantarnya, mengembangkan payung berwarna pink.

“Eh, tidak apa-apa. Pagi juga, Sel.” Aku menyeka wajah yang basah oleh gerimis.

“Ayo bergegas, sebentar lagi bel.” Seli sudah berlari-lari kecil melintasi gerbang sekolah.

Aku mengembangkan payungku, menyusul langkah Seli, mensejajarinya.

“Kau sudah mengerjakan PR dari Miss Keriting?” Seli menoleh, wajahnya seperti sedang membayangkan sebuah bencana jika aku menjawabnya tidak.

Aku tertawa, mengangguk, tentu saja sudah.

“Oh, syukurlah.” Seli ikut menghela nafas lega, “Aku baru tadi subuh menyelesaikannya, Ra. Semalam aku lupa kalau ada PR, malah asyik nonton serial Korea. Miss Keriting bisa mengamuk kalau ada yang tidak mengerjakan PR-nya lagi, iya kalau cuma dimarahi, kalau disuruh berdiri di dekat papan tulis selama pelajaran? Itu memalukan, bukan?”

Aku tidak berkomentar, sudah menguncupkan payung, kami sudah tiba di bangunan sekolah, melangkah ke lorong, menuju anak tangga. Naik. Kelas satu ada di lantai dua bangunan sekolah. Bel persis berdentang saat kami hendak naik tangga, membuyarkan dengung suara keramaian anak-anak bercampur suara gerimis. Sial, saat bergegas menaiki anak tangga, Seli bertabrakan dengan teman lain yang juga bergegas.

“Lihat-lihat, dong.” Seli berseru ketus.

“Kamu yang harusnya lihat!” Yang ditabrak balas berseru ketus.

“Jelas-jelas kami duluan. Sabar sedikit kenapa?” Seli melotot.

“Duluan dari mana? Saya lebih cepat.”

“Semua orang juga tahu kamu yang menabrak dari belakang!” Suara Seli melengking.

Aku menyikut Seli, memberi kode, cuekin saja. Pertama, karena sudah bel ini, teman-teman lain juga terhambat naik, berdiri menonton di lorong lantai satu. Kedua, yang lebih penting lagi, kita tidak akan merusak mood pagi yang menyenangkan dengan bertengkar dengan Ali—teman satu kelas yang terkenal sekali suka mencari masalah. Lihatlah, Ali hanya cengar-cengir, tidak peduli, sejenak menatap Seli, lantas bergegas menaiki sisa anak tangga. Sama sekali merasa tidak bersalah.

“Dia selalu saja menabrak orang lain, mengajak bertengkar. Jangan-jangan matanya ditaruh di dengkul.” Seli mengomel pelan, menepuk lengannya yang terhantam dinding, beranjak ikut naik tangga. Keributan di anak tangga mencair. Guru-guru sudah keluar dari ruangan, menuju kelas masing-masing. Tidak ada yang ingin terlambat saat pelajaran dimulai.

“Kayaknya sih Ali matanya bukan di dengkul, Sel.” Aku berbisik, menahan tawa.

“Memangnya di mana?”

“Di pantat kayaknya.”

Seli menatapku sejenak, lantas ikut tertawa. Kami berlari-lari melintasi lorong lantai dua, segera masuk kelas, mencari meja. Anak-anak lain sudah membongkar tas. Ali yang duduk di pojokan terlihat menggaruk kepala, seperti biasa, kemeja seragamnya berantakan, dimasukkan separuh. Aku hanya melihat selintas—paling juga biang masalah itu sedang mencari buku PR-nya.

Suara sepatu Miss Keriting terdengar bahkan sebelum dia tiba di pintu kelas. Baru satu bulan, semua murid baru sekolah ini segera tahu, dialah guru paling galak di seluruh sekolah. Wajahnya jarang tersenyum, suaranya tegas, dan hukumannya selalu membuat murid merasa malu. Aku sebenarnya tidak punya masalah dengan guru galak, tapi itu tetap bukan kabar baik bagiku, karena Miss Keriting mengajar Matematika, pelajaran yang tidak terlalu kukuasai.

“Pagi, anak-anak.” Miss Keriting memecah suara hujan.

Kami menjawab salam.

“Keluarkan buku PR kalian. Sekarang.” Kalimat standar pembuka Miss Keriting.

Kelas bising sejenak, teman-teman sibuk mengambil buku PR. Dan aku seketika tertegun. Di mana buku PR Matematikaku? Aduh, ini sepertinya akan menjadi pagi yang buruk. Aku menumpahkan buku dalam tas.

“Ada apa, Ra?” Seli bertanya.

Aku tidak menjawab. Berpikir cepat. Buku PR itu tertinggal di kamar. Aku menyeka dahi, gerah, aku ingat sekali tadi malam sudah mengerjakan PR itu, meletakkan buku PR di atas meja, tadi pagi, saat Papa memintaku buru-buru berangkat, aku lupa memasukkannya.

“Yang tidak mengerjakan PR, sukarela maju ke depan, sebelum Ibu periksa.” Suara tegas Miss Keriting membuatku menghela nafas tertahan.

“Ayo, maju. Sekarang!” Miss Keriting menyapu wajah-wajah kami.

Aku menggigit bibir. Mau apalagi? Melangkah ke depan.

“Ra?” Seli menatapku bingung.

Aku tidak menjawab, terus melangkah ke depan di bawah tatapan teman-teman.

“Kau tidak mengerjakan PR, Ra?” Miss Keriting menatapku tajam.

“Aku mengerjakan PR, Bu.”

“Lantas kenapa kau maju ke depan?”

“Aku lupa membawa bukunya.”

Teman-teman tertawa. Satu-dua menepuk meja. Diam, saat Miss Keriting mengangkat tangan.

Miss Keriting menatapku lamat-lamat, sejenak, “Itu sama saja dengan tidak mengerjakan PR, Ra. Dengan amat menyelas, kau terpaksa Ibu keluarkan dari kelas. Kau menunggu di lorong selama pelajaran berlangsung. Paham?” Suara Miss Keriting sebenarnya tidak menunjukkan intonasi ‘menyesal’, karena sedetik kemudian, saat aku mengangguk pelan, dia kembali sibuk menatap teman-teman lain, tidak peduli, membiarkanku beranjak gontai ke bingkai pintu kelas.

Petir menyambar terang. Suara guntur mulai terdengar menggelegar. Hujan turun semakin deras. Udara terasa lebih dingin dan lembab. Aku melangkah malas, mencari lokasi menunggu yang baik di lorong. Nasib, aku menghela nafas sebal. Padahal aku sudah susah payah mengerjakan PR itu. Melirik jam di pergelangan tangan, masih persis dua jam lima belas menit hingga pelajaran Miss Keriting usai. Sendirian di lorong yang tampias, basah. Itu bukan hukuman yang menyenangkan—meski dibandingkan berdiri di depan kelas di tonton teman-teman.

Aku mendongak menatap langit. Petir untuk kesekian kali menyambar, membuat gumpalan awan hitam terihat memerah sepersekian detik, seperti ada gumpalan api memenuhi awan-awan hitam itu. Guntur bergemeletuk membuat nyilu telinga. Aku menghela nafas, suasana hujan pagi ini terlihat berbeda sekali. Lebih kelam daripada biasanya.

Dan ternyata kabar buruk itu belum berakhir. Diiringi sorakan ramai teman sekelas, Ali juga dikeluarkan oleh Miss Keriting. Ali bertahan beberapa menit, mengaku sudah mengerjakan PR—tapi belum selesai, memperlihatkan bukunya yang hanya berisi separuh halaman. Miss Keriting tanpa ampun juga ‘mengusirnya’. Aku mengeluh melihat Ali melangkah keluar kelas, hendak bergabung di lorong lantai dua yang lengang. Kenapa pula aku harus menghabiskan dua jam bersamanya di lorong? Aku menyeka dahi yang berkeringat—yang membuatku melupakan sesuatu, kenapa aku terus berkeringat sejak tadi, padahal dingin udara terasa mencekam.

Sial. Aku tidak akan menghabiskan waktu bersama biang masalah itu.

Itu situasi yang tidak menarik. Menyebalkan malah. Baiklah, sebelum Ali melihatku, aku memutuskan mengangkat kedua telapak tanganku, meletakkannya di wajah.

Petir mendadak menyambar terang sekali. Membuatku terperanjat, mendongak ke atas—meski tidak mengurungkan gerakan tanganku menutup mata. Suara guntur terdengar membahana, panjang dan suram. Hujan deras mulai disertai angin kencang, membuat bendera di lapangan sekolah berkelepak laksana hendak robek. Tubuhku segera sempurna menghilang saat telapak tanganku menutup wajah.

Ali melangkah di lorong. Aku melihatnya dari sela jari, memperhatikan wajahnya yang tidak peduli menatap sekitar—mungkin sedang mencariku. Ali menyeka rambutnya yang berantakan, dia mengomel sendirian, melintasiku, ‘Dasar guru sok galak. Tidak tahu apa, tambah keriting saja rambutnya setiap kali dia marah-marah.’ Aku menahan tawa melihat tampang sebal biang masalah itu. Aku hendak iseng menambahi kesalnya dengan mengkait kakinya.

“Hallo, gadis kecil.”

Suara dingin itu lebih dulu mengagetkanku. Petir menyambar terang sekali. Tubuh kurus, tinggi itu entah dari mana datangnya telah berdiri di depanku. Matanya menatap mempesona.

**bersambung 


Blog EntryFeb 23, '12 8:08 PM
for everyone

“Aduh, Ra, berhentilah mengagetkan, Mama.” Mama berseru pias.

Papa yang tergesa-gesa menuruni anak tangga, baru bergabung di meja makan, tertawa melihat Mama yang sedang mengelus dada, menghembuskan nafas, kesal bercampur kaget menatapku, “Sejak kapan Ra sudah duduk di sana.”

“Dari tadi, Mam.” Aku ringan mengangkat bahu, meraih kotak susu.

“Bukannya Ra tadi masih di kamar? Berkali-kali Mama teriakin biar turun, sarapan. Sampai serak. Ini sudah hampir setengah enam. Nanti terlambat.” Mama menghela nafas sekejap, lantas dikejap berikutnya, tanpa menunggu jawabanku, sudah gesit mengangkat roti dari pemanggang, masih bersungut-sungut. Celemeknya terlihat miring, ada satu-dua noda yang tidak hilang dicuci berkali-kali. Rambut di dahi berantakan, menyeka pelipis.

“Ra sudah dari tadi duduk di sini, kok. Mama saja nggak lihat.” Aku menuangkan susu ke gelas, “Beneran.”

“Berhenti menggoda Mamamu, Ra.” Papa memperbaiki dasi, menarik kursi, duduk, tersenyum, “Mamamu itu selalu tidak memperhatikan sekitar, sejak Ra kecil.”

Aku membalas senyum Papa dengan senyum tanggung.

Itu adalah penjelasan sederhana Papa atas keanehan keluarga kami sejak usiaku dua puluh bulan. Sejak permainan petak umpet yang tidak seru. Sesimpel itu. Mama tidak memperhatikan sekitar dengan baik. Padahal, kalau aku lagi bosan, tidak mau dilihat siapapun, atau sedang iseng, aku memang menutupkan telapak tangan di wajah, menghilang. Seperti pagi ini, dari tadi Mama berteriak membangunkan Papa. Meneriakiku bergegas, rusuh memulai hari, menyiapkan sarapan. Mama selalu begitu, terlihat sibuk. Terlepas dari peraturannya—aku benci peraturan-peraturan Mama yang kalau dibukukan bisa setebal novel, Mama adalah ibu rumah tangga yang hebat, cekatan, mengurus semua keperluan rumah tangga sendirian, tanpa pembantu.

Dulu, sambil menunggu kapan Papa turun bergabung ke meja makan, aku suka memperhatikan Mama bekerja di dapur. Tentu saja kalau aku hanya duduk bengong menonton paling bertahan tiga detik, sebelum Mama segera melemparkan celemek, menyuruhku membantu. Aku iseng ‘menonton’ sambil bertopang tangan di meja dengan kedua telapak tangan menutup wajah, membuat tubuhku sempurna menghilang, mengintip Mama yang sibuk bekerja.

Sibuk meneriakiku, “Raaa! Turun, sudah siang.” Lantas mengomel sendiri, bicara dengan wajan panas di depannya, “Anak gadis remaja sekarang selalu bangun kesiangan. Alangkah susah mendidik anak itu.” Lantas menoleh lagi ke atas, ke anak tangga, berteriak, “Ayaaah! Turun, sudah jam enam lewat. Bukankah ada rapat penting di kantor?” Lantas mengomel lagi sendirian, bicara dengan wajah panas lagi, membalik omelet, “Kalau mandi selalu saja lama. Contoh yang buruk. Bagaimanalah Ra akan bisa tangkas mengerjakan pekerjaan rumah kalau Papanya juga selalu santai. Anak –Papa sama saja kelakuannya.” Menggerutu.

Dulu, aku suka tertawa melihat Mama mengomel sendiri. Lucu sekali, mengintip dari balik jari, bersembunyi. Sambil menguap, sisa kantukku walau telah mandi. Aku bisa bermenit-menit diam, bertopang tangan, menonton Mama—dan itu membuatku tidak perlu bekerja pagi-pagi membantunya, sekaligus tahu banyak rahasia, misalnya apakah aku jadi dibelikan sepeda atau tidak, apa hadiah ulang tahunku besok, dan sebagainya. Sekarang serunya hanya sedikit, tidak sesering dulu, sejak usia belasan aku lebih dari tahu tanggung jawabku. Sekali-dua saja isengnya kambuh, seperti pagi ini, aku sebenarnya sudah sejak tadi turun dari lantai dua rumah kami, rapi mengenakan seragam sekolah, bergabung di meja makan. Tetapi karena bosan menunggu Papa turun, daripada disuruh-suruh Mama, memutuskan ‘bersembunyi’, iseng menonton.

“Ra sudah lama menunggu?” Papa bertanya, mengambil koran pagi.

“Papa tahu, tarif air PAM sekarang naik dua kali lipat.” Mama lebih dulu memotong, berseru soal lain. Tangannya cekatan memindahkan omelet ke atas piring.

“Ohya?” Papa yang mulai membuka koran pagi mengangkat wajah.

“Itu artinya Papa jangan mandi lama-lama,” Aku menyikut Papa, berbisik pelan, membantu menjelaskan maksud celetukan Mama.

Papa ber-oh sebentar, tertawa, mengedipkan mata, pura-pura mengernyit tidak bersalah, “Siapa sih yang mandi lama-lama?”

“Memang selalu susah mengajak kalian bicara serius. Sudahlah, mari kita sarapan.” Mama melotot, memotong kalimat Papa lagi, menarik kursi. Semua sarapan sudah tersedia di atas meja, “Ra mau sarapan apa?”

“Omelet terlezat sedunia, Mam. Dan minumnya segelas susu ini.” Aku menunjuk.

 Mama tertawa—yang segera membuat wajah segar itu kembali.

“Nah, Papa mau apa?”

“Roti panggang penuh cinta.” Papa nyengir, meniru teladanku.

“Jangan gombal.” Mama melotot, meski separuh wajahnya tersungging senyum.

“Siapa yang gombal? Sekalian jus jeruk penuh kasih sayang.”

Aku tertawa, “Tentu saja gombal, Pa. Jelas-jelas itu hanya roti dan jus jeruk.”

Mama tidak berkomentar, menuangkan jus jeruk, ikut tertawa. Lantas mengambil sisa makanan yang belum diambil, meraih sendok dan garpu. Kami mulai sibuk dengan menu masing-masing.

“Kita sepertinya harus mengganti mesin cuci.” Mama bicara disela mulut mengunyah.

Papa menelan roti, “Eh, sekarang rusak apanya?”

“Pengeringnya rusak, tidak bisa di isi penuh. Kadang malah tidak bergerak sama sekali. Tadi sudah diotak-atik. Menyerah. Beli baru saja.”

Aku terus menghabiskan omelet, tidak ikut berkomentar. Pembicaraan sarapan pagi ini sudah dipilih. Mesin cuci. Dan itu lebih baik—daripada Mama tiba-tiba bertanya tentang sekolah baruku, bertanya ini, bertanya itu, menyelidik ini, menyelidik itu. Lantas membacakan sepuluh peraturan paling penting di keluarga kita.

“Mau Papa temani ke toko elektronik nanti malam?”

Dua tiga menit, soal mesin cuci masih jadi trending topic.

“Tidak usah. Nanti sore Mama bisa pergi sendiri. Sekalian mengurus keperluan lain.”

Papa mengangguk takjim. Mama memang selalu bisa diandalkan—tadi waktu bilang sudah diotak-atik, itu bahkan berarti Mama sudah berprofesi setengah montir amatir.

Telepon genggam Papa tiba-tibe bergetar, menghentikan sarapan.

Papa menyambar teleponnya, melihat sekilas nama di layar. Aku dan Mama bersitatap.

“Ya, hallo.” Papa bicara sejenak, lantas menjawab pendek-pendek, ya, oke, baik, ya, oke, baik.

“Papa minta maaf, sepertinya lagi-lagi tidak bisa menghabiskan sarapan bersama. Lima belas menit, Papa harus segera ada di kantor. Tuan Direktur memanggil.” Papa meletakkan telepon.

Aku menepuk jidat. Selalu begitu.

Papa tertawa, balas menyikutku, “Ayolah, Papa harus bergegas, Ra. Dan Papa janji, Mam, gantinya kita makan malam bersama nanti.”

Mama menghela nafas tipis. Selalu begitu.

Baik. Sepertinya aku juga harus menyudahi sarapan pagiku yang belum sepertiga—nasibku sama dengan remaja lain, harus berangkat ke sekolah bersama orang tua. Mereka buru-buru, maka aku ikut buru-buru. Mereka telat, aku juga ikut telat. Aku meletakkan sendok, beranjak berdiri, lantas berlari naik ke kamar, mengambil tas dan keperluan sekolah.

“Jangan lupa sarapan lagi di kantor, Pa.”

“Tentu saja. Bila perlu Papa akan sarapan sambil rapat dengan Tuan Direktur. Itu pasti akan menarik.” Papa mengedipkan mata, bergurau.

Mama melotot. Papa buru-buru memperbaiki ekspresi wajah, “Papa tidak akan lupa, Mam. Peraturan ke tujuh keluarga kita: sarapan itu selalu penting.” Papa meniru gayaku, tangan hormat di dahi. Mama tersenyum. Kami semua paham, Papa sedang berada di titik paling penting karir pekerjaannya—setidaknya demikian kalau Papa menjelaskan kenapa dia harus pulang larut malam, kenapa dia harus bergegas pagi-pagi sekali. “Papa harus berhasil melewati fase ini dengan baik, Ra. Sekali Papa berhasil memenangkan hati pemilik Perusahaan, karir Papa akan melesat cepat. Posisi lebih baik, gaji lebih tinggi. Keluarga kita harus kompak mendukung, termasuk Ra. Toh pada akhirnya Ra juga yang diuntungkan, mau liburan kemana? Mau beli apa? Semua beres.” Aku hanya bisa mengangguk, setengah paham (soal jalan-jalan atau belanja), setengah tidak (soal memenangkan hati pemilik Perusahaan).

“Dasi Papa miring.” Mama menunjuk, beranjak mendekat, memperbaiki.

“Terimakasih.” Papa tersenyum, melirik pergelangan tangan, “Celemek Mama juga miring.” Ikut memperbaiki, meski sekali lagi melirik pergelangan tangan.

“Jangan pulang larut malam, Pa.”

“Kau lupa, bukankah aku bilang nanti malam kita makan malam bersama. Spesial. Tidak akan terlambat.” Papa mendongak, “Alangkah lamanya anak itu mengambil tas sekolah?”

“Tentu saja.”

“Tentu saja apanya?”

“Tentu saja Ra lama. Meniru siapa lagi? Selalu lama melakukan sesuatu? Dan terbirit-birit panik kalau sudah kehabisan waktu.” Mama tersenyum simpul.

“Oh, itu entahlah meniru siapa.” Papa pura-pura tidak mengerti, sambil ketiga kalinya melirik jam tangan, “Yang aku tahu, anak itu cantiknya meniru siapa.”

Mama tersipu. Mereka berdua tertawa.

Papa melihat jamnya lagi, mengeluh, “Tiga menit? Alangkah lama anak itu mengambil—“

“Ra sudah selesai dari tadi, kok.” Aku nyengir, menurunkan telapak tangan.

“Eh? Ra?” Papa berseru kecil, hampir terlonjak melihatku yang tiba-tiba sudah berdiri di anak tangga terakhir, “Bagaimana kau sudah ada di sana? Kau selalu saja mengejutkan orang tua?” Papa bersungut-sungut—meski sungutnya lebih karena dia harus bergegas.

“Jangan menggoda Papa kau, Ra. Dia selalu saja tidak memperhatikan. Sejak kau kecil, malah.” Sekarang giliran Mama yang menggunakan kalimat itu, tersenyum.

Aku tersenyum tanggung membalas senyum Mama.

Itu juga adalah penjelasan sederhana Mama atas keanehan keluarga kami sejak usiaku dua puluh bulan. Sejak permainan petak umpet. Sesimpel itu. Papa tidak memperhatikan sekitar dengan baik. Padahal, kalau aku lagi bosan, tidak mau dilihat siapapun, atau sedang iseng, aku tinggal menutupkan telapak tangan di wajah, menghilang. Seperti pagi ini, aku iseng ingin melihat percakapan akrab orang tuaku. Sudah sejak tadi aku turun mengambil tas, berdiri di anak tangga paling bawah dengan menutupkan kedua telapak tangan di wajah, mengintip wajah mereka yang saling tersipu. Baik dulu, maupun sekarang, itu selalu seru.

“Ayo berangkat.” Papa berjalan lebih dulu.

Aku mengangguk.

“Jangan lupa sarapan lagi di sekolah, Ra.”

“Ra tidak akan lupa, Mam. Peraturan ke tujuh keluarga kita: sarapan itu selalu penting.” Aku mengangkat tangan, hormat.

Mama mengacak poni rambutku.

Lima menit, mobil yang Papa kemudikan sudah melesat di jalanan. Pagi itu, aku sungguh tidak tahu, setelah sarapan bersama yang selalu menyenangkan, beberapa jam lagi, kejutan itu tiba. Ada yang tahu rahasia besarku, bukan hanya satu, melainkan susul menyusul. Dan seluruh kehidupanku mendadak seratus delapan puluh derajat berubah.

*bersambung 


Blog EntryFeb 23, '12 3:31 AM
for everyone

Namaku Raib. Aku murid baru di sekolah. Usiaku lima belas. Aku anak tunggal, perempuan. Untuk remaja seumuranku, tidak ada yang spesial tentang aku. Rambut hitam, panjang, lurus. Menyukai membaca, punya dua ekor kucing di rumah. Aku bukan anak yang pintar, populer apalagi, tidak. Hanya kenal teman-teman sekelas, itupun hanya kenal anak perempuan. Nilaiku rata-rata, tidak ada yang terlalu cemerlang, kecuali pelajaran bahasa--aku amat menyukainya. 

 

Di kelas satu sekolah baru ini, aku lebih suka menyendiri dan memperhatikan. Menonton teman-teman bermain basket. Duduk diam di keramaian di kantin. Depan kelas. Lapangan. Sebenarnya sejak kecil aku terbilang anak yang pemalu. Tidak pemalu-pemalu sekali memang, meskipun satu-dua sering jadi bahan tertawaan teman, atau orang tuaku. Normal-normal saja, tapi sungguh urusan pemalu inilah yang membuatku berbeda dengan remaja kebanyakan.

 

Aku ternyata amat berbeda. Aku memiliki kekuatan itu. Aku tahu itu sejak masih kecil--meskipun hingga hari ini, kedua orang tuaku, teman-teman dekatku tidak tahu. 

 

Waktu usiaku masih dua tahun, aku suka sekali bermain petak umpet. Orang tuaku pura-pura bersembunyi, lantas aku sibuk mencari. Tertawa saat menemukan mereka. Kemudian giliranku yang bersembunyi. Kalian pernah melihat anak kecil usia dua tahun mencoba bersembunyi? Kebanyakan dari mereka hanya berdiri di pojok kamar, atau samping sofa, atau belakang meja, lantas menutup mata dengan kedua belah telapak tangan. Merasa itu sudah cukup sempurna untuk bersembunyi, kalau sudah menutup mata, gelap, sudah tersembunyi semua, padahal badan mereka amat terlihat. Aku juga melakukan hal yang sama, saat Ayah bilang, 'Raib, ayo bersembunyi. Giliran Mama dan Ayah yang jaga.' Maka aku tertawa comel, berlarian ke kamarku, berdiri di samping lemari, menutup wajah dengan kedua belah telapak tangan. Usiaku saat itu bahkan baru dua puluh dua bulan, belum genap dua tahun. Itu permainan hebat pertama yang pernah kumainkan. Antusias.

 

Tapi ternyata permainan itu tidak seru. Orang tua-ku curang. Waktu giliranku yang jaga, mereka bersembunyi, aku selalu berhasil menemukan mereka. Di balik gorden, dibalik pot bunga besar, di belakang apalah, aku bisa menemukannya--meskipun sebenarnya aku tahu dari suara mereka menahan tawa. Tetapi saat aku yang bersembunyi, mereka tidak pernah berhasil menemukanku. Mereka hanya sibuk memanggil-manggil namaku. Tertawa. Masuk kamarku, sibuk memeriksa seluruh kamar, tertawa. Melewatkanku yang padahal berdiri persis di samping lemari.

 

Aku sebal, mengintip dari balik jemari kedua belah telapak tangan. Orang tuaku pastilah pura-pura tidak melihatku. Bagaimana mungkin mereka tidak melihatku. Dan itu berkali-kali terjadi. Saat aku bersembunyi di ruang tengah, mereka juga pura-pura tidak melihatku. Bahkan saat aku hanya bersembunyi di tengah ruang keluarga rumah kami, menutup wajah dengan telapak tangan, mereka juga pura-pura tidak melihatku.

 

Dan saat aku kesal melepaskan telapak tangan menutupi wajah, mereka hanya berseru, 'Astaga, Raib? Kau ternyata ada disitu?' atau 'Aduh, Raib, bagaimana kau tiba-tiba ada di sini? Kami dari tadi melewati tempat ini, tidak melihatmu?' lantas memasang wajah seperti terkejut melihatku yang berdiri polos. Memasang wajah tidak mengerti bagaimana aku bisa tiba-tiba muncul. Padahal aku sungguh sebal menunggu kapan mereka akan berhenti pura-pura tidak melihatku.

 

Permainan petak umpet itu hanya bertahan satu-dua bulan. Aku bosan. 

 

Aku sungguh tidak menyadari saat itu. Itulah kali pertama kekuatan itu tiba. Kekuatan yang tidak pernah berhasil aku mengerti hingga hari ini, kekuatan yang kurahasiakan hingga usiaku lima belas dari siapapun. Aku tinggal menutupkan kedua belah telapak tanganku di wajah, berniat bersembunyi, maka seketika, seluruh tubuhku tidak terlihat dari apapun. Lenyap. Orang tuaku sungguh tidak punya ide kalau anak perempuannya yang berusia kurang dari dua tahun bersembunyi persis di depannya, berdiri di tengah karpet, mengintip dari sela-sela jarinya.

 

Namaku Raib, gadis remaja lima belas tahun. Aku bisa menghilang, dalam artian benar-benar menghilang. 

 

*bersambung 


Blog EntryFeb 8, '12 11:09 PM
for everyone

saya tidak tahu apa kepanjangan dari GEO, sy cari2, boleh jadi memang nama saja GEO. nah, terlepas dari apa kepanjangannya, GEO adalah nama perusahaan publik, menjual saham pertama kali tahun 2005, hari ini harga sahamnya di 18,7 dollar, terus menanjak naik--yang berarti bisnis mereka terus berkembang serta prospektif.

 

GEO hingga hari ini memiliki 80.000 tempat tidur, 116 fasilitas di banyak negara. paling besar di Amerika Serikat, menyusul Inggris, Australia dan Afrika Selatan. sejak berdiri tahun 1984, GEO memiliki moto, memberikan layanan tinggi kepada klien, dengan biaya efisien, program yg inovatif, dan treatmen yg hebat.

 

kalian berminat bekerja di GEO? meski asetnya seolah hanya 'tempat tidur', wah, jangan salah, mereka butuh pekerja ahli banyak sekali. gajinya pun tak murah. CEO di GEO digaji hingga 3 juta dollar/tahun, alias nyaris 27 milyar/tahun. mereka juga selalu nyambung dgn kemajuan jaman. Program GEO go green misalnya, untuk memastikan bahwa perusahaan selalu mementingkan konservasi alam dalam setiap fasilitas bisnis yg mereka miliki. mereka punya tidak kurang dari 20.000 profesional yg bekerja dgn etos kerja baik. mereka jelas pemimpin pasar dalam bisnis ini.

 

nah, setelah tiga paragraf notes ini, apakah kalian punya ide, bisnis apa yg mereka jalani? ini sungguh menarik. sy barusaja berkunjung ke website mereka, dan termehek2 membaca visi, misi, code of conducts, hingga memahami kultur kerja mereka. bukan main. ini luar biasa. pendapatan tahunan mereka hingga 1,2 milyar USD, operating income tahunan mereka hingga 130 juta USD. dari aspek non-keuangan prestasi perusahaan ini juga kinclong. dengan terus tumbuhnya fasilitas yg mereka miliki, itu berarti klien mereka puas, kualitas pekerjaan mereka prima. banyak mendapat penghargaan, bahkan masuk dalam 400 Forbes Platinum list. lantas apakah mereka punya saingan? tentu saja. bisnis ini cukup kompetitif, ada beberapa pemain yg serius menekuninya.

 

jadi, bisnis apakah yg mereka jalani? baiklah, sy jawab saja, bisnis yg mereka lakukan adalah PENJARA-- GEO adalah salah-satu perusahaan swasta yg ditunjuk pemerintah :) silahkan berkunjung ke website mereka jika ingin tahu lebih banyak. berikut sy copy-kan values dar GEO: 

  • Imparting a Safe and Secure Environment 
  • Preserving Human Dignity and Rights
  • Delivering Quality Health Care 
  • Providing Access to Quality Rehabilitative Programs 

:)


Blog EntryFeb 6, '12 8:18 PM
for everyone

ketika sebuah partai baru didirikan, maka biasanya relatif bersih dari orang2 berkeinginan buruk, bermental murahan, serta bervisi pendek. para pendiri partai, lazimnya adalah orang2 yg memiliki cita2 sama, mengesampingkan kepentingan pribadi, dan terlihat sekali semangat memperbaiki banyak hal.

 

tapi ketika partai itu tumbuh besar, laku pula di mata masyarakat, mulailah merapat para opportunis sejati. inilah yg merusak sebuah partai baik hingga ke akar2nya. situasi semakin buruk, ketika sebagian para pendiri, konstituen, pendukung awalnya memutuskan pergi, tidak tahan melihat begitu banyak 'penyesuaian baru' yg dilakukan oleh sebagian yg masih bertahan. dan cepat atau lambat, partai itu benar2 kehilangan semangat pendirinya dulu--meskipun elitnya merasa mewarisi sekali, bahkan merasa lebih bervisi dibanding orang2 sebelumnya. dan yg paling membuat sesak, konstituen di bawahnya yg masih bertahan lebih sibuk tutup mata, membela habis2an, dan menganggap semua baik2 saja.

 

itulah yg terjadi di banyak partai (dulunya) bagus di Indonesia. sy tdk usah sebutkan contohnya. banyak. ketika nafsu uang, kekuasaan, terkenal merusak banyak hal. seharusnya, sejak awal, sebuah partai memiliki mekanisme menolak para opportunis. tapi sebaliknya, malah membuka pintu lebar2, membentangkan tangan, bersiap memeluk erat--sambil melepaskan pelukan ke saudara sendiri yg selama ini telah bahu membahu.

 

terakhir, kalian mau tahu tabiat seorang opportunis? salah satunya, senang sekali mendaftar riwayat hidup miliknya panjaaaaang lebaaaar. semua hal yg tdk penting, seperti menghadiri seminar apalah, pernah diinterview sama siapalah, dimasukkan, tumplek blek jadi satu. tapi ini sih versi sy. boleh jd, menurut pendapat orang lain, orang2 yg suka mendaftar riwayat hidup ini adalah orang paling amanah, paling jujur, dan paling rendah hati sejagad raya. 


Blog EntryFeb 6, '12 4:44 AM
for everyone

sy sebenarnya tdk terlalu update dengan kasus bangkrutnya kodak--lagian tahun2 belakangan, banyak perusahaan raksasa bangkrut. tapi karena barusan ada berita tentang nama 'kodak' di 'kodak theatre' terpaksa dilepas, kabar panjang duka cita bangkrutnya kodak ini menjadi lebih kontekstual. kodak theatre adalah teater raksasa tempat berlangsungnya acara tahunan piala oscar (academy awards), dan juga, sejak 2002, tempat final american idol. untuk meletakkan nama 'kodak' di theatre legendaris ini, perusahaan kodak membayar 75 juta dollar. sekarang, mengacu berita, nama itu harus dicopot. entah akan jadi apa nama barunya, kalau saya punya uang, mungkin bisa jadi 'tere liye theatre'. seru bukan? 'ladies, gentlemen, live from the tere-liye theatre, it's american idol season 12', ryan seacrest berseru2 penuh semangat.

 

eh? balik lagi ke topik. kodak resmi mendaftarkan kebangkrutannya tanggal 19 Januari 2012 (perlindungan chapter 11). sudah agak usang berita ini, hampir 3 minggu lalu. tapi tetap saja tidak terbayangkan, perusahaan yg berdiri sejak 1889 berakhir bangkrut. kakek nenek kita, bapak ibu kita, pastilah tahu apa itu kodak. semua fotografer terkenal era sebelum 1990an, pastilah tahu apa itu kodak. hampir sepanjang abad 20 kodak mendominasi pasar fotografi, bahkan tahun 1976, mereka menguasai 90% pangsa pasar di Amerika. Fuji Film, saingan besarnya, susah payah menandingi nama besar kodak. saham mereka pernah tokcer di angka 80 dollar/lembar, melaporkan laba milyaran dollar, memiliki karyawan hingga 140 ribu lebih tersebar di seluruh dunia, dan ribuan paten di bidang fotografi. minggu2 ini, saham mereka delisting dari NYSE, harganya sen saja. ribuan karyawan dirumahkan, rugi besar, dan terpaksa melego satu persatu aset, termasuk paten yg mereka miliki utk bertahan hidup.

 

kodak bangkrut! semua fotografer terkemuka, pastilah sedih mendengarnya. juga orang tua kita dulu yg fanatik dgn produk ini. boleh jadi, mereka foto bareng bersama pasangan hati dgn kamera kodak dan film kodak, lantas dicuci di gerai kodak. hujan gerimis bersama cinta, jpret, kodak. kejadian kita lahir, belajar merangkak, jpret juga di foto dengan semua teknologi kodak. tapi apa mau dikata? teknologi baru telah menelannya. itu benar. kodak terlalu lambat menyadari bahwa era fotografi analog, dengan rol film telah berakhir di penghujung tahun 1990an. mereka tidak cepat berubah, mereka mengabaikan fakta itu, akibatnya, mereka terlalu terlambat utk memulai di tahun 2000an, saat pesaing mereka dari negeri2 asia timur lebih kuat, lebih tangguh, karena start lebih awal. kodak kalah telak, konsumennya turun tajam, angka merah memenuhi laporan keuangan. teknologi telah menelan teknologi lainnya, menyisakan kenangan indah, persis seperti kenangan selembar foto.

 

apakah kodak tidak menyadari teknologi digital telah datang? mereka menyadarinya, tahun 1992, vice presiden don strickland, telah mengajukan pembuatan kamera digital, tapi petinggi kodak menolaknya, khawatir akan menjadi kanibalisme atas produk analog mereka. 1993, don pergi dari kodak, resign. apakah nasib kodak berubah jika tahun tsb mereka secara besar2 merilis kamera digital--ketika orang baru hitungan jari bicara tentang teknologi digital? well, pertanyaan andai2 ini tidak akan pernah relevan. game over. kenyataannya adalah apa yg terjadi hari ini.

 

perlindungan chpater 11 boleh jadi akan memberikan kesempatan kodak utk diambil alih, diselamatkan pemilik modal baru. namanya boleh jadi tetap akan hidup. tapi persis seperti kata bijak itu, 'mereka memulai lagi dari awal, bisnisnya tidak akan pernah sama lagi. sisa2 yg ada cepat lambat ditelan oleh jaman, dan kita lupa pernah ada yg namanya KODAK'.

 

adios.


berikut daftar gaji di Bank Indonesia (yg sepertinya, basic salary-nya saja, diluar tunjangan/fasilitas rumah, kesehatan, dll):

1. gubernur 153,9 juta/bulan

2. deputi gubernur 96,8 juta/bulan s.d 115,2 juta/bulan

3. direktur 50,2 juta/bulan s.d. 72,3 juta/bulan

4. deputi direktur 36,1 juta/bulan s.d. 47,4 juta/bulan

5. kepala bagian 25,9 juta/bulan s.d 38,6 juta/bulan

6. deputi kepala bagian 18,9 juta/bulan s.d. 28,9 juta/bulan

7. kepala seksi 12,8 juta/bulan s.d. 22,9 juta/bulan

8. staf 6,1 juta/bulan s.d. 15.3 juta/bulan

9. pegawai TU 3,7 juta/bulan s.d. 10.9 juta/bln

10. pegawai dasar 2,7juta/bulan s.d. 5.2 juta/bln

 

berikut daftar UMK/P/R (yg sepertinya, memang ini saja angkanya, tidak ada tunjangan2, dll, syukur2 ada jaminan kesehatan):

1. Wilayah Yogyakarta 808 juta eh, 808 ribu /bulan

2. Wilayah banten 1.050 juta eh, 1.050 ribu/bulan

3. Wilayah NTT, 850 juta eh, salah lagi 850 ribu/bulan.

4. cari sendiri datanya di internet utk wilayah lainnya

 

nah, saran saya, jika orang2 BI hari2 terakhir rapat terus dgn DPR, mana sidangnya tertutup pula, ingin menaikkan basic salarynya, maka logikanya janganlah: standar gaji di bank nasional sj lebih mahal dr kami kok, wajar dong kami minta naik. atau gaji di multinasional company sj berkali2 lipat dibanding kami, wajar dong. karena kalau ini logikanya, saran sy, mending pindah kerja saja. betulan loh, itu saran paling brillian, pindah, nego gaji baru, maka beres. atau jadi pedagang, bebas, malah bisa kaya raya tanpa ada yg rese. 

 

hanya ada dua logika yg sah kenapa kita minta naik gaji: 1. kinerja kami memang luar biasa. kami memang hebat mengawasi perbankan nasional, tdk ada skandal, tdk ada bank kolaps. institusi kami juga palingggg bresih. juga kami sangat hebat mengendalikan kurs, stabil sekarang di angka 1000 rupiha per dollar, plus kami juga mantap sekali mengendalikan inflasi, nol persen, bahkan jika BBM naik, kami yakin tetap nol persen. atau, logika ke 2. karena kebutuhan dasar hidup kami tidak terpenuhi. kasihanilah kami, tolong naikkan gaji. kami susah kredit rumah, anak2 susah sekolah, mau transport sj susah. sertakan angka kecukupan hidup layak. itu baru valid.

 

nasib, hingga kapan sy akan terus rese dengan bank sentral ini? semoga mereka menyadari kalau triliunan anggaran gaji yg mereka jadikan nafkah keluarga itu adalah uang rakyat!! dan semoga mereka semangat bekerja dengan ihklas, tulus, selalu bersyukur, bukan sebaliknya, lihatlah, institusi negara Indonesia dengan mega skandal yg berhasil memasukkan bos2nya ke penjara salah-satunya adalah Bank Indonesia. ada yg tertarik melakukan audit lebih detail di dalamnya? mungkin seru. 


*silahkan di share, repost, copy paste kemana2. request rapat tertutup oleh BI membahas soal usulan kenaikan gaji harus diimbangi dengan informasi terbuka. 


Blog EntryJan 3, '12 10:24 PM
for everyone

kmi benr2 tidk meny-ngk-, terny-t-, -n-k k-mi p-s-i, mempuny-i kes-kti-n, di- bis- meng-mbil huruf - di duni-.

ini betul2 rumit, b-g-im-n- tid-k, s--t  -n-k k-mi tersebut mel-kuk-nny-, m-k- serent-k di seluruh duni-, tid-k -d- l-gi huruf -.

 

-w-lny- or-ng2 m-sih mud-h mengerti, di kor-n, di m-j-l-h, di internet, di televisi, r-dio, perc-k-p-n, huruf - itu m-sih dit-nd-i setrip, or-ng2 m-sih bis- melih-t -d- sesu-tu yg hil-ng di s-n-, t-pi l-m-2, semu- sem-kin rumit, k-ren- huruf - itu ben-r2 hil-ng.

 

mk mulilh, nm-nm di ijsh berubh, nm2 di kte kelhirn berubh, nm di ktp, sim, identits, tidk d lgi huruf . dn itu tentu merepotkn orng2 yng puny bnyk huruf tersebut. duni berubh sertus delpn puluh derjt, semu hrus didefinisikn ulng. tidk d lgi huruf itu di mn2. lnts kenp nk kmi mengmbil huruf itu? tidk d yng thu, justeru yng dicemskn, tindkn ini tidk kn berhenti, berikutny psi jngn2 kn mengmbil huruf e.