Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryFeb 29, '12 6:50 PM
for everyone

“Kau sudah memberi nama kucingnya, Ra?” Papa bertanya, meletakkan secangkir minuman hangat ke atas meja. Kami sedang berkumpul di ruang keluarga, habis makan malam ulang tahunku, jadwal menonton keping DVD, film kartun favoritku.

“Sudah, Pa.” Aku menjawab pendek, sedang asyik bermain bersama dua ekor kucing baruku di atas karpet.

“Papa boleh tahu namanya?” Papa antusias, mendekat.

“Si Hitam dan si Putih.” Aku menjawab, tersenyum manis.

“Si Hitam atau si Putih, maksudnya?” Papa mendekat lagi, keningnya berkerut tipis, ikut melihat kucing yang naik-naik di pahaku.

“Bukan, Pa. Si Hitam dan si Putih.”

“Eh? Maksud Ra nama kucingnya ada dua? Dikasih dua nama ya, karena warna bulu kucingnya tidak bisa dibedakan hitam berbelang putih atau putih berbelang hitam?” Papa bingung.

“Bukan, Pa.” Aku menoleh, masa’ Papa nggak ngerti juga, “Ini kucingnya kan ada dua. Jadi namanya satu si Hitam satunya lagi si Putih.”

Waktu itu aku tidak terlalu mengganggap penting percakapan tersebut. Mama menyikut pelan Papa, mengedipkan mata. Papa mengangkat bahu, menoleh, menatap Mama tidak mengerti, kembali duduk di atas sofa.

“Biasa, Pa. Beberapa kanak-kanak juga begitu. Selalu punya ‘teman lain’.” Mama berbisik.

“Teman lain?” Papa ikut berbisik.

“Teman imajinasi.” Mama tersenyum simpul, “Bermain dengan imajinasi. Karena kucingnya hanya satu, biar seru, mungkin Ra menganggap ada anak kucing lain, biar ada temannya. Jadilah dia seperti punya dua kucing.”

“Kau serius?” Papa menelan ludah.

“Tentu saja. Coba Papa tanyakan ke teman kantor, tetangga, kenalan, mereka pasti bilang anak-anak kecil biasa mengalami fase itu. Tidak berbahaya, lama-lama hilang sendiri.”

“Tapi Ra kan sudah sembilan tahun, Mam?”

Mama tertawa pelan, “Bukannya kau sendiri yang bilang Ra masih bayi? Setiap malam selalu mengecup dahinya, bilang, selamat tidur bayi besarku.”

Papa tertawa, baiklah, mengangguk, meraih remote DVD player, “Kau benar, Mam. Dia masih kanak-kanak. Setidaknya dia senang sekali dengan kucing barunya. Bahkan film kartun kesayangannya pun diabaikan. Kita nonton yang lain saja. Mumpung Ra tidak akan protes.”

Malam itu, aku terlanjur senang dengan hadiah kucing di dalam kotak berwarna pink itu. Aku sedikit pun tidak memperhatikan percakapan Papa dan Mama. Dan karena sejak usiaku dua bulan, sejak bermain petak umpet itu keluarga kami terbiasa dengan hal-hal aneh, maka soal kucing itu cepat atau lambat juga dianggap biasa saja. Bahkan saat arisan keluarga dilakukan di rumah kami beberapa bulan kemudian, saat Tante berseru riang, “Aduh, sejak kapan Ra punya kucing? Kok nggak bilang-bilang sih, Ra. Cantik sekali. Kayaknya lebih cantik dibanding kucing Tante, ya.” Sebelum aku menjawab, Mama justeru memotong, bertanya balik ke Tante, “Bukannya kamu yang kirim kotak pink itu? Hadiah ulang tahun Ra enam bulan lalu?” Tante menggeleng, bingung, “Tante kan mengirimkan sweater. Lagipula kalau kucingnya secantik ini, lebih baik untuk Tante, bukan.” Lantas tertawa.

Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya mengirimkan kotak berwarna pink, beralaskan beludru dan ditutup kain sutera terbaik itu, dan tidak ada yang berusaha mencari tahu siapa yang mengirimkannya. Seiring waktu yang berjalan cepat, tidak ada yang terlalu memperhatikan saat aku bermain kejar-kejaran di taman, saling menggelitiki, basah-basahan, memberikan susu, menyiapkan makanan, bagiku, kucing itu selalu ada dua, Si Putih dan si Hitam. Aku tidak pernah merasa kucing itu hanya satu seperti yang dilihat Papa, Mama, tetangga, atau kerabat, mereka hanya tahu aku punya kucing anggota lucu.

“Ra!” Suara Mama mengagetkan, Mama sudah berdiri di depan pintu kamar. Aku menoleh.

“Aduh, berapa kali lagi Mama harus bilang. Segera ganti baju, makan siang, kita harus jalan sekarang. Kalau kesorean, nanti toko elektroniknya tidak bisa mengantar mesin cucinya hari ini. Mama juga harus masak makan malam.” Mama sepertinya terlihat marah, menatapku tidak mengerti kenapa masih mengenakan seragam sekolah, “Ayo, Mama tunggu lima belas menit di garasai, sekalian Mama membereskan garasi. Kalau Ra tidak siap-siap juga, Mama tinggal.”

“Iya, Mam.” Aku menjawab pelan.

“Dan satu lagi. Bermain kucingnya kan bisa nanti-nanti. Si Putih atau si Hitam kan bisa main sendiri. Dari tadi kucingnya digendong, dibawa kemana-mana.” Mama menunjuk kucing yang masih kugendong.

Aku menelan ludah, mengangguk.

Punggung Mama hilang dari bingkai pintu. Turun ke lantai satu menuju garasi.

Sekarang suasana hatiku benar-benar berubah. Sempurna.

Separuh hatiku sedih karena si Hitam tetap tidak berhasil kutemukan setelah hampir setengah jam memeriksa rumah—aku mulai cemas jangan-jangan si Hitam kenapa-napa, separuh hatiku lagi bingung dengan semua pemikiran baru yang berkembang di kepalaku. Bagaimana mungkin kucing itu hanya satu? Aku sendiri yang setiap hari menyusuinya dengan botol susu hingga usia beberapa bulan, memberikan piring berisi makanan, memandikannya, mengeringkan bulunya, menyisir bulunya. Mama pasti keliru.

“Kau lihat si Hitam tidak, Put?” Aku berbisik.

Kucing yang kugendong hanya mengeong pelan, mata bulatnya terlihat bercahaya seperti biasa. Manja menyundul-nyundulkan kepalanya ke lenganku.

“Sungguhan tidak lihat?” Aku mengelus kepalanya.

Kucing yang kugendong tetap mengeong pelan.

Baiklah. Aku menghela nafas. Meletakkan si Putih ke lantai, beranjak merapikan isi lemariku yang tadi kubongkar. Memasukkan kembali kotak berwarna pink yang enam tahun lalu tergeletak rapi di depan pintu rumah kami, tanpa pernah tahu siapa yang mengantarnya, hanya kosong di halaman, tidak ada kurir atau petugas yang membawa kotak itu.

Baiklah. Urusan kemana perginya si Hitam bisa kuurus setelah pulang menemani Mama ke toko elektronik. Saatnya berganti seragam, makan siang dengan cepat. Siapa tahu saat aku pulang dari toko, dua kucingku sudah bermain bersama lagi.

**bersambung


khansa24434 wrote on Feb 29
sebuah misteri (lagi)
titintitan wrote on Feb 29
kira2 kucing itu penanda apa yah?
risnandaputri wrote on Mar 1
nunggu kelanjutannya...
diandgeblek wrote on Mar 1
waiting
Add a Comment