Bumi : Episode 9
Papa baru pulang lewat pukul sepuluh. Aku yang belum tidur, meski sudah mematikan lampu dari tadi, bergegas turun saat mendengar mobil memasuki garasi, menutupkan kedua belah telapak tangan ke wajah, mengintip dari sela jemari, berdiri di anak tangga.
“Papa minta maaf, Mam.” Suara Papa terdengar lelah, menyeka rambut di dahi, “Hari ini di pabrik kacau sekali.”
“Tadi pagi Papa buru-buru berangkat ke kantor, karena jadwal pengoperasian mesin yang dibeli enam bulan lalu itu ternyata dimajukan hari ini. Pemilik perusahaan mengajak beberapa manajer senior ke pabrik, melihat seberapa baik mesin itu bekerja.” Papa menghembuskan nafas, menghempaskan badan di sofa, melepas sepatu, “Setengah jam pertama, mesin itu sepertinya tidak bermasalah, bahkan sangat prima, tapi entah kenapa, persis saat kami akan kembali ke kantor, salah-satu sabuk mesin terlepas, itu mesin pencacah raksasa, terbayang saat sabuk dengan lebar setengah meter, panjang tiga puluh meter terlempar begitu saja ke udara. Sebelas karyawan luka parah seketika, dilarikan ke rumah sakit. Belasan lain luka ringan, terkena bahan mentah yang seperti peluru ditembakkan ke segala penjuru. Rombongan dari kantor beruntung ada di box terlindung kaca, hanya dindingnya yang retak.”
“Tapi tidak ada yang meninggal, bukan?” Mama bertanya prihatin, membantu membereskan sepatu dan kaos kaki Papa.
Papa menggeleng, “Tetap saja itu kecelakaan paling serius yang pernah terjadi. Operasional pabrik terpaksa dihentikan, hingga mesin itu diperbaiki, boleh jadi hingga seminggu ke depan, dan itu otomatos berarti Papa harus berangkat pagi, pulang malam seminggu ke depan. Semua ini benar-benar seperti di luar akal sehat, itu mesin baru, teknisi bule yang memasangnya bahkan masih ada di pabrik, sabuk setebal itu putus begitu saja, seperti ada yang memotongnya dengan benda tajam.”
Mama tidak berkomentar lagi, hanya tatapan matanya yang lembut bilang, sebaiknya mandi dulu, makan malam, istirahat, semua masalah pasti bisa diselesaikan.
“Belum lagi, Mam, pemilik perusahaan marah-marah, dan Papa-lah yang paling kena batunya. Papa yang menyarankan membeli mesin itu, memeriksa speksnya, memilih vendornya, dia bahkan berteriak-teriak mengancam akan memecat siapa saja yang tidak becus. Hari ini melelahkan sekali, mengurus buruh yang terluka, juga mengurus bos besar yang mengamuk. Papa minta maaf lupa menelepon. Telepon genggam Papa ketinggalan di kantor, tidak tahu kalau Ra dan Mama sudah menelepon berkali-kali, cemas menunggu makan malam bersama.” Papa menyisir rambutnya dengan jemari. Menatap Mama merasa bersalah.
Mama tersenyum anggun, tidak masalah, ayo bergegas mandi. Pasti jadi lebih segar.
Aku yang mengintip dari balik jari tengah dan telunjuk di anak tangga menghela nafas. Kalau sudah begini, pasti urusan di kantor besok-besok akan tambah rumit. Kalau sudah begini, siapa pula yang sedang berusaha memenangkan hati pemilik perusahaan dengan konser musik? Aku beranjak naik ke lantai atas, kembali ke kamar.
“Papa sudah makan?”
“Belum sempat. Tepatnya tidak kepikiran. Mama sudah?”
“Belum. Hanya Ra yang sudah. Dia pura-pura mau pingsan bahkan sejak pukul tujuh. Anak itu semakin susah disuruh makan malam bersama.”
Suara bergurau Mama terdengar lamat-lamat, juga tawa Papa yang lelah, aku sudah pelan mendorong pintu kamarku. Menatap kamarku yang gelap, menyisakan selarik cahaya dari lampu jalanan. Hujan deras terus turun di luar. Si Putih tidur meringkuk di pojokan kasur. Jam dinding berbunyi pelan detik demi detik. Aku menghela nafas, melangkah ke ranjang sambil menatap cermin besar di meja belajar.
Eh? Bukankah itu? Aku hampir berseru kaget. Remang cahaya lebih dari cukup untuk melihat pantulan cermin, lihatlah ada si Hitam di cermin, tidur di dekat si Putih. Aku reflek menoleh ke atas ranjang. Tidak ada. Reflek kembali menoleh ke cermin. Tidak ada. Aku menelan ludah. Melangkah lebih dekat ke cermin besar yang persis ada di samping ranjangku, memastikan. Aku tidak mungkin salah lihat, aku tadi melihatnya di dalam cermin, si Hitam tidur disebelah si Putih. Ini benar-benar ganjil. Menatap lamat-lamat cermin besar, yang sekarang hanya memantulkan apa yang ada di kamar. Hanya ada si Putih dan aku—yang merapikan rambut panjangku, sambil menatap sekitar bingung.
Itu bukan hari terbaikku, setelah tadi pagi dihukum Miss Keriting menunggu di lorong kelas selama pelajarannya, bertengkar dengan si biang masalah, siangnya, pulang sekolah kucingku hilang satu, dan malam ini, barusaja aku tahu Papa punya masalah di kantor, saat ini ditambah pula aku jadi susah tidur.
Aku sudah tiduran, menutup badan dengan selimut, memeluk guling, tapi aku hanya menatap cermin di kamar. Mematut-matut, meletakkan tangan di wajah, menghilang, lantas mengintip dari sela jari, menatap cermin besar itu, berharap melihat sesuatu. Tidak ada si Hitam di sana. Suara hujan deras memenuhi langit-langit kamar, kelebat petir terlihat dari balik tirai jendela, gemeretuk guntur. Cahaya remang kamarku terlihat memantul di cermin besar. Temaram. Tidak ada apapun di sana. Aku menghela nafas kecewa, aku yakin sekali tadi melihat si Hitam di dalam cermin.
Hingga satu jam berikutnya, tetap tidak ada apapun dan siapapun di cermin besar itu.
Aku kelelahan, jatuh tertidur.
***
Pagi sekali, weker alami rumah kami, Mama, sudah berteriak-teriak membangunkan, “Ra, bangun! Papa harus berangkat pagi, ayo bangun!”
Aku menguap, menyingkap selimut. Si Putih masih malas meringkuk di ujung kakiku. Teringat percakapan orang tuaku tadi malam, bergegas loncat dari ranjang. Aku harus membantu Papa, setidaknya dengan tidak merepotkan membuatnya menungguku. Mandi dengan cepat, berganti seragam, menyiapkan tas sekolah, memastikan buku PR Matematika itu kubawa. Lantas bergabung turun.
“Pagi, Ra.” Papa menyapaku, sedang sarapan—tidak menyentuh koran pagi.
“Pagi, Pa.” Aku langsung menyeret kursi.
“Ra mau sarapan apa?”
“Nasi goreng saja, Ma.”
Mama menyendok nasi goreng di tengah meja makan.
“Bagaimana sekolah Ra kemarin?” Papa bertanya.
“Seperti biasa, Pa.”
Papa mengangguk, tidak bertanya lagi. Aku bergegas menghabiskan sarapanku. Mama sibuk membereskan peralatan masak kotor. Sarapan cepat, sepuluh menit aku sudah melangkah di belakang Papa menuju garasi, mencium tangan Mama, dan tiga puluh detik kemudian, mobil yang dikemudikan Papa meluncur ke jalan raya.
Sepanjang perjalanan Papa lebih sering menerima dan menelepon. Loudspeaker, aku bisa mendengar percakapan. Tentang buruh di rumah sakit, apakah keluarga mereka sudah datang, Papa bertanya memastikan, tentang mesin pencacah raksasa, tadi malam teknisi bule itu pulang jam berapa, Papa mengangguk mendengar jawabannya. Aku menatap keluar jendela, tidak terlalu tertarik menguping pembicaraan. Pagi ini cerah, wajah-wajah sibuk menyambut pagi disiram cahaya lembut matahari. Langit terlihat bersih, hanya sisa air hujan di ujung atap rumah, halte, pepohonan, juga genangan kecil di jalan.
“Bagaimana mesin cuci, Mama? Oke, bukan?”
“Eh?” Aku menoleh ke depan.
“Ra kemarin jadi menemani Mama ke toko elektronik?” Papa bertanya, tersenyum.
“Oh, jadi, Pa. Tapi Mama cuma beli model dan merk yang sama persis dengan yang lama, kok. Kata Mama biar sama awetnya, lima tahun.” Aku nyengir.
Papa mengangguk, “Ra hari ini pulang sore?”
Aku menggeleng, “Tidak ada les, Pa. Pertemuan klub menulis juga ditiadakan.”
Mobil hampir tiba di sekolah. Dengan kesibukan baru Papa, hanya itu percakapan kami. Tidak sempat ada momen Papa memberikan petuah saktinya—meski itu kadang tidak nyambung. Aku bersiap-siap memasang tas di punggung. Mobil merapat ke gerbang sekolah, aku memajukan kepala ke depan, “Semangat ya, Pa!”
“Eh?” Papa menoleh, tidak mengerti, “Semangat buat apa?”
“Pokoknya semangat saja!” Aku tertawa, “Semangat ya, Pa!”
Papa diam sejenak, menyelidik, akhirnya mengangguk, “Iya, Ra juga semangat ya!”
“Da, Papa.” Aku membuka pintu mobil, beranjak turun.
“Da, Ra.”
Mobil segera meninggalkan gerbang sekolah. Aku menatapnya hingga hilang dikelokan jalan.
Sejak aku sudah mengerti, aku tahu, di keluarga kami juga ada peraturan tidak tertulis—diluar peraturan Mama yang setebal novel itu. Papa tidak akan pernah membicarakan masalah kantor kepadaku. Juga Mama, tidak akan pernah membicarakan masalah apapun di luar sana kepadaku. Mereka berjanji tidak akan melibatkan Ra yang masih kecil (sekarang sudah remaja), membuat Ra ikut kepikiran, ikut cemas, mengganggu jam belajarnya. Biarkan Ra menikmati masa-masa terbaiknya, demikian penjelasan Mama yang aku tahu dari mengintip dibalik sela jemari. Biarkan masalah-masalah itu hanya ada di Mama dan Papa.
Aku berlarian kecil melewati lapangan sekolah yang masih sepi. Sepertinya aku orang pertama yang tiba di sekolah pagi ini. Menaiki anak tangga, berjalan di lorong lantai dua, masuk ke dalam kelas. Lengang. Menuju meja, meletakkan tas. Melihat sekitar yang kosong. Melangkah ke lorong depan kelas, sepertinya lebih baik menunggu teman-teman di sana, sambil menatap lapangan sekolah. Mungkin asyik menatap bangunan sekolah yang lengang.
“Pagi, Ra.” Suara khas itu membuatku menoleh.
Itu bukan suara Seli. Sejak kapan si berantakan biang masalah ini ramah menegur orang lain? Biasanya juga tidak peduli, jalan seradak-seruduk, mencari masalah. Dan sejak kapan pula dia datang sepagi ini? Bukankah biasanya dia nyaris terlambat?
“Kau tidak menjawab salamku, Ra?” Ali menatapku cengar-cengir, tidak membawa tas, sedang menepuk-nepukkan tangannya, membersihkan debu, dia seperti habis melakukan sesuatu, habis memasang sesuatu, entahlah.
“Kau sudah datang dari tadi?” Aku menyelidik.
“Setengah jam lalu. Gerbang sekolah malah masih dikunci.” Ali tertawa, “Kau belum menjawab salamku, Ra? Tidak sopan disapa baik-baik tapi malah dijawab dengan pertanyaan.”
Bodo amat, aku kembali menatap lapangan.
“Bagaimana kabar kucingmu? Sudah ketemu si Hitam?”
Aku reflek menoleh, mematung sejenak, menatap Ali tidak mengerti.
Si biang masalah itu tertawa, melambaikan tangan, melangkah masuk ke dalam kelas.
***bersambung
Bumi : Episode 10
“Eh, hei,” Aku bergegas mensejajari Ali, “Dari mana kau tahu si Hitam hilang?”
Ali nyengir, bodo amat, terus berjalan, membalas ekspresiku tadi.
“Dari mana kau tahu?” Aku menghalangi langkahnya. Sebal.
“Jawab dulu salamku yang tadi, Ra.” Ali berkata santai, “Baru kupikirkan akan memberitahu kau atau tidak.”
Aku melotot, sebal bukan kepalang. Menatap wajah Ali dengan mata galak, tidak mempan, sepertinya aku tidak punya pilihan, si biang masalah ini tidak akan mengalah hanya karena aku cewek, baiklah, “Pagi juga.”
“Ah, itu sih bukan menjawab salam. Itu orang lagi ketus, Ra.”
Ingin rasanya aku mendorong tubuh si biang masalah itu.
“Coba diulangi, nah, selamat pagi, Ra.”
Aku menelan ludah. Meremas jemari.
“Selamat pagi, Ra.” Ali mengulang salamnya, cengar-cengir, sengaja benar menunggu balasan jawabanku.
“Selamat pagi, Ali.” Aku benar-benar kalah.
“Masih belum pas, Ra. Masih kayak orang kebelet ke belakang jawab salam” Ali tertawa.
Aku hampir mendorong badannya, jengkel.
“Selamat pagi, Ra.” Mengulang salamnya, menahan tawa.
“Selamat pagi, Ali.” Kali ini aku menjawab sungguh-sungguh.
“Nah, itu baru keren. Bye, aku lapar, Ra, mau ke kantin dulu.” Si biang masalah itu justeru balik kanan, kembali ke lorong, hendak menuju anak tangga.
“Eh, hei, nanti dulu.” Aku bergegas menghalangi, “Kau sudah janji tadi, bilang dari mana kau tahu kalau kucingku hilang?”
“Siapa yang janji?” Ali memasang wajah paling bodoh sedunia—maksud dari ekspresi wajah itu sebenarnya adalah akulah yang bodoh sedunia, tidak mengerti kalimatnya, “Aku tadi hanya bilang nanti kupikirkan akan memberitahu kau atau tidak. Hanya itu.”
Aku terdiam, menggeram.
“Atau kau mau mentraktirku semangkok bubur ayam, Ra?” Ali tersenyum, mengedipkan mata, “Nanti baru kupikirkan lagi apakah akan memberitahu kau atau tidak.”
Tidak mau. Sebalku nyaris di ubun-ubun.
“Atau kau jawab dulu pertanyaanku kemarin. Kau sungguhan bisa menghilang kan, Ra? Nanti akan kuberitahu apapun pertanyaan kau, bahkan termasuk misalnya, apakah Miss Keriting itu rambutnya benar-benar keriting atau hanya wig.”
Aku berpikir sejenak, lantas menghembuskan nafas, berusaha mengempiskan rasa jengkel. Urusan ini sama seperti yang kubilang pada Seli. Percuma, tidak pantas ditanggapi. Semakin ditanggapi, si biang masalah semakin senang, dan dia semakin punya amunisi. Aku menyeka dahi, memutuskan melangkah meninggalkan Ali.
“Hei, Ra, kenapa kau malah pergi?” Ali mengangkat bahunya, bingung.
Aku masuk ke dalam kelas, tidak menoleh.
“Hei, Ra, kita ngobrol di kantin, mumpung sepi. Nanti aku beritahu darimana aku tahu kucing kau hilang. Di sana tidak akan ada yang menguping pembicaraan tentang hilang-menghilang itu.” Ali berusaha membujuk, sedikit menyesal gagal menjebakku mengaku, “Atau kau mau tahu sesuatu? Misalnya, apakah si Hitam itu sungguhan ada atau tidak? Aku bisa membantu.”
Aku sudah memutuskan tutup telinga, melangkah menuju meja. Si biang masalah itu memang jenius, serba tahu, banyak akal, tapi dia lupa satu hal, justeru karena kejeniusan dan rasa ingin tahunya itulah yang menjadi kelemahannya. Cepat atau lambat, karena rasa penasaran, dia akan mengalah, dan aku akan tahu dari mana dia bisa tahu kucingku si Hitam hilang—termasuk seruannya barusan.
“Dasar jerawatan. Segitu saja sudah marah, cewek banget.” Ali bergumam kesal, menyerah, meninggalkanku sendirian di kelas.
Apa Ali bilang? Jerawatan? Kalau saja menurutkan perasaan, sudah kutimpuk biang masalah itu dengan sepatu, sejak kapan ada yang mengumpatku jerawatan.
***
Matahari beranjak naik, langit cerah, membuat cahayanya menerabas lembut melewati kisi-kisi ruangan. Sekolah mulai ramai, teman-teman kelas satu persatu masuk, meletakkan tas. Saling sapa satu sama lain. Suara dengung percakapan, teriakan, ada yang bermain bola di lapangan, apa saja memenuhi sekolah. Seli tiba setengah jam kemudian, menyapaku, “Pagi, Ra.” Aku tersenyum, mengangguk. “Kau tidak ketinggalan buku PR Miss Keriting lagi, kan?” Seli tertawa, bertanya sambil memasukkan tas ke dalam laci meja. Aku mengangkat buku PR Matematika.
Pukul tujuh lewat lima belas menit, bel bernyanyi nyaring. Menghentikan seluruh keramaian, anak-anak bergegas masuk ke dalam kelas. Pelajaran pertama hari ini akan segera dimulai.
Seperti biasa, ketukan suara sepatu Miss Keriting terdengar di lorong, jauh sebelum dia tiba di kelas. Hari ini dia mengenakan kemeja cokelat lengan panjang, celana kain senada, sepatu hitam. Cocok dengan wajahnya yang penuh disiplin. Rambut keritingnya terlihat rapi. Eh, apakah itu asli atau wig? Aku buru-buru mengusir pertanyaan dalam hati saat melihat rambut Miss Keriting—ini pasti gara-gara Ali barusan, semua yang keluar dari mulutnya memancing rasa penasaran.
“Selamat pagi, anak-anak.”
“Pagi, Bu.” Kami kompak menjawab.
“Keluarkan buku PR kalian.” Itu selalu kalimat standar pembuka Miss Keriting. Dia tidak merasa perlu mengabsen kami, cukup mengabsen buku PR.
Anak-anak bergegas mengeluarkan buku PR dari dalam tas. Dan rasa sebalku dibilang jerawatan oleh biang masalah itu mendapat balasan. Lihatlah, Ali lagi-lagi tidak mengerjakan PR. Tepatnya dia mengerjakan, hanya saja salah halaman. “Brilian sekali, Ali. Ibu suruh kerjakan halaman 50, kau malah mengerjakan halaman 40. Sebagai informasi, Ali, itu PR kita minggu lalu. Makanya lubang telinga kau yang besar itu harus sering-sering dibersihkan.”
Teman-teman sekelas tertawa. Satu-dua menepuk ujung meja. Seli menyikutku, memasang wajah senang (yang jahat). Kami menatap Ali meninggalkan kelas, dia menggaruk rambutnya yang berantakan, melangkah menuju bingkai pintu. Aku menatap punggung Ali, menilik raut wajahnya, sepertinya biang masalah itu tidak merasa malu atau keberatan diusir dari kelas pagi ini, malah senang.
Pelajaran Matematika yang selalu terasa lebih panjang dari biasanya dimulai. Satu jam berlalu, tiga-empat orang teman menguap memperhatikan seliweran rumus di papan tulis, mulai gelisah, seperti duduk di bangku panas. Miss Keriting sebenarnya guru yang baik, dia menjelaskan dengan terang dan sistematis. Dua jam berlalu, separuh teman menyusul menguap, mengeluh tidak mengerti, konsentrasi berkurang cepat, meskipun Miss Keriting berusaha bergurau di tengah pelajaran, intermezzo. Akhirnya bel istirahat pertama berbunyi nyaring menyelamatkan sisa teman yang belum menguap. Dengung riang memenuhi langit-langit kelas, meski bungkam sejenak saat Miss Keriting berseru minggu depan ulangan sumatif. Tidak apalah, setidaknya masih minggu depan penderitaan ulangan itu.
“Temani aku ke kantin, Ra.” Seli memegang lenganku. Isi kelas tinggal separuh.
“Aku tidak lapar.” Aku menggeleng malas.
“Ayolah, aku traktir makan bakso lagi.” Seli mengedipkan mata.
Aku nyengir, bukan soal ditraktir atau tidaknya. Aku lagi malas kemana-mana, lebih suka duduk di kelas. Tapi Seli berhasil membujukku, isi kelas dengan segera kosong, teman-teman memilih melemaskan badan di luar setelah sepagian menatap rumus Matematika, menyisakan satu anak di kelas, dan itu adalah Ali. Dia justeru melangkah masuk ke kelas, menepuk-nepukkan tangannya, membersihkan debu, lagi-lagi seperti habis memasang sesuatu. Naga-naganya Ali akan tinggal di kelas, dia bahkan melirik mejaku, baiklah, lebih baik aku ikut Seli ke kantin.
Letak kantin ada di belakang sekolah, bangunan tersendiri, persis di sebelah parkiran motor, dan bangunan gardu listrik dengan tiang-tiang tinggi. Aku dan Seli berjalan cepat menuruni anak tangga, melintasi lorong bawah, sesekali menyapa dan di sapa teman yang lain. Kantin tidak seramai kemarin, tapi tetap tidak mudah memperoleh meja kosong.
“Jangan di sana, Ra.” Seli mendadak menahan lenganku.
Eh, bukannya mau makan bakso? Aku menatap Seli tidak mengerti.
“Ada kakak kelas geng cheerleaders kemarin. Yang kau timpuk kepalanya.” Seli menarik tanganku, berbisik jerih, ngacir, “Kita makan batagor saja, ya.”
Aku tertawa, menatap kerumunan kakak kelas itu, boleh jadi juga mereka sudah lupa, kan. Seli menggeleng tegas, tidak mau. Baiklah, aku mengikuti punggung Seli.
Lima menit menunggu, dua piring penuh batagor terhidang.
“Kau tidak sempat sarapan di rumah, Sel?” Aku menatap Seli yang antusias meraih sendok.
“Sarapan, kok. Selalu.” Seli menyendok dua potong batagor sekaligus, “Lapar saja. Pelajaran Miss Keriting itu menghabiskan banyak kalori, Ra.”
Aku tertawa, mengangguk setuju, meraih piringku.
“Kau tahu tidak, rambut Miss Keriting itu asli keriting atau bohongan?” Aku asal comot ide percakapan, tiga menit setelah diam—karena Seli asyik sekali dengan batagornya.
“Eh?” Dahi Seli terlipat, “Asli, kan? Memangnya wig, Ra?”
Aku mengangkat bahu, aku juga bertanya. Penasaran gara-gara si biang masalah itu bilang tadi pagi. Dua gelas es jeruk dikirimkan ke meja kami. Seli ber-hah kepedasan, bilang terima kasih.
“Kau sekarang jerawatan ya, Ra?” Seli menyelidik, menatap jidatku, sambil meneguk sepertiga isi gelasnya.
Eh? Aku reflek menyentuh jidat yang ditatap Seli. Jadi ingat lagi tadi pagi diumpat Ali, ‘dasar jerawatan’. Benar, ternyata di jidatku ada benjol kecil. Mengangkat gelas, melihat bayangan jerawat di jidat. Aku mengeluh.
Sebenarnya aku tidak jerawatan, jerawat seperti ini selalu saja muncul kalau aku lagi banyak mikir. Sepertinya, memikirkan kejadian kucingku si Hitam hilang, masalah kantor Papa tadi semalaman sukses membuatku berjerawat. Merekah seperti jamur di pagi penghujan.
“Itu bakal jadi jerawat besar loh, Ra.” Seli menyibak tanganku.
Aku memegang-megangnya, memang terasa besar.
“Jangan dipegang, Ra. Nanti tambah besar. Apalagi sampai pecah sembarangan, kau pencet-pencet. Bisa beranak-pinak, jadi tambah banyak. Horor, Ra.” Wajah Seli serius sekali—sudah seperti wajah dokter spesialis kulit & kecantikan para boyband korea yang digemarinya.
Aku melotot, bukannya menghibur temannya yang jerawatan, Seli malah nakut-nakutin. Apa mau dikata, usiaku masih lima belas tahun, dan seperti kebanyakan remaja seumuranku, jerawat satu saja bisa bikin rusak suasana hati. Aku akhirnya hanya mampu menghabiskan separuh porsi batagorku, mood makanku hilang, apalagi ditambah mengingat umpatan Ali. Seli menawarkan diri menghabiskan batagorku. Tuntas satu menit, aku mengajak Seli kembali ke kelas, menunggu bel masuk yang tinggal beberapa menit lagi di sana saja.
“Lusa kantinnya tutup loh, Neng. Sudah tahu?” Mamang batagor basa-basi mengajak bicara, sambil mencari kembalian dari sakunya.
“Tutup? Kok tidak ada pengumuman jauh-jauh hari?” Seli yang selalu berkepentingan dengan kantin bertanya memastikan.
“Mendadak, Neng. Itu gardu listrik dekat kantin mau diperbaiki, karena kantin ini dekat dari gardu, jadi diminta ditutup sama petugasnya. Tadi baru saja petugas PLN-nya bilang. Hanya tutup tiga hari. Eh, nggak ada kembaliannya ini. Gimana?”
“Ya sudah, sekalian buat bayar Mamang bakso, kemarin saya beli dua mangkok, tolong dibayarakan, ya, juga dengan es jeruk.” Seli gesit punya ide lain—melirik meja dekat gerobak bakso yang masih diisi geng cheerleaders. Mamang batagornya mengangguk, sudah biasa pola pembayaran ‘canggih’ seperti ini di kantin.
Sisa pelajaran hari ini lebih santai, teman-teman lebih banyak tertawa mengikuti pelajaran Sejarah. Gurunya kocak, meski sudah beruban, sepuh, hampir pensiun. Mister Rosihan lebih banyak mengajar dari pengalamannya dibanding buku teks yang kami pegang, membawa kliping-kliping koran ke dalam kelas yang tebalnya membuat kami semakin respek padanya. Menurut bisik-bisik Seli, Mister Rosihan bahkan kenal dengan beberapa tokoh nasional dalam buku sejarah kami.
Lewat istirahat kedua, jam pelajaran terakhir adalah Bahasa Inggris. Mister Theo, guru yang tampan dan pintar berbahasa Inggris itu (lima tahun pernah tinggal di London), menyuruh kami bermain drama, praktek conversation. Seli—yang fans berat dengan Mister Theo, terlihat menyungging senyum sepanjang pelajaran. Lebih banyak memperhatikan wajah Mister Theo lantas mengangguk sok paham, dibanding menyimak penjelasan. Dua kali Seli salah paham, sok siap maju ke depan kelas padahal belum dipanggil. Teman sekelas ramai tertawa, Seli hanya cemberut kembali ke bangku.
Aku juga suka dengan pelajaran ini, juga pelajaran Sejarah sebelumnya, tapi jerawat sialan di jidat membuatku tidak konsen. Meski Seli sejak dari kantin berkali-kali menyikut, berbisik, “Jangan dipegang-pegang, Ra. Nanti menular ke pipi, dagu, hidung, kemana-mana.” Aku tetap saja reflek memegang jerawat itu. Rasanya ingin kupencet kencang-kencang. Ini situasi yang menyebalkan, belum lagi aku satu kelompok dengan Ali mementaskan drama itu. Si biang masalah itu berkali-kali sengaja menunjuk jidatku dengan ujung bibirnya.
Bel pulang berbunyi nyaring. Mister Theo menutup pelajaran dengan mengajak kami bertepuk-tangan, apresiasi atas pentas drama amatiran di depan kelas barusan. Teman-teman bergegas membereskan buku dan tas. Aku melangkah malas kembali ke meja. Hari yang buruk, sekali lagi reflek menyentuh jerawat besar di jidat, mengeluh dalam hati, jangan-jangan dua-tiga hari ke depan aku akan terus berurusan dengan jerawat ini—hingga kempes dan hilang sendiri.
Aku sama sekali belum menyadari, justeru gara-gara jerawat batu inilah terjadi sesuatu yang mencengangkan beberapa jam ke depan.
**bersambung